Traditional Games Returns

Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar!

Lima Jenis Permainan Tradisional Serba Biji

Selasa, 13 Agustus 2019 ~ Oleh Traditional Games Returns ~ Dilihat 3128 Kali

Halo Sobat TGR!

Berbicara tentang permainan tradisional, sobat TGR pasti penasaran kan, bahan-bahan apa saja sih yang biasanya digunakan? Jawabnya, ada yang berbahan kayu, bambu, plastik, bahkan hingga bahan-bahan daur ulang selama aman untuk digunakan bermain. Selain bahan-bahan itu, tahukah sobat TGR ada beberapa permainan tradisional yang menggunakan biji-bijian sebagai bahan permainannya? Yuk, langsung saja simak!

1. Adu Cilong

Permainan ini sangat populer di daerah asalnya, yaitu Riau. Cilong adalah biji dari pohon karet. Bagaimana cara mendapatkannya? Ternyata cukup mudah, kita tinggal memungut beberapa biji karet yang berjatuhan di sekitar pohonnya. Kemudian, pilihlah salah satu biji karet yang kira-kira paling keras kulitnya. Ajaklah satu orang teman untuk main bersama, kemudian menentukan siapa yang bermain lebih dulu, bisa dengan cara undian. Pemain yang kalah undian harus rela cilong miliknya berada di bagian bawah. Lalu pemain yang menang meletakkan cilongnya di atas cilong pemain yang kalah, kemudian dipukul dengan tangan.

(Saputra, 2019)

Jika cilong lawan belum pecah, permainan dilanjutkan bergantian dengan cilong millik lawan. Begitu seterusnya sampai cilong salah satu pemain ada yang pecah. Pemenangnya adalah pemilik cilong yang tidak pecah.

2. Adu Muncang

Ada yang berasal dari Garut, Sumedang, Tasikmalaya dan sekitarnya? Yap, kalian pasti tidak asing dengan permainan adu muncang. Adu muncang atau adu kemiri cukup populer di Sunda. Cara bermainnya tidak beda jauh dengan adu cilong. Bedanya dengan adu cilong hanya pada bahan yang digunakan, yaitu kemiri dan pemukulnya yang bermacam-macam. Di daerah asalnya, kemiri yang digunakan adalah kemiri kering yang masih ada kulitnya, bukan kemiri yang telah menjadi bumbu dapur. Sedangkan pemukulnya bisa berupa batu besar atau alat khusus seperti gambar ini.

(Siddiq, 2018)

Uniknya, permainan ini juga digemari oleh orang dewasa, lho. Di balik itu, nilai positif bermain adu muncang ini adalah nilai kebersamaan dan sportivitas antarpemain.

3. Adu Klingsi atau klingsian

Meski asal usul permainan ini belum jelas, tetapi sempat populer di Indonesia pada tahun 1970 hingga 1980-an. Klingsi merupakan biji asam jawa. Cara bermainnya sedikit berbeda dengan adu-adu biji yang lain. Pertama, biji klingsi diasah pada benda berpermukaan kasar hingga separuh atau hingga terlihat bagian dalamnya. Kemudian biji tersebut ditempelkan pada pecahan kaca/keramik menggunakan beberapa cara misalnya dengan tepung kanji yang sudah dimasak, getah pohon, atau putih telur, tetapi tidak boleh menggunakan lem. Lalu klingsi tersebut disejajarkan dengan klingsi pemain lain.

(Anonim, 2019)

Pemenangnya adalah yang pemilik klingsi yang paling lama menempel. Sedikit tips, setelah ditempel ada baiknya klingsi tersebut ditindih atau dihimpitkan dengan benda keras supaya lebih rekat.

4. Sumbar Suru

Permainan ini berasal dari Yogyakarta. Sumbar berarti menyebar, sedangkan suru berarti disendok. Untuk bermain sumbar suru biasanya diikuti oleh 2-5 orang. Bahan-bahan yang disiapkan adalah daun sawo kecik yang sudah dihilangkan pangkalnya beserta biji sawo kecik atau biji tanjung. Tempat bermain yang digunakan berupa tempat datar dengan ukuran 40 x 40 cm.

(Defrina, 2019)

Pemain yang mendapatkan giliran pertama menyebarkan biji, kemudian menyendok biji satu persatu dengan daun sawo kecik tanpa menyentuh biji lain. Cara memegang daunnya adalah sebagai berikut.

 (Defrina, 2019)

Biji yang boleh disendok hanya yang berada di area bermain. Pemain juga tidak boleh bergeser atau beranjak dari tempat semula. Apabila melanggar, pemain dianggap '"mati" dan digantikan pemain lain. Pemenangnya adalah pemain yang mampu menyendok biji hingga habis tanpa melanggar peraturan.

5. Serak Biji Saga

Permainan serak biji saga ini juga kurang diketahui asal usulnya. Permainan ini terbilang sederhana, namun membutuhkan ketangkasan. Bahan yang digunakan adalah biji saga, semakin banyak bijinya maka permainan akan semakin seru. Pemain yang mendapatkan giliran pertama menyebarkan biji saga ke area bermain yang licin. Kemudian menyentil salah satu biji saga dengan ujung kelingking sehingga mengenai biji saga yang lain. Apabila mengenai target, maka biji yang disentil dan biji yang tersenggol atau tergeser akibat disentil dapat menjadi milik pemain. Setelah itu permainan dilanjutkan bergantian dengan pemain lain. Pemenangnya adalah yang berhasil mengumpulkan biji saga terbanyak.

(Dok. Youtube Anak Rimau)

 

Nah, cukup sekian dulu ya, ulasan beberapa permainan tradisional yang menggunakan biji-bijian ini. Cukup mudah dan sederhana bukan? Mungkin di antara permainan ini ada yang belum pernah Sobat TGR dengar sebelumnya. Maka dari itu, mari kita lestarikan permainan-permainan ini dengan cara mencobanya bersama teman-temanmu, supaya tidak punah ditelan zaman.

Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar! (Fyr/ed.SF)

 

Sumber:

Anonim. 2019. 20 Permainan Tradisional Seru yang Kini Keberadaannya Sudah Jarang Ditemukan Lagi. www.boombastis.com (diakses pada 12 Agustus 2019).

Defriza, D. 2019. Sumbar Suru. www.budaya-indonesia.org (diakses pada 13 Agustus 2019).

Fauziah, S. dan Hastuti, D. Modifikasi Permainan Tradisional Sumbar Suru Untuk Mengembangkan Aspek Kognitif Pada Kelompok B Anak Usia Dini. Jurnal Smart PAUD (2):1.

Nugraha, R. S. 2018. Ngadu Muncang. www.tintapendidikanindonesia.com (diakses pada 12 Agustus 2019).

Saputra, Bekti. 2019. Mengenang Permainan Era 90-an, Adu Biji Karet. www.kapakata.id (diakses pada 12 Agustus 2019).

Winarni. ___. Ensiklopedia Permainan Tradisional Nusantara. Lontar Mediatama, Yogyakarta.

 

Komentari Tulisan