Maluku, 9 Oktober 2021 - TGR Community mendapat kesempatan dalam peluncuran Gerakan JAGOAN “Jauhkan Adiksi Gawai, Optimalkan Potensi Anak” (JAGOAN), di Kota Musik Ambon, Provinsi Maluku. Kampanye dan program tersebut digagas oleh Yayasan Sejiwa dan didukung oleh Walikota Ambon, Kepala Dinas Pendidikan Kota Ambon, pendiri AUKC (Ambon Ukulele Kids Community) Nico Tulalessy, Komunitas Lebebae, Komunitas Anak Cinta Laut (ACL), psikiater, ahli neurosains, dan para mitra dari Maluku. Kegiatan diselenggarakan secara virtual pada pukul 06.30-09.30 WIB/08.30-11.30 WIT melalui media Zoom Meeting dan kanal YouTube Yayasan Sejiwa. Kegiatan tersebut terbagi menjadi beberapa segmen yang dimoderatori oleh host dan diisi dengan pemaparan dari sejumlah narasumber dan pembicara.
Diena Haryana, Pendiri Yayasan SEJIWA menyampaikan perlunya melibatkan sejumlah mitra dari berbagai wilayah di Indonesia, agar berbagai potensi daerah yang merupakan ‘success stories’ dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua. “'Jauhkan Adiksi Gawai, Optimalkan Potensi Anak” (JAGOAN), ternyata sudah banyak dilakukan, baik di sekolah-sekolah maupun oleh para penggiat anak serta anak-anak sendiri, di Maluku dan hasilnya sangat luar biasa,” ujar Diena.

(Dokumentasi TGR Community, dikutip dari kanal YouTube Yayasan Sejiwa, 2021)
Walikota Ambon, Richard Louhenapessy, turut hadir dalam peluncuran gerakan ini sekaligus mengenalkan potensi Maluku yang kaya dengan kegiatan-kegiatan anak yang penuh komitmen, konsisten dan sangat menginspirasi. “Saat ini dari TK dan PAUD, sedang dikembangkan kurikulum musik. Dengan bermusik, anak-anak terpacu untuk ceria, kreatif, bahagia, bertanggung jawab, senang berkolaborasi dengan orang lain dan bersemangat. Musik akan bisa membangun karakter unggul anak-anak kita, juga ketrampilan hidup mereka,” tutur Richard.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Ambon, Drs. Jhon Sanders, M.Pd., menyampaikan agar musik dapat menjadi sarana pembentukan karakter generasi muda Ambon. Beliau menyampaikan, “Kami berkomitmen agar di sekolah anak-anak diperkenalkan musik sedini mungkin, kurikulum musik sudah masuk untuk tingkatan SD dan SMP. Anak-anak belajar alat-alat musik tradisional Maluku seperti ukulele, tifa, seruling bambu dan rebana.”
Nico Tulalessy, pendiri AUKC (Ambon Ukulele Kids Community), mengatakan musik dan menjauhkan anak-anak dari adiksi gawai. “AUKC dibentuk dengan tujuan menyediakan kegiatan alternatif bagi anak-anak untuk mengisi waktu luang agar tidak melulu menghabiskan waktu dengan bermain gadget yang dapat menyebabkan kecanduan. Anak-anak ini senang bermusik karena di Maluku semua orang suka musik, tapi mereka juga senang berkegiatan dengan teman-teman mereka, berlatih terus dengan konsisten. Musik membuat mereka berkembang, bergembira, dan tidak lekat dengan gawainya.”
Kezia Tulalessy (16 tahun), pendiri komunitas anak pencinta lingkungan hidup di Maluku, Lebebae, menyatakan mencintai laut dan pantai lebih baik daripada lekat pada gawai. “Kami banyak berkegiatan di akhir pekan, untuk mengangkat sampah di berbagai tempat, berinteraksi dengan alam, bermain permainan-permainan tradisional dan belajar lebih dalam tentang lingkungan hidup. Hal ini membuat kami semua tidak lekat dengan gawai. Adiksi gawai tidak terjadi. Kami sadar untuk melindungi diri dari adiksi gawai lewat kegiatan kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat di Lebebae.”
Karakter anak terbangun oleh kesempatan-kesempatan yang diperolehnya lewat banyak kegiatan di dunia nyata, baik melalui bermain, berteman, berinteraksi dengan alam, berolahraga, maupun pengembangan khusus dari potensi setiap anak yang dikaruniakan oleh sang Pencipta. Hal ini diyakini oleh Prof. Dr, Pamella Mercy Papilaya, M.Pd, ahli pendidikan dari Universitas Pattimura.
“Anak harus berinteraksi dengan dunia nyata, sehingga ia mengenali dan mencintai lingkungan hidupya. Melalui kegiatan ini, tumbuh kepedulian, tanggung jawab, dan kemampuan anak agar bermanfaat bagi lingkungannya. Anak memerlukan arahan dan dampingan orang tua, agar cakap berdigital. Jangan sampai anak begitu lekat dengan gawainya sehingga ia justru jauh dan lupa akan lingkungan hidupnya,” sambung Pamella.

Dokumentasi TGR Community, dikutip dari kanal YouTube Yayasan Sejiwa, 2021)
Hasil penelitian yang dilakukan oleh dr. Kristiana Siste, dr. Enjeline, dan tim Divisi Psikiatri Adiksi Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa FKUI-RSCM di 34 provinsi di Indonesia selama masa pandemi COVID-19 pada bulan Mei-Juli 2020 menunjukkan bahwa angka kecanduan internet mencapai 19,3% pada remaja dan 14,4% pada dewasa muda.
Ada sejumlah 2.933 remaja mengalami peningkatan durasi online dari 7,27 jam menjadi 11,6 jam perhari, meningkat sekitar 59,7%. Sedangkan pada 4.734 dewasa muda mengalami peningkatan durasi online menjadi 10 jam/hari. Hal ini harus diintervensi segera karena kecanduan internet menimbulkan dampak negatif bagi otak, fisik, kesehatan jiwa, dan sosial. Hal ini menyebabkan seseorang sulit membuat keputusan, sulit konsentrasi dan fokus, pengendalian diri buruk, prestasi menurun, penurunan kapasitas proses memori, serta kognisi sosial negatif. Adiksi gawai berdampak sangat buruk pada anak.

(Dokumentasi TGR Community, dikutip dari kanal YouTube Yayasan Sejiwa, 2021)
Diena Haryana mengingatkan bahwa, “1 dari 7 orang dewasa mengalami adiksi gawai, dan 1 dari 5 remaja mengalami adiksi gawai. Ini bisa merugikan potensi Indonesia dalam menghadapi masalah kehidupan yang membutuhkan ketangguhan, keunggulan dan kreatifitas. Dibutuhkan segala upaya untuk menumbuhkan potensi anak-anak kita. Apa yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan di Maluku, para penggiat anak serta anak-anak sendiri dalam membangkitkan potensi anak layak diapresiasi dan menjadi pembelajaran baik buat kita semua”. Senada dengan Diena, ahli neurosains terapan, drg. Anne Gracia, menyampaikan gagasannya, “Adiksi gawai bukan kondisi spontan tapi bergulir bersama pembiaran dan pembiasaan, sejak awal kendali perlu ditegakkan.”
Peluncuran kampanye dan program di Maluku ini juga dihadiri oleh Dr. Muhammad Hasbi, Direktur PAUD Kemdikbudristek. “Apresiasi dari kami untuk inisiatif JAGOAN ini, di mana program sangat relevan dengan tumbuh kembang anak, termasuk di masa usia dini,” paparnya. Hal ini diamini juga oleh Wakil Ketua KPAI, Rita Pranawati, yang turut hadir pada peluncuran virtual ini. Dalam sambutannya Rita menyatakan komitmen KPAI untuk mendukung inisiatif dari masyarakat seperti yang dilakukan SEJIWA bersama mitra ini.

(Dokumentasi TGR Community, dikutip dari kanal YouTube Yayasan Sejiwa, 2021)
Kemudian hadir juga Aghnina Wahdini, M.I.Kom, anak muda yang mendirikan Traditional Games Returns Community. “Penting juga memberikan alternatif bermain bagi anak, salah satunya dengan mengenalkan dan mengajak anak bermain permainan tradisional. Selain menyenangkan sekaligus sarana pengenalan budaya, permainan tradisional juga akan mengajarkan nilai-nilai positif yang bisa menjadi bekal tumbuh kembang anak di masa mendatang." papar Nina.
Pemerhati pendidikan dan pakar pendidikan karakter, Doni Koesoema, mengatakan bahwa musik dapat menghaluskan rasa dan menajamkan budi anak sehingga ia bertumbuh menjadi anak-anak yang baik. “Ki Hajar Dewantara mengingatkan kita bahwa tujuan pendidikan adalah untuk membentuk anak menjadi pribadi yang cerdas, berbudi luhur, dan sehat. Musik merupakan sarana paling optimal untuk mencapai tiga hal ini. Cinta pada musik, disertai kepedulian pada alam, akan membentuk jiwa kepemimpinan anak-anak Maluku,” pungkas Doni.
Tayangan lengkap kegiatan daring dapat disaksikan ulang di sini. Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Rumah! (SF)
Referensi:
Press Release Yayasan Sejiwa Luncurkan Kampanye dan Program “Jauhkan Adiksi Gawai, Optimalkan Potensi Anak” (JAGOAN) di Kota Musik Ambon, oleh Yayasan Sejiwa. Maluku, 9 Oktober 2021.
Tgr Jalan-jalan Kampanye Jagoan Sejiwa Permainan TradisionalMitra Kolaborasi:
Copyright © 2017 - 2026 Traditional Games Returns All rights reserved.