Traditional Games Returns

Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar!

Permainan Tradisional Sebagai Media Terapi Stimulasi Anak Inklusi

Rabu, 02 Maret 2022 ~ Oleh Zahara Choirunnisa ~ Dilihat 3369 Kali

Hai Ayah Bunda!

Apakah Ayah Bunda ingat kapan terakhir bermain dengan si kecil? Setiap makhluk hidup pasti melewati fase tumbuh dan berkembang. Pada manusia, proses tumbuh kembang terjadi sangat cepat, khususnya pada masa kanak-kanak. Pertumbuhan dan perkembangan yang baik, menjadi modal utama bagi kelangsungan hidup di masa mendatang. Sebaliknya, jika proses tumbuh kembang anak tidak baik, maka dapat menghambat kelangsungan hidupnya, dan diperlukan kebutuhan khusus untuk menstimulasi tumbuh kembangnya.

Stimulasi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) atau yang kini juga dikenal sebagai anak inklusi utamanya dilakukan oleh orang-orang terdekat, seperti ayah, ibu, pengasuh, dan pengajar ketika di sekolahnya. Pemberian stimulasi salah satunya dapat dilakukan melalui kegiatan bermain.

(Dokumentasi TGR Community, 2019)

 

Seperti yang kita ketahui, dalam melatih stimulus anak berkebutuhan khusus harus lebih digalakkan. Dari tahun ke tahun, makin marak klinik-klinik yang membuka layanan terapi stimulus untuk tumbuh kembang anak, khususnya di kota-kota besar. Dengan biaya yang cukup mahal, klinik yang ada aksesnya cukup terbatas pada golongan ekonomi menengah ke atas saja.

Namun, Ayah Bunda tak perlu risau, melatih stimulus anak berkebutuhan khusus juga bisa dilakukan melalui media-media sederhana di sekitar kita. Apakah Ayah Bunda tahu bahwa permainan tradisional juga bisa menjadi media terapi stimulasi anak inklusi?

(Dokumentasi TGR Community, 2019)

 

Permainan tradisional memiliki banyak manfaat bagi tumbuh kembang anak. Selain mudah ditemukan di lingkungan sekitar, permainan tradisional tidak memerlukan biaya yang mahal. Maka dari itu, permainan tradisional bisa menjadi alternatif untuk melatih stimulasi anak inklusi.  Dari beragam permainan tradisional di sekitar kita, berikut manfaatnya untuk tumbuh kembang anak inklusi.

  1. Anak mendapatkan kegembiraan dan hiburan. Kegembiraan merupakan bentuk emosi positif yang diperlukan untuk kesehatan fisik dan mental anak inklusi, sehingga bisa membantu memunculkan potensi-potensi anak yang masih bisa digali.
  2. Melatih kemampuan motorik halus maupun motorik kasar anak inklusi. Gerakan berlari, melompat, membidik, membungkuk, dan lain-lain bisa menjadi media stimulasi pada perkembangan fisik anak.
  3. Melatih kecerdasan dan ketajaman eksplorasi lingkungan sekitar. Anak inklusi yang memiliki hambatan intelektual bisa dilatih stimulasinya dengan cara bermain dan mengeksplorasi lingkungan sekitarnya, yang secara tidak langsung anak dapat belajar bentuk, warna, suara, huruf, angka, dan lainnya.
  4. Anak belajar bersosialisasi dan berinteraksi dengan teman-temannya. Permainan tradisional yang dimainkan oleh lebih dari dua orang dapat menjadi media belajar anak untuk bersosialisasi, melalui interaksinya dengan teman-teman sepermainannya, anak belajar rasa empati, toleransi, kejujuran, serta kesabaran.
  5. Melatih kemampuan berbahasa. Untuk menambah kosakata/perbendaharaan kata anak inklusi, stimulasi dapat dilakukan melalui syair lagu yang dinyanyikan bersama saat bermain, seperti pada permainan lir-ilir, cublak-cublak suweng, dan lainnya.
  6. Melatih fokus dan perhatian. Untuk anak-anak dengan rentang perhatian/fokus yang pendek, permainan tradisional dapat menjadi media stimulasi seperti pada permainan congklak, balap karung, kucing tikus, roda gelinding, dan lainnya.    
  7. Melatih keseimbangan anak. Dalam permainan kelom batok, roda gelinding, perepet jengkol dapat menjadi media stimulasi untuk melatih keseimbangan anak inklusi.

(Dokumentasi TGR Community, 2019)

 

Dari berbagai cara melatih stimulasi pada anak inklusi, Ayah dan Bunda tetap harus menyesuaikan dengan kebutuhan dan usia anak. Permainan tradisional bisa dipilih menjadi media alternatif untuk si kecil melatih stimulasi dan membangun kedekatan antara orang tua dan anak. Jadi, ayo ajak anak bermain tradisional bersama! Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Rumah! (Kontributor, Zahara Choirunnisa/ed.SF)

 

Referensi:

Utomo dan Murniyanti Ismail. 2019. Permainan Tradisional: Media Stimulasi & Intervensi AUDBK. [Kalimantan Selatan]: FKIP ULM Press.

Tgr Parenting Anak Inklusi Permainan Tradisional
Komentar
Ana Melani Rahman
Sangat bermanfaat!????????????????????
17 Maret 2022
Komentari Tulisan