Halo, Sobat TGR! Ketika seorang anak bertumbuh dan berkembang, orang tua memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian anak, terutama seperti apa pola asuh yang diberikan pada mereka. Pola asuh dapat diartikan sebagai cara orang tua dalam mendidik, membimbing, dan memperlakukan anak untuk membentuk karakternya.
Pola asuh yang diterapkan setiap orang tua tentunya berbeda-beda sesuai dengan latar belakang keluarga, budaya, dan pendidikan yang tidak sama. Berbicara tentang pendidikan, keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak lho Sobat TGR! Orang tua sebagai “guru” bagi anak-anak mereka untuk mempelajari hal-hal dasar, serta lingkungannya.
Seorang psikiater asal Singapura, Dr. Alvin Liew mengungkapkan bahwa, umumnya, ada empat gaya pengasuhan: otoritatif, otoriter, permisif, dan neglectful (lalai/terlepas). Keempat jenis tersebut dibedakan berdasarkan cara penerapan pola asuh serta dampak yang dihasilkan pada anak.
Kira-kira apa saja sih perbedaannya, lalu kira-kira apa mana yang benar? Daripada penasaran, yuk simak penjelasan berikut ini!
Pola asuh yang pertama, adalah pola asuh otoritatif yang diterapkan dengan cara membangun komunikasi dua arah antara orang tua dan anak. Pola asuh ini diyakini sebagai pola asuh yang paling ideal karena adanya kesepakatan antara tujuan dan batasan, baik sebagai orang tua maupun anak.
Oleh karena itu, pola asuh ini memiliki nama lain yaitu pola asuh demokratis. Pola asuh jenis ini memiliki dampak yang baik pada perkembangan karakter anak, seperti kemampuan komunikasi anak yang baik, menumbuhkan rasa percaya diri dan mandiri pada anak, serta kebahagiaan anak secara psikologis.
Ilustrasi Pola Asuh Otoritatif
Pola asuh permisif adalah pola asuh yang mengutamakan keinginan anak. Pada pola asuh ini, orang tua cenderung mengikuti keinginan anak, sehingga anak tidak mendapatkan aturan yang ketat maupun hukuman. Dengan kata lain, pola asuh permisif dapat dikatakan sebagai pola asuh yang memanjakan anak.
Pola asuh ini dapat membentuk cara berpikir kreatif pada anak, dikarenakan kebebasan yang sering kali diberikan oleh orang tua. Namun, dalam jangka panjang bisa berakibat pada kurangnya kemandirian anak, mengingat orang tua yang selalu mengikuti dan memenuhi kemauan sang anak.
Pola asuh neglectful merupakan pola asuh dengan ciri orang tua yang cenderung acuh atau abai dimana orang tua cenderung tidak terlibat dalam kehidupan anak. Pola asuh ini juga ditandai dengan tidak adanya aturan maupun batasan dalam keseharian anak.
Berbagai latar belakang bisa menjadi dasar diterapkannya pola asuh neglectful. Misalnya pada orang tua yang terlalu sibuk bekerja atau masalah pribadi lainnya seperti masalah ekonomi dan kesehatan mental. Pola asuh ini bisa berdampak pada karakter anak yang acuh, kurang percaya diri, juga sulit bersosialisasi.
Ilustrasi Pola Asuh Neglectful
Pola asuh otoriter merupakan pola asuh yang menerapkan orang tua sebagai penguasa tertinggi. Artinya, pada pola asuh ini, orang tua cenderung memiliki kuasa dan kontrol tinggi terhadap anak. Karakteristik pada pola asuh ini terletak pada kebiasaan orang tua menerapkan sistem hukuman apabila anak tidak sesuai dengan aturan atau keinginan orang tua.
Terdapat dampak positif yang dapat dilihat pada pola asuh ini, pola asuh otoriter dapat memberikan pemahaman pada anak tentang betapa pentingnya mematuhi aturan. Dengan orang tua bersikap tegas, anak akan cenderung merasa takut jika melanggar aturan yang dibuat.
Walau begitu, pola asuh ini juga dinilai memberikan dampak negatif bagi mental anak. Anak akan cenderung hilang rasa percaya diri, seringkali merasa takut salah, dan rentan memiliki masalah mental.
Ilustrasi Pola Asuh Otoriter
Tentunya, setiap pola asuh memiliki kelebihan dan kekurangan, demikian pula pada pendekatan yang digunakan. Beberapa psikolog mengaitkan tipe pola asuh otoritatif dengan kemampuan akademik dan sosial anak yang lebih baik. Berkebalikan dengan pola asuh otoriter yang justru dapat berdampak pada kemampuan sosial anak yang kurang baik.
Keinginan seseorang untuk mendapatkan pengakuan juga dirasakan oleh anak-anak. Oleh sebab itu anak-anak akan cenderung berperilaku sebagaimana lingkungannya. Penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro mengungkapkan bahwa penerapan hukuman yang berat pada pola asuh otoriter dapat menyebabkan anak menjadi agresif akibat emosi yang tidak disampaikan dengan baik.
Rasa tidak puas dan amarah dari orang tua apabila anak tidak sesuai dengan keinginannya juga kerap kali terjadi pada pola asuh otoriter. Selain bisa melukai hati anak, ternyata banyak dampak lainnya yang mungkin terjadi. Berikut merupakan dampak lain dari pola asuh otoriter:
Percaya diri merupakan sikap yang harus dimiliki anak agar yakin bahwa ia mampu menghadapi tantangan dengan kemampuannya. Oleh karena itu, dukungan dan kepercayaan orang tua merupakan motivasi anak untuk terus berkembang dan menjadi pribadi yang lebih baik. Pujian, apresiasi, serta dorongan positif akan membantu anak menjadi lebih percaya diri dan berpikir positif bahwa ia mampu mencapai keberhasilan.
Biasanya, pada pola asuh otoriter, orang tua cenderung menaruh harapan yang tinggi namun tidak disertai dengan apresiasi dan motivasi. Orang tua justru melarang anak untuk berbuat kesalahan dan tidak menunjukkan kepercayaan tersebut kepada anak. Akibatnya, rasa percaya diri anak bisa berkurang seiring berjalannya waktu.
Ilustrasi Anak Tidak Percaya Diri
Pada fase anak hingga remaja, seseorang akan mengalami perubahan emosi. Dalam kondisi perasaan yang bahagia, sedih, marah, takut, serta keadaan emosi lainnya perlu tindakan untuk bagaimana mengelola emosi tersebut dengan baik. Salah satunya dengan diungkapkan dan didengarkan.
Orang tua cenderung enggan untuk mendengarkan pendapat anak pada pola asuh otoriter. Padahal, anak butuh didengarkan kemudian diarahkan untuk mengelola emosi tersebut. Maka, kesulitan anak dalam mengelola emosi juga bisa menjadi dampak akibat dari pola asuh otoriter.
Keharusan anak untuk selalu patuh pada aturan yang dibentuk orang tua memiliki kemungkinan membuat anak menjadi kurang mandiri di masa depan. Hal ini dikarenakan anak tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Pada pola asuh otoriter, biasanya, orang tua selalu menjadi penentu dan menetapkan segala hal yang berkaitan dengan anak.
Orang tua berhak untuk mengarahkan anak melalui nasihat atau aturan yang dibuatnya. Namun, hendaknya anak tetap diberikan kebebasan untuk senantiasa dapat mengeksplorasi minat dan bakatnya. Kolaborasi antar orang tua dan anak sangatlah penting agar anak tidak kehilangan arah juga kemandirian dapat tercipta.
Ilustrasi Anak Tidak Mandiri
Kurangnya komunikasi dalam pola asuh otoriter akan menyebabkan kesulitan bersosialisasi anak dengan lingkungan sebayanya. Anak cenderung menarik diri, kurang percaya diri, serta sulit menjalin hubungan baik dengan orang lain. Rasa takut ketika bersosialisasi bisa jadi merupakan dampak dari pola asuh otoriter.
Komunikasi dua arah sangatlah penting agar anak merasa dihargai dan nyaman ketika bersosialisasi. Pentingnya kebersamaan dan komunikasi menjadi kunci agar anak dapat bersosialisasi dengan baik. Menghabiskan waktu bersama dan melakukan aktivitas bersama bisa menjadi langkah awal untuk membangun komunikasi.
Itulah beberapa dampak dari pola asuh otoriter. pola asuh otoriter mungkin dapat meningkatkan disiplin serta rasa tanggung jawab pada anak. Namun, sebaiknya pola asuh ini dihindari karena seringkali pola asuh ini turut mengorbankan kesehatan mental dan hubungan emosional anak.
Tidak hanya karakter anak, namun ternyata pola asuh turut membentuk kemampuan kognitif dan psikologi anak. Kemampuan bersosialisasi, mengolah emosi, hingga mengambil keputusan juga dapat terbentuk melalui pola asuh.
Orang tua tentunya lebih memahami kondisi anak serta menginginkan yang terbaik untuk sang anak. Namun, menjadi kepedulian semua bahwa setiap anak berhak untuk mendapatkan pola asuh terbaik, sehingga menjadi generasi penerus yang baik pula nantinya.
Beberapa psikolog anak telah merekomendasikan penerapan pola asuh otoritatif pada anak. Hal ini dikarenakan pola asuh otoritatif tetap mampu membentuk karakter anak yang disiplin serta bertanggung jawab dengan diiringi kasih sayang serta kebebasan yang orang tua berikan kepada anak. Lupakan Gadget-mu, Ayo Main di Luar! (FAU/ed. EVA)
Bagi Sobat TGR yang tertarik bekerja sama dan ingin berkolaborasi dengan kami, mulai dari menjadi pengisi acara, tenant hingga narasumber, hubungi kami dengan klik tautan ini ya, Sobat!
Writer: Faunizar Salsabila
Editor: Eva Gianina K
Graphic Designer: Indiana
QC/Publisher: R. Harvie R. B. R
Chrismonica. (2023). 7 ciri-ciri pola asuh otoriter, bisa berdampak negatif! Orami - One-stop Solution for Parents. https://www.orami.co.id/magazine/pola-asuh-otoriter#google_vignette
Fikriyyah, H. F., Nurwati, R. N., & Santoso, M. B. (2022). Dampak pola asuh otoriter terhadap perkembangan psikososial anak usia prasekolah. Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (JPPM), 3(1), 11. https://doi.org/10.24198/jppm.v3i1.39660
Fimela.com. (2023). Psikolog setuju, 4 pola asuh ini yang dinyatakan paling sukses dan berikan dampak positif untuk anak. Fimela.com. https://www.fimela.com/parenting/read/5384275/psikolog-setuju-4-pola-asuh-ini-yang-dinyatakan-paling-sukses-dan-berikan-dampak-positif-untuk-anak
Fimela.com. (2024). 6 dampak parenting otoriter yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Fimela.com. https://www.fimela.com/parenting/read/5705785/6-dampak-parenting-otoriter-yang-berpengaruh-terhadap-tumbuh-kembang-anak?page=7
Jamine. (2024). Jenis pola asuh orang tua menurut psikolog. Parents World Indonesia. https://parentsworld.id/2024/02/21/jenis-pola-asuh-orang-tua-menurut-psikolog/
Nurnawati. (2023). Pola asuh otoriter orang tua terhadap perkembangan mental anak. Gunung Djati Conference Series, 19.
Syaibani, R., Afriza, R., & Sari, P. (2024). Dampak pola asuh otoriter orang tua terhadap kehidupan sosial anak di Dusun Rejo Mulyo Aceh Tamiang. Nusantara Mengabdi Kepada Negeri, 1(3), 96-101. https://doi.org/10.62383/numeken.v1i3.494
Traditional Games Returns Tgr Parenting Pola Asuh Otoriter Apakah Pola Asuh Otoriter Baik? Pola AsuhMitra Kolaborasi:
Copyright © 2017 - 2026 Traditional Games Returns All rights reserved.