Traditional Games Returns

Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar!

Permainan Tradisional: Masihkah Relevan dengan Perkembangan Zaman?  

Selasa, 18 Agustus 2020 ~ Oleh Traditional Games Returns ~ Dilihat 141 Kali

“Ampar ampar pisang, pisangku balum masak,
masak sabigi dihurung bari-bari, masak sabigi dihurung bari-bari”

Dahulu mungkin kita sering mendengar sekelompok anak-anak berkumpul dan menyanyikan lagu “ampar-ampar pisang” sembari bermain permainan tradisional Rangku Alu. Permainan ini dimainkan oleh minimal 5 (lima) pemain dengan memanfaatkan empat bilah kayu panjang yang dihentakkan dengan irama tertentu, sementara salah satu pemain melakukan lompatan di antaranya. Selain rangku alu, kadang kita turut melihat kelompok anak lain yang juga bermain permainan tradisional lainnya, seperti engklek, congklak, gobak sodor, bentengan, kelereng dan lain sebagainya.

  

(Dokumentasi TGR Community, 2018)

 

Pemandangan seperti ini rasanya sudah jarang sekali ditemukan di zaman sekarang. Perkembangan teknologi yang terlampau cepat membuat semua orang seakan harus berpikir dan bergerak cepat secara individual untuk dapat beradaptasi.

Banyak kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi yang pada akhirnya berdampak pada kehidupan sosial masyarakat. Kecenderungan suatu individu untuk hidup soliter dengan bantuan teknologi menjadikan eksistensinya dalam kehidupan sosial pada suatu kelompok masyarakat mulai berkurang. Seseorang juga mulai enggan untuk memberikan usaha lebih dalam pemenuhan kebutuhannya karena kemudahan yang diberikan oleh teknologi.

(Dokumentasi TGR Community, 2019)

 

Salah satu dampak nyata perkembangan teknologi bagi permainan anak adalah munculnya gim-gim daring yang lebih menarik secara visual. Sekarang ini, anak-anak lebih senang diam di rumah memainkan gim daring yang ada pada ponsel pintar ataupun perangkat teknologi lain, dibandingkan bermain permainan tradisional diluar bersama teman-teman sebaya. Ponsel pintar menawarkan kemudahan dan beragam permainan seru yang dapat dimainkan hanya dengan sentuhan jari, tanpa perlu capek-capek ataupun kotor-kotoran bermain di luar. Gim-gim daring tersebut pun diklaim oleh beberapa pihak dapat meningkatkan ketangkasan, konsentrasi, ketelitian, dan kemampuan visual anak.

Namun, di balik itu, gim daring dapat menyebabkan ketergantungan yang dapat mengganggu tumbuh kembang dan kehidupan sosial anak. Anak dapat menjadi abai terhadap lingkungan sekitarnya karena terlalu asyik bermain gim daring. Penelitian oleh Goh (et al, 2019), menyatakan bahwa kecenderungan bermain gim daring dalam waktu lama dapat menunjukkan bahwa seseorang memiliki self-esteem dan tingkat kesehatan psikologis yang rendah. Terutama untuk tipe ‘escapist’ gaming; yaitu mereka yang cenderung memainkan gim daring karena ingin terbebas dari permasalahan-permasalahan hidup. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh Hellström (et al, 2015) yang menyatakan bahwa kecanduan gim daring pada orang dewasa (yang juga berlaku untuk anak-anak) dapat mengindikasikan terjadinya depresi, menyebabkan kelemahan otot, dan gangguan psikosomatif.

(Dokumentasi TGR Community, 2018)

 

Lalu, bagaimana dengan permainan tradisional?

Permainan tradisional, berdasarkan namanya, merupakan jenis permainan yang diwariskan oleh nenek moyang secara turun temurun dan kerap kali dimainkan oleh anak-anak dan juga orang dewasa. Banyak makna kehidupan dan nilai-nilai luhur yang sebenarnya terkandung dalam kegiatan ini. Permainan tradisional dapat mengajarkan anak cara bersosialisasi yang baik melalui interaksi yang nyata dengan sesamanya, serta membantu mengajarkan bagaimana cara bersikap sportif yang baik apabila kalah ataupun menang saat bertanding.

  

(Dokumentasi TGR Community, 2018)

 

Permainan tradisional juga mengajarkan kesabaran dan usaha untuk mencapai tujuan. Contohnya saja melalui permainan layangan, sebelum dapat memainkannya, anak diajarkan untuk memanfaatkan kreatifitasnya dalam membuat layangan yang dapat terbang dengan baik. Anak juga dituntut untuk sabar dalam menerbangkan layangan dengan memperhitungkan arah angin yang tepat.

(Dokumentasi TGR Community, 2018)

 

Permainan tradisional melalui beberapa penelitian diketahui dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kesehatan fisik dan psikologi anak usia sekolah, baik dari aspek kognitif, kecerdasan emosional, hingga aspek hubungan sosial anak (Dewi et al, 2018; Siregar dan Ilham, 2019). Secara fisik, permainan tradisional dapat membantu perkembangan aspek gerak motorik halus dan kasar anak. Anak-anak yang cenderung introvert pun dapat lebih termotivasi aktif melalui penyampaian materi dengan permainan tradisional. Oleh karena itu, permainan tradisional direkomendasikan untuk dapat dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah atau dapat pula digunakan sebagai salah satu sarana ajar oleh para guru (Trajkovik et al, 2018).

Sebagai kesimpulan akhir, tidak selamanya yang ‘tradisional’ akan ketinggalan zaman. Permainan tradisional masih dipercaya dapat memberikan dampak positif bagi tumbuh kembang anak. Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar! (AWD/ed.SF)

 

Referensi:

Goh, C., Jones, C. & Copello, A. (2019). A Further Test of the Impact of Online Gaming on Psychological Wellbeing and the Role of Play Motivations and Problematic UsePsychiatr Q, 90, 747–760.

Hellström, C., Nilsson, K. W., Leppert, J., & Åslund, C. (2015). Effects of adolescent online gaming time and motives on depressive, musculoskeletal, and psychosomatic symptomsUpsala journal of medical sciences120(4), 263–275.

Dewi, Ni Luh Made Asri. (2018). The Effect Of Traditional Game Of Magoak-Goakan To The Development Of Prosocial Behavior Among Preschool Children (5-6 Years Old) At Maria Fatima Kindergarten Jembrana Bali. IOSR Journal of Nursing and Health Science, vol. 7 (5), 2018, pp. 01-07.

Trajkovik, V., Malinovski, T., Vasileva-Stojanovska, T., & Vasileva, M. (2018). Traditional games in elementary school: Relationships of student's personality traits, motivation and experience with learning outcomesPloS one13(8), e0202172. 

 

Permainan Tradisional
Komentari Tulisan