Traditional Games Returns

Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar!

Ngabuburit Penuh Keceriaan di Bulan Ramadan Bersama TGR dan Siswa SD IT Asy-Syaakiriin Duren Sawit

Kamis, 25 Juni 2026 ~ Oleh Traditional Games Returns ~ Dilihat 13 Kali

Halo, Sobat TGR! Menghabiskan waktu menjelang berbuka puasa tentu terasa lebih menyenangkan jika diisi dengan aktivitas yang seru dan penuh kebersamaan. Pada Jumat sore, 13 Maret 2026, Tim TGR berkesempatan hadir dalam kegiatan bertajuk ngabuburit di SD IT Asy-Syaakiriin Duren Sawit. Kegiatan ini diselenggarakan bersama siswa-siswi SD IT Asy-Syaakiriin Duren Sawit dengan menghadirkan berbagai permainan tradisional, ice breaking, hingga momen kebersamaan saat berbuka puasa bersama.

Sebanyak 20 anak mengikuti kegiatan ini dengan penuh antusias. Selama kegiatan berlangsung, mereka didampingi oleh empat fasilitator dari tim TGR yang membantu mengarahkan jalannya acara sekaligus menemani adik-adik bermain di setiap sesi permainan. Suasana hangat dan penuh semangat pun sudah terasa sejak awal kegiatan dimulai.

Sambutan Orang Tua Siswa

(Dokumentasi Tim TGR, 2026)

Kegiatan diawali dengan sesi pembukaan yang dipimpin oleh dua orang tua murid. Melalui sambutan hangat yang diberikan, seluruh peserta diajak untuk menikmati rangkaian acara dengan penuh keceriaan sekaligus menjadikan kegiatan ngabuburit kali ini sebagai momen untuk mempererat kebersamaan selama bulan Ramadan.

Setelah sesi pembukaan selesai, acara dilanjutkan dengan berbagai penampilan menarik dari siswa-siswi kelas 3A. Penampilan pertama dibawakan oleh Zaid dan Tsabita melalui pembacaan tilawah. Zaid membacakan ayat suci Al-Qur’an dengan lantunan yang merdu, sementara Tsabita membacakan arti dari ayat tersebut dengan penuh percaya diri. Penampilan selanjutnya yaitu pembacaan ayat dari Surah Abasa secara bersambung yang dibawakan oleh beberapa murid laki-laki dan perempuan. Suasana semakin hangat ketika para siswa melantunkan shalawat nabi bersama-sama dengan penuh semangat dan kekompakan.

Pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan shalawat nabi oleh siswa-siswi SD Asy Syaakiriin

(Dokumentasi Tim TGR, 2026)

Sebelum memasuki sesi permainan tradisional, adik-adik terlebih dahulu diajak mengikuti sesi ice breaking yang dipandu oleh Kak Keenan dan Kak Hana. Berbagai permainan sederhana namun seru berhasil membuat suasana menjadi semakin hidup dan penuh gelak tawa.

Permainan pertama yang dimainkan yaitu Cingciripit. Pada permainan ini, seluruh peserta duduk membentuk lingkaran lalu meletakkan telapak tangan mereka secara terbuka. Salah satu pemain akan menunjuk tangan teman-temannya sambil menyanyikan lagu “cing ciripit tulang bajing kacapit…”. Ketika lagu berhenti, tangan yang terakhir disentuh harus segera ditarik agar tidak tertangkap. Misalnya, saat salah satu siswa dan satu siswa lainnya bermain bermain bersama sebagai pasangan, siswa yang tangannya terkena di akhir lagu langsung buru-buru menarik tangannya sambil tertawa karena hampir tertangkap oleh pasangan bermainnya. Permainan sederhana ini melatih fokus sekaligus kecepatan refleks adik-adik.

Ice breaking berikutnya yaitu permainan tepuk. Pada permainan ini, siswa hanya boleh bertepuk tangan apabila instruksi yang diberikan mengandung kata “tepuk”. Contohnya, ketika fasilitator mengatakan “tepuk dua”, maka seluruh peserta harus bertepuk tangan sebanyak dua kali. Namun, jika fasilitator hanya mengatakan “dua” tanpa kata “tepuk”, peserta tidak boleh bertepuk tangan sama sekali. Permainan ini cukup menantang karena adik-adik harus benar-benar fokus mendengarkan instruksi agar tidak terkecoh. Suasana pun menjadi semakin ramai ketika beberapa peserta tanpa sadar tetap bertepuk tangan dan disambut gelak tawa teman-temannya.

Selanjutnya, adik-adik memainkan permainan “Marina Menari di Atas Menara”. Pada permainan ini, seluruh peserta mengikuti instruksi gerakan dan nyanyian yang dipandu fasilitator. Gerakan yang dilakukan akan berubah-ubah sesuai lirik dan tempo lagu sehingga peserta harus berkonsentrasi mengikuti instruksi dengan tepat. Semakin cepat lagu dinyanyikan, semakin heboh pula suasana yang tercipta karena adik-adik harus bergerak dengan lebih sigap agar tidak salah gerakan.

Keseruan sesi Ice Breaking

(Dokumentasi Tim TGR, 2026)

Setelah sesi ice breaking selesai, kegiatan inti pun dimulai, yaitu bermain permainan tradisional di setiap pos permainan. Sebanyak 20 siswa dibagi menjadi empat kelompok dengan masing-masing kelompok berisikan lima orang peserta. Setiap kelompok akan berkeliling menuju pos permainan yang berbeda-beda dengan waktu bermain selama 10 menit pada tiap pos. Khusus untuk pos yang memiliki dua jenis permainan, waktu dibagi menjadi masing-masing lima menit untuk setiap permainan.

Pos pertama menghadirkan permainan Balogo dan Eat Bulaga. Pada permainan Balogo, adik-adik menggunakan “logo” berupa kepingan dari tempurung kelapa atau kayu berbentuk balok yang diarahkan menggunakan stik pemukul untuk menjatuhkan sasaran di depan mereka. Dengan penuh semangat, mereka bergantian mencoba mencetak poin sebanyak-banyaknya. Setelah itu, permainan dilanjutkan dengan Eat Bulaga, yaitu permainan menebak kata. Salah satu peserta akan memegang sebuah kata di atas kepala mereka sementara teman-teman lainnya memberikan petunjuk agar jawaban dapat ditebak dengan benar. Kekompakan dan komunikasi yang baik menjadi kunci utama dalam permainan ini.

Keseruan Bermain Balogo

(Dokumentasi Tim TGR, 2026)

Pada pos kedua, adik-adik memainkan gasing dan cerdas cermat seputar pengetahuan dasar agama Islam. Pada permainan gasing, peserta diajarkan cara melilitkan tali pada gasing lalu melemparkannya agar dapat berputar dengan stabil. Sorak-sorai terdengar ketika gasing milik beberapa peserta berhasil berputar cukup lama di atas lantai. Setelah bermain gasing, kegiatan dilanjutkan dengan sesi cerdas cermat. Berbagai pertanyaan sederhana seputar agama Islam diberikan kepada peserta, seperti “Siapa nabi terakhir?”, “Berapa jumlah rakaat salat Magrib?”, hingga “Apa nama kitab suci umat Islam?”. Adik-adik pun terlihat sangat antusias mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan.

Keseruan Bermain di Pos Dua

(Dokumentasi Tim TGR, 2026)

Pos ketiga menghadirkan permainan Keprayan dan Memory Games. Pada permainan Keprayan, adik-adik duduk melingkar sambil mencoba mengambil satu batang lidi warna-warni tanpa menggeser lidi lainnya. Permainan ini membutuhkan ketelitian dan kesabaran yang tinggi karena sedikit gerakan saja dapat membuat lidi lainnya ikut bergerak. Setelah itu, permainan dilanjutkan dengan Memory Games, yaitu permainan mengingat posisi gambar. Beberapa gambar akan diperlihatkan dalam waktu singkat, kemudian ditutup kembali dan peserta diminta mengingat letak gambar tersebut dengan tepat. Permainan ini melatih daya ingat sekaligus konsentrasi para siswa.

Keseruan Bermain Keprayan

(Dokumentasi Tim TGR, 2026)

Sementara itu, pada pos keempat adik-adik bermain congklak. Permainan tradisional yang dimainkan menggunakan papan berlubang dan biji-bijian berwarna warni ini, mengajak peserta untuk menyusun strategi agar dapat mengumpulkan biji terbanyak di lumbung mereka. Dengan penuh semangat, para siswa bergantian memindahkan biji congklak sambil sesekali tertawa ketika strategi mereka berhasil mengungguli teman lainnya.

Tak terasa, waktu bermain pun berlalu begitu cepat. Setelah puas bermain permainan tradisional bersama teman-teman, kegiatan dilanjutkan dengan sesi kultum yang dilakukan sekitar 35 menit menjelang waktu berbuka puasa. Kultum disampaikan oleh seorang ustaz dengan tema kejujuran di bulan Ramadan. Melalui penyampaian yang ringan dan mudah dipahami, adik-adik diajak untuk memahami pentingnya berkata jujur, menjaga amanah, serta berbuat baik kepada sesama selama menjalani ibadah puasa. Setelah kultum selesai, seluruh peserta bersama-sama memanjatkan doa menjelang berbuka puasa.

Sesi Kultum Menjelang Azan Maghrib

(Dokumentasi Tim TGR, 2026)

Beberapa saat kemudian, kumandang azan Maghrib pun terdengar. Seluruh peserta segera membatalkan puasa bersama-sama dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan. Setelah menikmati hidangan berbuka, kegiatan dilanjutkan dengan salat Magrib berjamaah.

Eits, keseruan acara belum berhenti sampai di situ! Setelah berbuka puasa, adik-adik kembali diajak mengikuti kuis mini yang dipandu oleh Kak El dan Kak Farrell. Pertanyaan yang diberikan pun sangat beragam, mulai dari pengetahuan agama Islam, sambung ayat, hingga pertanyaan seputar permainan tradisional yang telah dimainkan sebelumnya. Peserta yang ditunjuk maju dan berhasil menjawab pertanyaan dengan benar mendapatkan hadiah spesial sehingga suasana kembali dipenuhi sorak semangat dari adik-adik.

Sesi Kuis Mini

(Dokumentasi Tim TGR, 2026)

Akhirnya, rangkaian kegiatan ngabuburit bersama siswa siswi SD IT Asy-Syaakiriin Duren Sawit pun ditutup dengan sesi foto dokumentasi bersama serta penutupan acara. Meski hari mulai malam, semangat dan senyum bahagia masih terlihat jelas dari wajah seluruh peserta. Melalui kegiatan ini, adik-adik tidak hanya mendapatkan pengalaman bermain permainan tradisional yang menyenangkan, tetapi juga belajar tentang kebersamaan, kerja sama, serta nilai-nilai kebaikan selama bulan Ramadan.

Sesi Foto Bersama Pembagian Hadiah

(Dokumentasi Tim TGR, 2026)

Setelah serangkaian acara selesai, keceriaan terpancar dari sesi wawancara singkat bersama beberapa peserta setelah seluruh rangkaian permainan selesai dilaksanakan. Dipandu oleh Kak Farell dari tim TGR, adik-adik diajak berbagi cerita mengenai pengalaman mereka selama mengikuti kegiatan ngabuburit SD IT Asy-Syaakiriin Duren Sawit. Mulai dari perasaan setelah bermain, permainan favorit, hingga harapan mereka terhadap kegiatan bersama TGR ke depannya.

Sebelum memulai sesi wawancara, Kak Farell terlebih dahulu mengajak seluruh peserta untuk berkenalan satu per satu. Dengan penuh percaya diri, adik-adik menyebutkan nama mereka secara bergantian, mulai dari Saad, Zaid, Rehan, hingga Ali. Suasana hangat dan santai pun langsung terasa ketika mereka mulai berbincang bersama.

Ketika ditanya mengenai perasaan mereka setelah bermain permainan tradisional bersama tim TGR, adik-adik langsung menjawab dengan penuh semangat secara bersamaan,

“Seru banget! Seru banget pokoknya!” seru mereka secara serempak.

Tak hanya itu, Ali juga menambahkan bahwa kegiatan hari itu tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memberikan pengalaman baru baginya.

“Senang. Jadi merasa lebih ada pengetahuan,” ujarnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Zaid yang tampak sangat antusias menceritakan keseruannya bermain bersama teman-teman dan kakak fasilitator.

“Senang banget. Permainannya juga asik pokoknya,” katanya singkat sambil tersenyum.

Setelah membahas perasaan mereka selama kegiatan berlangsung, Kak Farell kemudian mengajak adik-adik menceritakan permainan favorit yang paling berkesan bagi mereka. Beragam jawaban pun diberikan dengan penuh antusias. Saad memilih pos permainan gasing sebagai favoritnya.

“Pokoknya pos dua sih, permainan gasing,” ucapnya mantap.

Berbeda dengan Saad, Zaid mengaku paling menyukai permainan yang berada di pos satu. Sementara itu, Rehan memilih permainan Keprayan sebagai permainan favoritnya selama kegiatan berlangsung.

“Pos tiga, Keprayan,” jawab Rehan penuh semangat.

Ali pun tak kalah antusias ketika menyebut congklak sebagai permainan yang paling ia sukai hari itu. Masing-masing peserta terlihat memiliki pengalaman menyenangkan tersendiri di setiap pos permainan tradisional yang mereka kunjungi.

Menariknya, ketika ditanya mengenai permainan yang paling sulit dimainkan, hampir seluruh peserta langsung menjawab secara bersamaan bahwa tidak ada permainan yang terasa sulit bagi mereka.

“Gak ada!” jawab mereka serempak sambil tertawa.

Meski begitu, Rehan sempat menambahkan bahwa permainan Balogo cukup menantang untuk dimainkan. Mendengar jawaban tersebut, Kak Farell pun bercanda bahwa hampir seluruh peserta berhasil memainkan semua permainan dengan baik.

Di akhir sesi wawancara, Kak Farell meminta adik-adik memberikan penilaian terhadap kegiatan hari itu dengan skala satu sampai sepuluh. Namun, jawaban yang diberikan justru di luar dugaan. Dengan penuh semangat, Saad langsung memberikan nilai sempurna.

“Seratus!” jawabnya spontan.

Sementara itu, Zaid memberikan nilai 9,7 untuk kegiatan hari itu. Ketika ditanya alasan mengapa tidak memberikan nilai sempurna, Zaid menjawab dengan polos bahwa kegiatan tersebut masih bisa dibuat lebih seru lagi di masa mendatang.

“Masih bisa ditingkatin lagi,” ujarnya.

Tak kalah heboh, peserta lainnya kembali memberikan jawaban “seratus” sambil tertawa bersama teman-temannya. Melalui sesi wawancara sederhana ini, terlihat jelas bahwa kegiatan hari ini meninggalkan kesan menyenangkan bagi para peserta. Tidak hanya menghadirkan permainan tradisional yang seru, kegiatan ini juga menjadi momen penuh kebersamaan dan pengalaman baru yang berharga bagi adik-adik bersama tim TGR.

Nah, Sobat TGR, seru banget, kan, kegiatan ngabuburit di SD IT Asy-Syaakiriin Duren Sawit hari ini? Mulai dari ice breaking, bermain permainan tradisional, berbuka puasa bersama, hingga mini quiz yang penuh gelak tawa berhasil menciptakan banyak momen menyenangkan bagi adik-adik maupun kakak-kakak fasilitator TGR. Tidak hanya bermain bersama, mereka juga belajar tentang kerja sama, konsentrasi, sportivitas, hingga nilai-nilai kebaikan selama bulan Ramadan.

Melalui kegiatan ini, adik-adik jadi semakin mengenal berbagai permainan tradisional Indonesia yang seru dan penuh manfaat. Suasana hangat kebersamaan selama bermain dan berbuka puasa bersama pun menjadi pengalaman berharga yang sulit dilupakan.

Karena itu, yuk, terus ikuti kegiatan seru bersama TGR! Masih banyak permainan tradisional, cerita, dan pengalaman baru yang siap dimainkan bersama. Lupakan Gadget-mu, Ayo Main di Luar! (SYL/ed.)


Writer: Sylvi Laila Anwar

Editor: Eva

Graphic Designer: Indiana

Tgr Campaign Sd Asy Syaakiriin Tgr Goes To School Cingciripit Keprayan
Komentari Tulisan