Traditional Games Returns

Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar!

Mengenal 4 Permainan Indonesia yang Memanfaatkan Bahan Alam dan Ramah Lingkungan 

Jum'at, 12 Juni 2026 ~ Oleh Traditional Games Returns ~ Dilihat 20 Kali

Halo, Sobat TGR! Pernahkah kita berpikir bahwa permainan tidak selalu membutuhkan alat yang sulit dibuat atau perlu biaya mahal? Di berbagai daerah di Indonesia, banyak permainan tradisional yang justru memanfaatkan bahan alam di sekitar. Selain itu, permainan menggunakan bahan alam akan ramah lingkungan dan tidak menambah limbah, loh! Yuk, kita kenali bersama apa saja permainan tradisional itu!

Gambar Anak-anak Papua Sedang Bermain

(Sumber: selalu.id (ditulis oleh Ade Resty, 2022))

Sejak dulu, anak-anak di berbagai wilayah Indonesia, seperti Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara, telah memainkan beragam permainan tradisional dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Mereka menggunakan bambu, batu, pasir, hingga daun sebagai alat bermain. Aktivitas ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari proses belajar yang alami.

1. Permainan Lompat Batu (Sumatera Utara)

Permainan ini menggunakan batu-batu yang disusun sebagai jalur lompatan. Anak-anak melompat dengan satu kaki sambil menjaga keseimbangan.

Ilustrasi Permainan Lompat Batu

(Sumber: Yasserina Rawie (2019), GenPI.co )

Secara perkembangan, aktivitas ini membantu melatih motorik kasar, keseimbangan, dan koordinasi tubuh. Anak juga belajar fokus dan mengontrol gerakan agar tidak jatuh. Walaupun cukup ekstrem dan perlu latihan yang rutin, aktivitas ini akan menjadi ikon budaya dari Suku Nias di Sumatera Utara.

2. Permainan Ampakeari (Papua)

Ampakeari adalah salah satu permainan tradisional yang ada di Indonesia. Permainan ini berasal dari Provinsi Papua. Ampakeari sebenarnya adalah nama buah yang biasanya tumbuh di rawa-rawa di Kabupaten Yapen-Waropen, yaitu buah mange-mange, buah yang berasal dari pohon perdu yang berwarna putih (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984). 

Permainan Ampakeari dimainkan oleh 2–6 orang dan umumnya dilakukan oleh perempuan, baik anak-anak maupun orang dewasa, di mana setiap pemain membawa satu anak kecil yang belum tidur. Alat yang digunakan tergolong sederhana dan berasal dari bahan alami, yaitu buah sebagai objek yang diputar, alas kayu berbentuk datar menyerupai piring, serta penyangga dari kayu. Cara bermain dimulai dengan seluruh pemain berkumpul dan menyiapkan alat, kemudian masing-masing pemain memutar buah di atas alas secara bersamaan sambil menggendong anak. Selama permainan berlangsung, pemain biasanya menyanyikan lagu atau mengeluarkan suara lembut untuk membantu menenangkan anak agar tertidur. Permainan terus berlanjut hingga muncul kondisi penentu, yaitu ketika buah milik salah satu pemain jatuh atau tidak dapat berputar dengan baik, atau ketika anak yang dibawanya tidak kunjung tertidur atau tertidur paling lambat dibandingkan dengan anak pemain lainnya, sehingga pemain tersebut dinyatakan kalah.

3. Boi-Boi (Maluku Utara – Ternate)

Boi-boi merupakan permainan tradisional yang menggunakan tempurung kelapa sebagai alat utama. Tempurung disusun menyerupai menara kecil, lalu pemain melemparnya menggunakan bola atau benda lain. Permainan ini biasanya dimainkan secara berkelompok dengan aturan sederhana.

Ilustrasi Siswa Bermain Boi Boi

(Sumber: Andreas Diantama, 2020)

Permainan dimulai dengan menyusun beberapa tempurung kelapa di satu titik. Salah satu tim bertugas melempar bola untuk menjatuhkan susunan tersebut. Setelah berhasil dijatuhkan, tim lawan harus segera menyusun kembali tempurung seperti semula, sementara tim pelempar berusaha menghalangi atau mengenai lawan dengan bola. Permainan berlangsung secara bergantian, dan tim yang paling cepat menyusun atau paling banyak menjatuhkan susunan akan menjadi pemenang.

4. Caci (Nusa Tenggara Timur – Manggarai)

Caci merupakan permainan tradisional khas Manggarai yang menggunakan cambuk dan perisai dari bahan alami seperti kayu, kulit, dan serat. Permainan ini sarat nilai budaya dan biasanya ditampilkan dalam acara adat atau perayaan tertentu.

Ilustrasi Permainan Caci dari NTT

(Sumber: Dwi Lindawati (dalam Tugu Jatim, 2023) )

Permainan dilakukan oleh dua orang pemain yang saling berhadapan. Satu pemain berperan sebagai penyerang yang memegang cambuk, sementara pemain lain bertahan menggunakan perisai. Penyerang akan mencoba mengenai tubuh lawan, sedangkan pemain bertahan berusaha menangkis serangan. Setelah beberapa giliran, peran akan ditukar. Permainan biasanya disertai musik tradisional dan diawasi oleh aturan adat untuk menjaga keamanan dan sportivitas.

Sobat TGR, dari keempat permainan tersebut, kita bisa melihat bahwa bahan sederhana dari alam ternyata memiliki potensi besar untuk mendukung perkembangan anak. Tanpa limbah plastik atau teknologi, anak tetap bisa belajar banyak hal penting mulai dari motorik, kognitif, hingga sosial. Penelitian tentang perkembangan anak juga menunjukkan bahwa permainan berbasis alam dapat meningkatkan fokus, kreativitas, serta kemampuan regulasi emosi (Qomariah, 2022). Lingkungan alami memberikan stimulasi yang lebih kaya dan seimbang dibandingkan dengan permainan digital.

Ilustrasi Permainan yang Melatih Fokus

(Dokumentasi TGR Community, 2025)

Menariknya, permainan ini juga mengajarkan anak untuk lebih menghargai lingkungan. Mereka belajar bahwa alam bukan hanya tempat bermain, tetapi juga sesuatu yang perlu dijaga. Inilah yang membuat permainan tradisional dari Indonesia Timur tidak hanya ramah anak, tetapi juga ramah lingkungan.

Sobat TGR, bermain tidak harus mahal atau modern. Dari batu, bambu, daun, hingga pasir, anak bisa mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna. Yuk, ajak anak menikmati pengalaman belajar yang seru dan penuh makna. Lupakan Gadget-mu, Ayo Main di Luar!

Daftar Pustaka: 

Qomariah, D. N., & Hamidah, S. (2022). Menggali manfaat permainan tradisional dalam meningkatkan keterampilan motorik kasar: konteks anak usia dini. Jendela PLS, 7(1), 8-23. 

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1984). Permainan rakyat daerah Irian Jaya. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.

Writer: Tazkiya Umamah
Editor: Correy Ananta
Desain Grafis : Dinda

Komentari Tulisan