Halo sobat TGR!
Sudah hampir dua tahun COVID-19 mewabah di negeri kita tercinta, semua aspek kehidupan terdampak karenanya, salah satunya kegiatan pembelajaran di sekolah yang terpaksa dialihkan dari rumah. Selama berada di rumah, tidak banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengusir rasa suntuk dan bosan, hanya gawai di tangan yang jadi pelampiasan. Bermain media sosial dan gim sampai lupa waktu, ditambah lagi keperluan proses belajar via daring yang membuat ketergantungan terhadap gawai semakin parah.
Saat ini gawai sangat melekat di kehidupan masyarakat, termasuk anak-anak dan akibatnya mereka menjadi malas bergerak dan bermain bersama teman-teman di lingkungan sekitar. Waktu yang dihabiskan lebih banyak untuk menatap layar ponsel dan semakin diperparah oleh pandemi yang mengharuskan untuk berdiam diri di rumah. Akibatnya, permainan tradisional lambat laun akan semakin tergerus dan hilang tertelan zaman.
Keadaan saat ini berbeda dengan saat aku kecil dulu, saat gawai masih belum terlalu dikenal dan permainan tradisional menjadi pilihan untuk bermain setelah pulang sekolah. Permainan yang pernah aku mainkan saat masih kecil meski dengan alat seadanya, namun kesenangan yang didapatkan sepenuhnya. Berbagai permainan yang biasa aku mainkan bersama teman-teman di lingkungan sekitar rumah seperti kelereng dengan mengincar lawan yang posisinya lebih dekat dengan garis awal.
Kemudian permainan engklek atau di tempatku disebut dengan cengkleng, permainan yang hanya memerlukan kapur untuk menggambar kotak dan setengah lingkaran yang akan dilewati oleh pemainnya. Ada lagi permainan ular naga yang dimainkan dengan membentuk barisan panjang ke belakang seperti ular dan dua orang yang berperan sebagai terowongan yang akan dilewati oleh barisan pemain itu sembari menyanyikan lagu bersama, sampai ada pemain yang tertangkap saat lagunya selesai.
Dari antara banyaknya permainan tradisional, yang paling aku sukai adalah petak umpet, atau di daerahku disebut dengan tukupan. Permainan yang dimainkan oleh beberapa orang dengan satu orang yang ditunjuk sebagai penjaga dan pemain lainnya akan bersembunyi. Penjaga akan mencari pemain lainnya sembari menjaga tempatnya. Momen yang paling diingat dari permainan ini yaitu ketika penjaga berhasil menemukan pemain yang bersembunyi dan menyebutkan namanya lalu mengucapkan kata “sen”, sebagai tanda pemain sudah tertangkap.
Masih ada banyak lagi permainan tradisional yang seru untuk dimainkan bersama teman-teman, pandemi ini bisa dijadikan momen nostalgia mengingat kembali masa-masa menyenangkan tanpa gawai. Semua permainan tradisional itu tidak akan pernah tergantikan oleh teknologi dan sudah sepatutnya kita menjaga dan melestarikannya sebagai warisan untuk anak cucu kita nanti. (Kontributor, Ari Susanto/ed.AW)
Referensi Gambar:
_____. (2018). Ular Naga. Dikutip dari Budaya Indonesia: https://budaya-indonesia.org/Ular-ularan. Diakses pada 25 Agustus 2021.
Permainan Tradisional Opini Sobat Tgr Merdeka Bermain Merdekabermain