Traditional Games Returns

Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar!

Stop Pekerja Anak!

Sabtu, 22 Juni 2019 ~ Oleh Syarifatul Adibah ~ Dilihat 543 Kali

Tak banyak yang tahu Rabu 12 Juni diperingati sebagai Hari Anti Pekerja Anak Internasional, situasi banyaknya pekerja anak menjadi tamparan bagi wajah internasional terhadap pelanggaran hak-hak anak menjadi penghalang untuk mencapai tujuan pembangunan nasional dan internasional. Bekerja membuat hak pendidikan, bermain dan interaksi dengan teman tidak terpenuhi. Yang paling pahit dari operasional pekerja anak ini, durasi kerja anak dengan upah yang diterima tidak seimbang dan cenderung merugikan sehingga menimbulkan eksploitasi. Upah yang diberikan kepada pekerja anak jumlahnya setengah dari pekerja dewasa, sedangkan durasi kerjanya kerap diatas rata-rata, ditambah ketiadaan tunjangan serta jaminan kesehatan dan keselamatan kerja yang diberikan pada pekerja anak.

 

Anak-anak masuk ke dalam berbagai industri perekonomian dunia, mulai dari perikanan, perhutanan, perkebunan, pabrik, prostitusi dan industri garmen bagi brand-brand fast fashion untuk memenuhi target pasokan busana ke berbagai belahan negara dalam waktu yg singkat dengan biaya produksi yang rendah. Pekerja anak tumbuh subur di negara-negara sub Sahara seperti Afrika, Ghana, Burkina faso, Pantai gading, negara Asia seperti Bangladesh, Myanmar, Kamboja, Indonesia, dan paling besar India. Pada keluarga pedesaan di Nepal dan Pakistan sengaja mengirimkan anaknya menjadi asisten rumah tangga untuk membayar hutang orangtuanya. Di Haiti, anak-anak menjadi pekerja domestik dimana kondisinya hanya sedikit lebih baik dari perbudakan. Anak-anak dari Etiopia dikirim ke Timur Tengah untuk menjadi asisten rumah tangga, dan di India zanak-anak dipekerjakan pada industri garmen dan tekstil bahkan mengerjakan aktifitas pertukangan.

 

Menurut Understanding Childerns Work (UCW) menyebutkan, 2 dari 5 pemuda Indonesia tidak sekolah/bekerja, dan 1 dari 3 pekerja anak hanya memiliki pendidikan dasar. Banyak keluarga yang mengandalkan anak-anaknya untuk dapat menyambung hidup. Masih sangat minim kesadaran baik dari orangtua maupun pemerintah terhadap ketidak adilan ini. Salah satu upaya memecah rantai kemiskinan dan belenggu eksploitasi pada pekerja anak adalah ditanamkannya pendidikan yang baik untuk kedepannya dapat melahirkan prospek pekerjaan yg lebih layak. Sedangkan yang bisa kita lakukan untuk memutus tali eksploitasi pekerja anak adalah dengan mendukung berbagai gerakan organisasi penghentian eksploitasi pekerja anak, dan menjadi konsumen yang kritis dengan mampu memilah dan memilih produk dengan logo Fair Trade yang mendukung anti eksploitasi pada pegawainya.

 

Anak-anak adalah bakal penerus sebuah bangsa, butuh perlindungan khusus dan diperjuangkan haknya. Mari dukung dan berpartisipasi dalam upaya kecil pembebasan anak dari eksploitasi, perhatikan tumbuh kembang fisik dan psikis anak dari hal paling kecil disekitarmu. Jangan biarkan mereka menjadi korban kapitalis industri dunia.

 

Selamat Hari Anti Pekerja Anak Internasional anak Indonesia! ????

Komentari Tulisan