Traditional Games Returns

Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar!

Serba-Serbi DKI Jakarta: Sejarah, RPTRA, dan Permainan Tradisional

Kamis, 22 Juni 2023 ~ Oleh Traditional Games Returns ~ Dilihat 1036 Kali

Hai Sobat TGR, apakah kalian tahu hari ini? Yap, tepat pada tanggal 22 Juni diperingati sebagai Hari Jadi DKI Jakarta. Wah, tidak terasa ibukota Indonesia sudah genap berusia 496 tahun. Sobat TGR sudah tahu belum, peristiwa yang melatarbelakangi terbentuknya Kota Jakarta? Apa saja sih permainan tradisional yang ada di Jakarta itu? Nah, tepat banget nih, kali ini TGR akan membahas serba-serbi Jakarta ramah anak spesial di Hari Jadi DKI Jakarta. Lima hal berikut yang harus kamu ketahui tentang DKI Jakarta:

(Dokumentasi TGR Community, 2023)

 

1. Sejarah DKI Jakarta

Ibu Kota Jakarta sebelum menjadi kota metropolitan seperti sekarang, dahulu beberapa kali mengalami perubahan nama wilayah. Sejarah Jakarta dimulai sebagai sebuah kota pelabuhan yang dikenal dengan nama Sunda Kelapa, yang pada saat itu berada di wilayah yang dikuasai oleh Kerajaan Hindu Pajajaran. Pada masa itu, terjadi konflik dengan Fatahillah. Konflik berlangsung hingga akhirnya Sunda Kelapa jatuh ke tangan Fatahillah dan langsung mengubah namanya menjadi Jayakarta.

Pada masa itu, Jayakarta menjadi tempat berkumpulnya kapal-kapal dagang dari berbagai negara untuk bertukar komoditas. Pada tahun 1619, Jayakarta menjadi pusat kekuasaan bangsa Belanda di Indonesia setelah kantor serikat dagang VOC dipindahkan ke sana. Di bawah pemerintahan Jan Pieterszoon Coen, Jayakarta mengalami perubahan nama menjadi Batavia. Masa kepemimpinan Belanda di wilayah Batavia ini cukup lama sekitar tiga abad dari 1619-1942. Pada tahun 1942, Belanda dikalahkan oleh Jepang yang berhasil merebut kekuasaan dan mengusulkan sebuah nama baru, yaitu Djakarta Tokubetsu Shi yang berasal dari bahasa Jepang dengan arti 'Jauhkan Perbedaan'. Akan tetapi, masa kepemimpinan ini tidak berlangsung lama karena pada tahun 1945 Jepang menyerah pada sekutu.

Setelah itu, pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia mulai menyatakan kemerdekaannya, dan kota ini berganti nama menjadi ibu kota Republik Indonesia. Menteri Penerangan Republik Indonesia Serikat, Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu, mengumumkan bahwa sejak tanggal 30 Desember 1949, tidak lagi digunakan nama Batavia. Ibu kota Republik Indonesia ini kemudian diberi nama baru, yaitu Jakarta, dan tidak lagi menggunakan nama Djakarta. Pada tanggal 22 Juni 1956, penggunaan nama Jakarta secara resmi ditegaskan, dan kota ini dipimpin oleh Gubernur pertamanya, Soemarno Sosroatmodjo. Tanggal 22 Juni kemudian ditetapkan sebagai hari ulang tahun Kota Jakarta. Selain itu, Monumen Fatahillah menjadi simbol bahwa pada masa tersebut berhasil mengusir bangsa Portugis dari Sunda Kelapa.

 

(Dokumentasi TGR Community, 2023)

 

  1. Ruang Publik Terpadu Ramah Anak

Ruang Publik Terpadu Ramah Anak atau biasa disingkat sebagai RPTRA merupakan salah satu jenis ruang publik yang biasanya berupa taman terbuka untuk umum, taman hijau, sarana wahana permainan dan tumbuh kembang anak, serta sarana bagi untuk kegiatan sosial lainnya. Adapun tujuan dari RPTRA berdasarkan Peraturan Gubernur DKI Jakarta, Nomor 196 Tahun 2015 adalah untuk membantu warga sekitar khususnya perempuan dan anak yang tinggal di wilayah padat penduduk. Uniknya, RPTRA ini hanya ada di wilayah DKI Jakarta lho, sobat TGR. Nah, di tempat inilah biasa TGR Community melakukan event-event bermanfaat untuk anak-anak terutama misi mengenalkan permainan tradisional yang tentunya ramah anak.

RPTRA selain dirancang ramah anak juga ramah terhadap disabilitas dan tentunya sangat aman karena dilengkapi dengan CCTV sehingga sobat TGR tidak perlu khawatir terhadap keamanan dan kenyamanan anak-anak. Pemprov DKI Jakarta sejak tahun 2018 sudah mendirikan sebanyak 296 RPTRA yang tersebar di setiap kecamatan, wow sangat keren ya.

 

  1. Permainan Tanpa Alat Asli Betawi

Salah satu permainan tradisional dari DKI Jakarta yang populer dikalangan anak-anak adalah ular naga. Dahulu, permainan tersebut terkenal dengan sebutan Wak-Wak Gung. Permainan ini biasanya dimainkan oleh anak-anak perempuan dengan jumlah pemain maksimal 20 orang.

Permainan ini terdiri dari dua orang penjaga yang saling berhadapan dan saling berpegangan tangan yang kemudian diangkat ke atas membentuk menyerupai sebuah terowongan yang nantinya akan dilewati oleh pemain lain. Setelah itu, pemain lain kemudian berbaris memanjang, sambil berpegangan tangan pada pundak pemain lain yang berada di depannya. Dua pemain penjaga itu kerap disebut “induk ayam” atau biasa juga disebut "bulan atau matahari". Para pemain lain yang telah berbaris akan mulai berjalan memutar, melewati terowongan yang telah dibuat oleh kedua penjaga. Ketika berjalan memasuki terowongan tersebut, para pemain akan menyanyikan sebuah syair seperti berikut:  

Wak wak gung, nasinye nasi jagung

Lalapnye daon utan, sarang gaok di pohon jagung

Gang…ging…gung, tam-tambuku

Seleret daon delime, pato klembing pate paku

Tarik belimbing tangkep satu

Pit ala’ipit, kuda lari kejepit-sipit

  

(Dokumentasi TGR Community, 2023)

Sesaat setelah nyanyian selesai, tangan para penjaga akan turun dan menangkap pemain yang terperangkap tersebut. Kemudian, penjaga akan bertanya kepada pemain tersebut untuk memilih secara sukarela: “Pilih bulan atau matahari?” Setelah memilih, maka pemain tersebut akan berdiri di belakang salah satu penjaga. Demikian seterusnya hingga tidak ada lagi pemain yang mengitari terowongan. Selanjutnya, kedua penjaga akan berdiri berjajar dan saling berpegangan dengan menggunakan satu tangan. Mirip dengan permainan tarik tambang, kedua regu yang telah berbaris di kedua sisi kemudian saling tarik menarik hingga salah satunya melewati garis batas yang telah ditentukan. Apabila regu lain dapat menarik regu lawan melewati garis batas dinyatakan sebagai pemenangnya. Sobat TGR bisa memainkan permainan ini bersama teman-teman sebagai salah satu bentuk perayaan Hari Jadi DKI Jakarta.



  1. Permainan Dengan Alat Asli Betawi 

Nah, permainan satu ini juga sangat populer baik dikalangan anak-anak maupun orang dewasa, yaitu jangkungan. Permainan ini menggunakan dua batang bambu dengan panjang yang bervariasi. Di bagian bawah kedua batang bambu itu dipasakkan sebilah kayu atau bambu sebagai tempat pijakan kaki dengan jarak pijakan dari tanah berkisar 30 cm atau 40 cm.

Cara memainkannya, kedua bambu dipegang oleh masing-masing tangan pemain dalam posisi lurus menyentuh permukaan tanah. Setelah itu, mulailah memijakkan bilah kayu atau bambu tersebut baik menggunakan kaki kiri ataupun kanan. Setelah dirasa seimbang, kaki lain mulai dipijakkan juga. Setelah dirasa kuat dan seimbang, barulah melangkah seperti biasa, dengan masing-masing tangan sambil memegang bambu jangkungan.

Dilansir dari dinaskebudayaan.jakarta.go.id yang mengutip Permainan Tradisional Anak Indonesia karya Sri Mulyani (2013), bahwa permainan jangkungan diawali dari sebuah peristiwa orang yang sedang memetik buah mangga di kebuh akan tetapi buahnya hilang. Menurut kepercayaan setempat, terdapat makhluk lain yang mengambil buah tersebut dan disebut setan longga-longga yang tingginya mencapai 3 meter. Konon, pada zaman itu, masyarakat mengusirnya dengan membuat jangkungan setinggi makhluk tersebut.


(Dokumentasi TGR Community, 2023)

 

  1. Kesenian Khas Jakarta

Salah satu kesenian dari DKI Jakarta yang masih populer di kalangan anak remaja adalah pencak silat. Aliran Silat Sabeni adalah Seni Maen Pukulan (Pencak Silat) yang diturunkan oleh Pendekar Sabeni yang berasal dari Betawi. Pada awalnya, penyebaran silat tradisional aliran Sabeni terbatas karena bersifat internal keluarga. Namun, seiring perubahan zaman dan kebutuhan untuk melestarikan budaya, silat tradisional asli Betawi ini akhirnya mulai diajarkan di luar keluarga. Fokus utama dari penyebarannya adalah pada anak-anak muda di daerah Tanah Abang.

Jurus-jurus dalam aliran silat Sabeni terkenal karena kecepatan dan efektivitasnya. Salah satu karakteristik yang mencolok adalah permainannya yang rapat dan gerakan tangan yang sangat cepat. Jika dianalisis lebih lanjut, aliran Silat Sabeni fokus pada serangan dan tidak melibatkan unsur tarian atau hiburan. Hal ini berbeda dengan aliran silat tradisional Betawi lainnya yang dapat digunakan untuk tarian atau ngibing. Nah, kesenian ini cocok untuk anak-anak selain untuk melestarikan kebudayaan DKI Jakarta tetapi juga dijadikan sebagai alat untuk pertahanan diri apabila ada serangan ataupun gangguan dari orang lain. Akan tetapi, Sobat TGR harus bijak ya dalam penggunaannya, jangan sampai mencelakakan orang yang tidak bersalah.

 

Nah, itulah tadi beberapa hal yang harus kamu ketahui tentang DKI Jakarta, Kota Metropolitan sekaligus Ibu Kota dari Negara kita, Indonesia. Selain beberapa hal menarik di atas, masih banyak lagi lho yang harus sobat TGR ketahui. Jangan lupa juga untuk terus melestarikan  dan menjaga kebudayaan DKI Jakarta dan seluruh Indonesia. Selama Ulang Tahun untuk DKI Jakarta! Terima kasih atas kontribusi dalam memajukan negara kita dan memberikan tempat bagi jutaan orang untuk tumbuh dan berkembang. Semoga terus menjadi kota yang dinamis, ramah, dan berdaya, memberikan kehidupan yang baik bagi semua penduduk. Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar! (SAL/ed.SF)

 

Referensi:

Andiansyah dan Bayquni, 2022, Peran RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) dalam Upaya Pemberdayaan Masyarakat di Kelurahan Bintaro Jakarta Selatan, Jurnal Ilmiah Administrasi dan Kebijakan Publik, 8(1): 28-40. diakses melalui https://journal.moestopo.ac.id/index.php/publika/article/view/2107/pdf

Kemdikbud, 2019, Silat Sabeni Tenabang, diakses melalui https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&detailTetap=1168

Dinas Kebudayaan Jakarta, 2022, Mengenali Permainan Traidisional Khas Anak-Anak Betawi, diakses melalui https://dinaskebudayaan.jakarta.go.id/disbuddki/news/2022/04/mengenali-permainan-tradisional-khas-anak-anak-betawi

Maulana, A., 2022, Sejarah Singkat Kota Jakarta yang Bermula dari Sunda Kelapa, diakses melalui https://www.google.com/amp/s/www.cnnindonesia.com/nasional/20220620174224-31-811264/sejarah-singkat-kota-jakarta-yang-bermula-dari-sunda-kelapa/amp

Permainan Tradisional Hut Dki Jakarta Hut Jakarta Rptra
Komentari Tulisan