Traditional Games Returns

Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar!

Pancasila dan Permainan Tradisional : Esensi Kebudayaan dalam Falsafah Bangsa

Jum'at, 26 Juni 2020 ~ Oleh Traditional Games Returns ~ Dilihat 61 Kali

Hai Sobat TGR!

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang Pancasila. Kita tentu tahu, Hari Lahir Pancasila diperingati setiap tanggal 1 Juni dan Hari Kesaktian Pancasila diperingati setiap tanggal 1 Oktober. Kita juga pasti paham bahwa Pancasila memiliki lima dasar, lima sila dan lima asas yang berbeda-beda ikhtisarnya. Namun, tahukah Sobat, Pancasila juga memiliki keterkaitan erat dengan kebudayaan, khususnya dalam permainan tradisional?

Sebagai catatan, kita akan mengulas satu jenis permainan pada setiap sila. Mengutip referensi Pembiasaan Karakter Melalui Permainan Rakyat (Mohamad Zaini Alif, 2019), yuk kita simak ulasannya!

 

  • Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Permainan Hompimpa

(Dokumentasi TGR Community, 2018)

 

Kita semua sangat mengenal permainan hompimpa, bukan? Hompimpa, atau juga disebut gambreng, adalah permainan yang dilakukan untuk mengawali permainan lainnya. Tujuannya ialah untuk menentukan siapa yang akan menjadi pemain pertama dalam suatu permainan (Yulita, 2017). Frasa tersebut dikutip dari naskah berbahasa Sanskerta yang konon kalimat aslinya sebagai adalah “hongpimpa alaihong gambreng” (Kumala, 2019). 

Di sisi lain, frasa hompimpa alaium gambreng memiliki makna "dari Tuhan kembali ke Tuhan, ayo kita bermain". Hal ini dimaksudkan supaya kita berdoa terlebih dahulu sebelum bermain. Makna tersebut sesuai dengan salah satu makna sila pertama Pancasila, yakni asas Ketuhanan.

 

  • Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dalam Permainan Congklak

(Dokumentasi TGR Community, 2019)

 

Permainan congklak adalah salah satu permainan yang tetap eksis hingga saat ini. Permainan ini dimainkan oleh dua orang pemain yang duduk berhadapan. Congklak membutuhkan sebilah papan kayu - atau bisa juga menggunakan papan congklak berbahan plastik - yang telah dilubangi sejumlah 16 lubang. Masing-masing pemain akan mendapat bagian delapan lubang dan 49 biji congklak. Tujuh lubang kecil pada papan congklak diisi dengan biji-biji congklak dibagi rata di setiap lubangnya (Supriyono, 2018). Sobat TGR sudah mengerti cara bermainnya, bukan? 

Ternyata, di balik permainan congklak, kita berlatih dalam memikirkan strategi supaya mendapatkan biji congklak terbanyak; kita melatih kejelian dalam berhitung; serta melatih ketangkasan tangan dan kejujuran membagi biji di setiap lubang permainan. Semua manfaat tersebut sejalan dengan makna asas Kemanusiaan.

 

  • Sila Ketiga, Persatuan Indonesia dalam Permainan Bakiak

(Dokumentasi TGR Community, 2019)

 

Permainan bakiak adalah permainan yang sangat populer untuk dilombakan ketika 17 Agustusan tiba. Untuk memainkan permainan bakiak, kita memerlukan sebilah papan panjang sebagai alas, kemudian pada jarak tertentu dipasangkan karet layaknya sebuah bakiak. Biasanya, permainan ini memerlukan satu tim yang beranggotakan 3-4 orang.

Permainan ini memerlukan kerja sama antaranggota tim supaya dapat berjalan menggunakan bakiak secara kompak dalam satu irama/komando. Dari hal ini saja, kita dapat menyimpulkan bahwa permainan bakiak memiliki salah satu makna sila ketiga, yaitu asas Persatuan.

 

  • Sila Keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan dalam Permainan Benteng

(Dokumentasi TGR Community, 2019)

 

Permainan benteng/bentengan menjadi salah satu permainan favorit di era 90-an, lho! Untuk memainkan permainan ini, kita membutuhkan arena bermain berupa tanah lapang dan dua media yang dijadikan 'benteng', seperti tiang, pohon, dinding, atau bahkan bongkahan batu. Permainan benteng juga memerlukan setidaknya 8-10 orang pemain yang dibagi menjadi dua tim.

Strategi dalam permainan ini adalah mengatur bagaimana para pemain dapat mencapai benteng lawan, meloloskan diri, serta berusaha membebaskan rekan satu tim yang ditahan di benteng lawan (Supriyono, 2018). Permainan benteng memerlukan adanya musyawarah dengan sesama anggota tim supaya dapat menentukan strategi yang jitu. Maka, tidak salah jika permainan benteng memiliki salah satu makna Pancasila sila keempat, yakni Asas Kerakyatan/Musyawarah.

 

  • Sila Kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia dalam Permainan Jamuran

(Ilustrasi Pustakatulistiwa.com, diakses 25 Juni 2020)

 

Permainan jamuran berasal dari pulau Jawa, khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta. Jumlah pemainnya berkisar antara 4-12 orang serta tidak membutuhkan peralatan khusus selain arena bermain yakni sebidang tanah lapang sesuai banyaknya pemain. Jamuran memiliki lagu pengiring yang dinyanyikan oleh semua pemain tanpa terkecuali. Lagu tersebut dinyanyikan satu kali setiap rondenya (Dharmamulya, 2008).

Mula-mula, tentukan satu pemain yang jaga (dadi) dan pemain yang menjadi peraga (mentas). Kemudian, para pemain mentas membuat lingkaran mengelilingi pemain dadi dan menyanyikan satu ronde lagu Jamuran. Setelah pemain dadi memilih satu jenis 'jamur', para pemain mentas harus memeragakan jenis 'jamur' yang dimaksud.

Uniknya, tugas pemain dadi adalah menggoda atau membuat pemain mentas tidak dapat menyelesaikan tantangan sesuai 'jamur' yang dipilih. Jika demikian, maka pemain mentas yang kalah tersebut bertukar posisi menjadi pemain dadi dan permainan dimulai kembali ke ronde berikutnya. Setiap pemain berhak untuk mendapatkan giliran menjadi peraga atau pemain dadi. Kesimpulannya, permainan ini sarat dengan salah satu makna sila kelima Pancasila, yakni asas Keadilan.

 

Nah, itulah pembahasan tentang beberapa jenis permainan tradisional yang memiliki khasanah Pancasila. Melalui beragamnya jenis permainan tradisional di Indonesia, ayo, kita tetap melestarikan budaya bangsa kita dengan optimis dan semangat menyongsong hari esok! Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar! (SF)

 

Referensi:

Anonim. ___. Jamuran (Sunan Giri). Diambil dari pustakatulistiwa.com/2019/04/jamuran-sunan-giri.html. Diakses 25 Juni 2020.

Dharmamulya, Sukirman dkk. 2008. Permainan Tradisional Jawa. Yogyakarta: Kepel Press.

Kumala, Aprilia. 2019. Kursus Kilat Legowo Pakai Hompimpa Alaium Gambreng. Diambil dari https://mojok.co/apk/komen/versus/kursus-kilat-legowo-pakai-hompimpa-alaium-gambreng/. Diakses 25 Juni 2020.

Supriyono, Andreas. 2018. Serunya Permainan Tradisional Anak Jaman Dulu. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Yulita, Rizky. 2017. Permainan Tradisional Anak Nusantara. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Zaini Alif, Mohamad. 2019. Pembiasaan Karakter Melalui Permainan RakyatReferensi digital.

Permainan Tradisional Pancasila Sila Pancasila Hompimpa Congklak Bakiak Benteng Jamuran
Komentari Tulisan