Halo, Sobat TGR! Pernahkah mendengar tentang sensory play? Permainan indra untuk bayi dan balita ini belakangan sering dibahas di media sosial parenting. Banyak orang tua mulai tertarik karena terlihat seru dan penuh manfaat. Namun, tahukah Sobat TGR bahwa sensory play sebenarnya bukan tren baru? Kegiatan ini sudah ada sejak lama dan menjadi bagian alami dari proses tumbuh kembang anak. Bahkan, sejak dulu para ahli pendidikan sudah menekankan pentingnya belajar melalui pengalaman langsung dan sentuhan. Yuk, kita telusuri sejarahnya bersama!
Ilustrasi Permainan Indra Anak-Anak
(Dokumentasi TGR Community, 2025)
Pada awal abad ke-20, seorang dokter dan pendidik asal Italia bernama Maria Montessori memperkenalkan metode belajar yang menekankan pengalaman langsung melalui pancaindra. Ia percaya bahwa anak belajar paling baik ketika mereka menyentuh, merasakan, dan mencoba sendiri (Monroe University, n.d.). Dalam kelasnya, anak-anak diberi kesempatan untuk memegang benda dengan berbagai bentuk dan tekstur untuk membantu memahami dunia sekitar.
Selain itu, tokoh perkembangan anak dari Swiss, Jean Piaget, juga menjelaskan bahwa pada masa awal kehidupan, anak berada pada tahap belajar melalui gerakan dan indra. Menurutnya, pengalaman langsung sangat penting karena membantu anak membangun pemahaman secara bertahap (Monroe University, n.d). Teori ini semakin menguatkan pentingnya kegiatan bermain yang melibatkan sentuhan dan eksplorasi.
Ilustrasi Anak yang Mencoba Pengalaman Secara Langsung
(Dokumentasi TGR Community, 2025)
Seiring waktu, konsep bermain berbasis indra semakin berkembang dalam pendidikan anak usia dini. Banyak sekolah dan lembaga pendidikan mulai menyediakan area bermain pasir, air, atau bahan alam lainnya. Aktivitas ini bukan sekadar hiburan, tetapi bagian dari proses belajar yang dirancang untuk mendukung perkembangan anak.
Ilustrasi Permainan Sebagai Bagian dari Pembelajaran
(Dokumentasi TGR Community, 2025)
Kini, berbagai penelitian modern juga mendukung pentingnya sensory play dalam perkembangan anak. Studi menunjukkan bahwa aktivitas bermain seperti ini dapat membantu meningkatkan kemampuan fokus, misalnya saat anak diminta menyusun benda berdasarkan warna atau bentuk tertentu, melatih koordinasi melalui aktivitas seperti menuang air atau meremas playdough, serta mengembangkan keterampilan sosial ketika anak bermain bersama dan belajar bergantian menggunakan alat permainan (Dewi, 2025). Penelitian lain juga menemukan bahwa kegiatan berbasis pengalaman langsung dapat membantu anak mengelola emosi dengan lebih baik (Zendrato dkk., 2025).

Ilustrasi Peran Permainan dalam Pengelolaan Emosi
(Dokumentasi TGR Community, 2025)
Sobat TGR, dari sejarahnya kita bisa melihat bahwa bermain bukanlah kegiatan yang sia-sia. Sejak dulu para ahli sudah memahami bahwa anak belajar melalui pengalaman nyata. Sensory play hadir sebagai cara alami untuk membantu anak mengenal dunia dengan cara yang menyenangkan.
Melalui permainan sederhana seperti bermain pasir, mencampur warna, atau menuang air, anak sedang membangun banyak kemampuan penting. Mereka belajar memahami tekstur, melatih kekuatan tangan, serta mengembangkan rasa ingin tahu. Semua itu terjadi secara alami tanpa tekanan.

Ilustrasi Peran Permainan untuk Mengembangkan Rasa Ingin Tahu pada Anak-Anak
(Dokumentasi TGR Community, 2025)
Jadi, tidak perlu ragu lagi untuk memberi ruang bagi anak bereksplorasi. Bermain adalah bagian penting dari proses tumbuh kembang yang sudah didukung sejak lama oleh para ahli pendidikan. Yuk, ajak anak menikmati pengalaman belajar yang seru dan penuh makna. Lupakan Gadget-mu, Ayo Main di Luar!
Referensi:
Dewi, S. M. (2025). Analisis kegiatan sensory play untuk meningkatkan kemampuan motorik anak usia 2–3 tahun. Jurnal Riset Pendidikan Guru PAUD. https://doi.org/10.29313/jrpgp.v5i1.6528
Zendrato, R. L., Saputri, R. M., Tambunan, R., Zahra, R., & Siregar, D. N. (2025). The effectiveness of tactile sensory play on the cognitive development of infants aged 12–15 months in Mekar Sari Village. Journal of Pharmaceutical and Sciences. https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v8i4.1125
Monroe University. (n.d.). Early childhood education history: Theorists & theories. Diakses 3 Maret 2026, dari https://www.monroeu.edu/news/early-childhood-education-history-theorists-theories
Writer: Tazkiya Umamah
Editor: Correy Ananta
Desain Grafis : Dinda
Mitra Kolaborasi:
Copyright © 2017 - 2026 Traditional Games Returns All rights reserved.