Traditional Games Returns

Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar!

Peringatan Hari Anak Sedunia: Apakah Anak Indonesia Sehat Secara Mental?

Rabu, 20 Nopember 2019 ~ Oleh Traditional Games Returns ~ Dilihat 234 Kali

Halo Sobat TGR! Apakah sobat TGR tahu, tanggal 20 November 1989 diperingati sebagai hari ketika banyak negara menandatangani kovensi hak anak di PBB? Indonesia juga salah satu negara yang menyetujui hak anak tersebut pada tahun 1990. Hak anak meliputi hak-hak agar anak dapat tumbuh dengan sehat, memperoleh pendidikan, dilindungi, didengar dan diperlakukan dengan adil. Tapi, setelah 29 tahun penyetujuan hak anak tersebut, apakah semua anak di Indonesia telah memperoleh haknya?

(Dokumentasi TGR Campaign, 2019)

 

Kesehatan Mental Anak-Anak di Indonesia

Karena kesehatan merupakan salah satu fokus dari hak anak, maka perlu untuk memperhatikan kesehatan fisik maupun mental anak Indonesia. Pemerintah perlu memastikan bahwa anak bisa bertahan hidup dan tumbuh dengan sehat. Jika sakit secara fisik, anak bisa melapor pada orang tua dan dibawa ke dokter, sakit pun akan hilang dengan minum obat sesuai resep. Namun, jika sakit secara mental, sulit untuk melapor dan mengidentifikasinya, belum lagi sakit secara mental membutuhkan waktu yang relatif lama supaya sembuh.

(Dokumentasi TGR Campaign, 2019)

 

Kabar buruknya, saat ini banyak anak Indonesia mengalaminya. Bahkan yang sekarang sedang ramai dibicarakan, sejumlah anak sampai harus dirawat di rumah sakit jiwa akibat kecanduan gadget/gawai. Memainkan gawai yang berlebihan akan memberikan dampak buruk yang mirip dengan dampak psikologis pecandu narkoba (Widjaksono, 2019). Bahkan menurut data, setiap minggunya dua anak didaftarkan ke rumah sakit jiwa akibat kecanduan gawai (Rahmawati, 2019). Hal ini memperlihatkan bahwa orang tua, pemerintah dan anak Indonesia sendiri masih belum mengenal dan merawat kesehatan mental mereka.

 

Jadi, apa yang bisa dilakukan?

Untuk memberikan pengetahuan dan kesadaran akan kesehatan mental, pemerintah perlu memberikan pendidikan mengenai kesehatan mental baik kepada orang tua dan anak. Sehingga nantinya anak dapat memahami perasaan dan pikiran mereka, orang tua dan masyarakat juga dapat lebih terbuka serta suportif dalam menanggulangi masalah ini.

(Dokumentasi TGR Campaign, 2019)

 

Kemudian, untuk mengurangi kecanduan gawai, pengenalan akan opsi lain dari sumber hiburan juga perlu dilakukan. Permainan tradisional salah satunya, selain mengenalkan anak akan kebudayaan asli Indonesia, anak juga akan tetap terhibur dan terhindar dari kecanduan  gawai. Hal ini sejalan dengan misi dari PBB mengenai hak anak, yaitu untuk beristirahat dan bermain, serta mengikuti kegiatan budaya dan kesenian daerah.

Jadi, untuk mewujudkan pemenuhan hak anak, ayo kita kenali kesehatan mental kita dan Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar! (JSK/ed.AW)

 

Referensi:

Widjaksono, A. (2019, October 28). Anak korban gawai, mirip pecandu narkoba. Edukasi Kompas. Diunduh dari https://edukasi.kompas.com/read/2019/10/28/12323291/anak-korban-gawai-mirip-pecandu-narkoba?page=all.

Rahmawati, N. (2019, October 17). RSJ solo tangani anak kecanduan gawai tiap Hari. Gatra. Diunduh dari https://www.gatra.com/detail/news/451571/kesehatan/rsj-solo-tangani-anak-kecanduan-gawai-tiap-hari

Kesehatan Mental Permainan Tradisional Tgr Parenting
Komentari Tulisan