Traditional Games Returns

Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar!

Mengenal Asal Mula Hari Anak Universal

Kamis, 19 Nopember 2020 ~ Oleh Traditional Games Returns ~ Dilihat 95 Kali

Hai, Sobat TGR!

Bulan November merupakan bulan spesial bagi anak-anak, karena di bulan inilah diperingati Hari Anak Universal yang bertujuan menyebarkan kesadaran akan hak anak pada masyarakat dunia. Nah, tahukah Sobat jika perjuangan hak anak ini memiliki sejarah yang panjang termasuk di Indonesia? Yuk, kita simak ulasannya!

(Dokumentasi TGR Community, 2020)

 

Gagasan tentang hak anak diawali setelah berakhirnya Perang Dunia I. Saat itu, banyak anak-anak yang menderita karena kehilangan keluarga, perlindungan dan kesempatan tumbuh kembang yang layak. Eglantyne Jebb, pendiri Save the Children – organisasi non-pemerintah yang mempromosikan hak anak – merancang 10 deklarasi hak anak yang diadopsi secara internasional pada 1924 oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kemudian, pada tahun 1948 setelah Perang Dunia II, Deklarasi Hak Anak menjadi bagian dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang membahas khusus bagian anak.

PBB kembali mengeluarkan Deklarasi Hak Anak Internasional yang kedua pada 20 November 1959. Dua puluh tahun berselang, Pemerintah Polandia mengusulkan diadakannya Konvensi Hak Anak yang menjadi dokumen standar yang diakui negara-negara dunia tentang hak anak. Sejak usulan tersebut, Konvensi Hak Anak pun dirancang dan selesai pada tahun 1989 hingga diresmikan tanggal 20 November di New York, Amerika Serikat. Karena Deklarasi dan Konvensi Hak Anak diresmikan 20 November, maka tanggal ini pun ditetapkan sebagai Hari Anak Universal.

(Dokumentasi TGR Community, 2020)

 

Indonesia ternyata menjadi salah satu negara yang berpartisipasi dalam konvensi tersebut lho! Namun, pemberlakuannya baru dimulai setahun setelahnya, yakni pada tahun 1990. Tentunya, hal ini menjadi dasar bagi Indonesia dan setiap penduduknya, termasuk kita, untuk berusaha memenuhi hak-hak anak sesuai yang disepakati dalam konvensi.

Terdapat empat prinsip dalam konvensi berkaitan dengan hak anak, yaitu nondiskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak menjadi pertimbangan utama, kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang, serta penghargaan pada pandangan anak. Dalam kelangsungan tumbuh kembang anak, bermain menjadi salah satu aspek penting yang berpengaruh pada kehidupan anak sampai nanti ketika dewasa.

Jessica Joelle Alexander dan Iben Dissing Sandahl (2016) dalam bukunya The Danish Way of Parenting menyebutkan bahwa dengan bermain, seorang anak dapat belajar ketangguhan, membangun harga diri, mengelola stres, beradaptasi pada lingkungannya dan mahir dalam pergaulan. Namun, ada tips dari Jessica dan Iben untuk bermain yang baik agar bisa mendapat manfaatnya, di antaranya mematikan TV dan gadget/gawai, menyediakan media yang bisa menjadi stimulasi semua indra dan membiarkan penjelajahan di luar.

   

(Dokumentasi TGR Community, 2020)

 

Sobat tentu tahu, semua tips tersebut cocok dengan ciri bermain permainan tradisional, iya kan? Artinya, permainan tradisional memberikan manfaat dan mengajarkan berbagai kemampuan yang diperlukan anak dalam menghadapi kehidupan kedepannya. Selain itu, dengan bermain permainan tradisional, kita bisa ikut berupaya melestarikan budaya Indonesia. Tunggu apa lagi? Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar! (Cdr/ed.SF)

 

Referensi:

Alexander, J.J., Sandahl I.D. (2016). The Danish Way of Parenting (diterjemahkan oleh Kumalasari A, Tripeni Y., 2018). Yogyakarta: B-First.

Kementerian PPA. 2019. Modul Dasar Pelatihan Konvensi Hak Anak dalam Pencegahan dan Penanganan Kekerasan dan Eksploitasi Terhadap Anak Bagi Penyedia Layanan dan Aparat Penegak Hukum: https://www.kemenpppa.go.id/lib/uploads/list/08af0-buku-modul-kpppa-kha.pdf. Diakses 20 November 2020.

Hari Anak Universal Sejarah Asal Mula
Komentari Tulisan