Halo, Sobat TGR! Peran Wali Songo dalam menyebarkan agama islam tentu sangat penting di Indonesia. Dalam proses dakwahnya, banyak rintangan yang harus dihadapi oleh para wali karena keyakinan masyarakat pada saat itu yang mengarah pada animisme dan dinamisme. Penasaran nggak sih? Cara apa yang dipakai oleh para wali dalam misi ini? Salah satu kesembilan wali tersebut yaitu Sunan Kalijaga, memiliki cara unik dalam dakwahnya, beliau menggabungkan unsur budaya dan religi tanpa menggeser tradisi aslinya. Nah, pada artikel kali ini, yuk, kita bahas salah satu warisan dari Sunan Kalijaga yaitu lagu Lir Ilir, Check it out!
Ilustrasi Sunan Kalijaga
(Gramedia.com, n.d)
Sebelum membahas tentang warisannya, Sobat TGR sudah kenal belum nih dengan Sunan Kalijaga? Sunan Kalijaga (Raden Mas Said) adalah salah satu dari sembilan wali atau yang sering disebut sebagai Wali Songo, dimana kesembilan wali ini memiliki pengaruh yang besar pada penyebaran serta perkembangan agama Islam di Indonesia. Kesembilan wali tersebut antara lain, Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati.
Sunan Kalijaga sendiri lahir pada tahun 1450 Masehi dari pasangan bangsawan Tuban, Jawa Timur, yaitu Tumenggung Wilatikta yang menjabat sebagai bupati Tuban saat itu dan Dewi Nawangrum. Karena darah bangsawan yang dimilikinya, Sunan Kalijaga diberi nama lahir Raden Mas Syahid (dalam beberapa literatur disebut Raden Mas Said).
Sunan Kalijaga adalah salah satu Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Beliau menggunakan media budaya yang mudah diterima oleh masyarakat, salah satunya dengan membuat lagu dengan lirik yang mengandung unsur religi.

Pengrawit sedang Memainkan Gamelan
(Trenggaleknjenggelek.jawapos.com, 2025)
Lagu Lir Ilir memiliki arti yang mendalam, lho, Sobat TGR! Tiap bait liriknya mengandung pesan religi, tanggung jawab, kedisiplinan, kerja keras, dan pantang menyerah yang menjadi inspirasi bagi kehidupan masyarakat muslim di Jawa saat itu. Memangnya apa sih makna di balik lirik lagu Lir Ilir ini? Eitss, sebelum kita bahas makna lagunya, Sobat TGR bisa simak dulu nih lirik lengkap dari lagu Lir Ilir. Berikut adalah lirik lagu Lir Ilir dan terjemahannya:
Lir-ilir, lir-ilir, tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar
Cah angon, cah angon, penekno blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekno, kanggo mbasuh dodot ira
Dodot ira, dodot ira, kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono, jrumatano, kanggo sebo mengko sore
Mumpung padang rembulane, mumpung jembar kalangane
Yo surako, surak hiya…
Bangunlah, bangunlah tanamannya telah bersemi
Bagaikan warna hijau yang menyejukkan, seperti sepasang pengantin baru
Anak gembala, anak gembala, tolong panjatkan pohon belimbing itu
Sekalipun licin, tetaplah memanjat untuk mencuci kain dodotmu
Kain dodotmu, kain dodotmu, telah rusak dan robek
Jahitlah, benahilah untuk menghadap Tuhanmu nanti sore
Selagi rembulan masih purnama, selagi tempat masih luas dan lapang
Ya, bersoraklah, berteriaklah, ya
Dikutip dari buku Islam Abangan dan Kehidupannya oleh Rizem Aizid, berikut adalah makna lagu Lir Ilir yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga:
Bait pertama:
Bangunlah, bangunlah tanamannya telah bersemi
Tak ijo royo-royo tak sengguh temantèn anyar
Bagaikan warna hijau yang menyejukkan, seperti sepasang pengantin baru
Baris pertama, "Lir ilir, lir ilir, tandure wus sumilir" artinya "Bangunlah, bangunlah tanamannya telah bersemi". Eitss, yang dimaksud bangun disini bukan bangun dari tidur, ya! Tetapi bangun dari keterpurukan. Lirik ini bermaksud untuk “membangunkan” orang Islam dari keterpurukan dan sifat malas. Sedangkan arti dari lirik di baris kedua adalah imbauan kepada umat muslim untuk rajin mempertebal iman layaknya tanaman yang bersemi.
Perumpamaan kondisi tanaman ini sama seperti kondisi iman manusia. Jika sebuah tanaman dirawat dengan baik, maka tanaman tersebut akan tumbuh subur. Sebaliknya, jika tanaman dibiarkan dan tidak dirawat dengan baik, maka ia akan layu dan mati. Begitupun dengan kondisi iman masing-masing individu. Jika individu itu malas merawat dan memupuk iman, maka iman yang dimilikinya akan layu atau bahkan dapat mati. Dan, apabila seorang umat berhasil menjaga dan menumbuhkan imannya dengan baik, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan layaknya pengantin baru.

Ilustrasi Sunan Kalijaga sedang Menyebarkan Dakwah
(Nursyamcentre.com, 2022)
Bait kedua:
Cah angon, cah angon, pènèkna blimbing kuwi
Anak gembala, anak gembala panjatlah (pohon) belimbing itu
Lunyu lunyu yo pènèken kanggo mbasuh dodot iro
Walaupun licin dan susah tetaplah kau panjat untuk membasuh pakaianmu
Lirik di atas, menggambarkan manusia sebagai penggembala yang menggembalakan pemberian dari Allah SWT, yaitu hati. Dengan menjaga hati tersebut tetap pada jalan Allah dan tidak terjerumus pada hawa nafsu yang dapat merusak iman. Selanjutnya, anak gembala diminta memanjat pohon belimbing. Mengapa pohon belimbing? Hal ini karena bentuk buah belimbing yang memiliki 5 sisi yang dipandang dapat melambangkan lima rukun Islam, yaitu syahadat, sholat, puasa, zakat, dan haji (bila mampu).
Sehingga, lirik tersebut menggambarkan bahwa sebagai penggembala, manusia diharapkan mampu menjaga dan memelihara 5 rukun Islam meskipun hal tersebut tak mudah. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan kelima rukun Islam mencerminkan ketakwaan demi kesucian hati yang dalam lirik digambarkan dengan “membasuh pakaianmu”.

Ilustrasi 5 Rukun Islam
(aqiqahalkautsar.com, 2021)
Bait selanjutnya:
Dodotiro, dodotiro, kumitir bedhah ing pinggir
Pakaianmu, pakaianmu terkoyak-koyak di bagian samping
Dondomana jrumatana kanggo sèba mengko sorè
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore
Pada bait ini, makna yang ingin disampaikan masih sama seperti pada bait sebelumnya. Dalam lirik tersebut, pakaian ibaratkan sebagai ketakwaan manusia yang semakin bertambahnya umur maka semakin menurun kualitasnya. Manusia sebagai makhluk dinamis yang mudah terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya akan mengalami penurunan iman dan taqwa jika tidak berbenah diri. Karena itulah, manusia diminta untuk memperbaiki diri sebelum dipanggil untuk menghadap kembali ke Sang Pencipta.
Bait terakhir:
Mumpung padhang rembulanè, mumpung jembar kalanganè
Mumpung bulan bersinar terang, mumpung banyak waktu luang
Yo surako surak hiyo
Bersoraklah dengan sorakan iya
Bulan bersinar terang dalam lirik ini memiliki arti, selagi masih diberi kesempatan untuk melihat bulan bersinar, manusia senantiasa merefleksikan tentang apa yang telah didapatkan semasa hidup dan tak lupa untuk memperbaiki diri selama masih diberi waktu untuk hidup oleh Yang Maha Kuasa. Manusia sebaiknya memanfaatkan waktu yang diberikan dengan baik agar kelak ketika tiba waktunya dipanggil, maka ia menghadap dalam keadaan yang baik. Baris terakhir memiliki makna, jika ada orang yang mengingatkan tentang hal tersebut, jawablah dengan seruan “Ya!”

Seorang Muslim sedang Berdoa di Bawah Bulan
(Yaqeeninstitute.org, 2026)
Wah, lagu Lir Ilir ini memiliki makna yang cukup dalam, ya! Terdiri dari lirik yang sarat dengan nilai agama dan nasihat untuk bertakwa kepada Allah SWT, dibalut dengan diksi yang sederhana tanpa adanya unsur paksaan. Tak hanya itu, pesan moral yang dapat diambil juga mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk dinamis yang dapat berubah sesuai lingkungan dan apa yang dipercayainya. Seiring berjalannya waktu, keimanan seseorang juga dapat menipis. Oleh karena itu, waktu yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa alangkah baiknya kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk membangkitkan iman di dalam diri. Lupakan Gadget-mu, Ayo Main di Luar!
Writer: Febyan Putri S. dan Andini Haniyatur Riza
Editor: Andini Haniyatur Riza
Graphic Designer: Dinda Priska Nurfitriani
Referensi
Daarut Tauhiid. (2023, 27 April). Makna syair Lir-Ilir Sunan Kalijaga. https://www.daaruttauhiid.org/makna-syair-lir-ilir-sunan-kalijaga/
Kumparan. (2023, 29 September). Makna lagu Lir-Ilir ciptaan Sunan Kalijaga: Pengingat untuk umat Islam. https://kumparan.com/berita-hari-ini/makna-lagu-lir-ilir-ciptaan-sunan-kalijaga-pengingat-untuk-umat-islam-21YB965kruE
Mitra Kolaborasi:
Copyright © 2017 - 2026 Traditional Games Returns All rights reserved.