Traditional Games Returns

Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Rumah!

Fenomena FOMO sebagai Salah Satu Dampak dari Adiksi Gawai

Rabu, 08 Juni 2022 ~ Oleh Traditional Games Returns ~ Dilihat 219 Kali

Halo Ayah dan Bunda!

Perkembangan zaman telah membuat kita mengenal media sosial. Melalui media sosial, seseorang dapat terhubung dan menjalin komunikasi secara virtual dengan berbagai orang di seluruh wilayah. Selain itu, media sosial juga dapat menjadi wadah untuk menyebarkan berbagai momen menarik. Ini menjadikan hampir semua orang suka menggunakan media sosial.

Apakah Ayah dan Bunda adalah salah satunya? Kemudahan dan kesenangan yang ditawarkan media sosial seperti Instagram, Tiktok, atau Facebook memang memberikan manfaat bagi kita. Akan tetapi, terlalu sering menggunakan media ini juga memiliki dampak buruk lho. Salah satunya adalah fenomena FOMO. 

(Ilustrasi Mindful.org via SketsaUnmul, diakses 27 Mei 2022)

 

FOMO adalah salah satu fenomena yang saat ini cukup mendapatkan perhatian dari masyarakat. FOMO atau singkatan dari Fear of Missing Out adalah bentuk ketakutan, kekhawatiran, serta kecemasan ketika seseorang mengalami ketertinggalan momen dan informasi (Aisafitri dan Yusriyah, 2020). FOMO dapat dikatakan sebagai salah satu dampak dari adiksi gawai. Intensitas penggunaan media sosial yang tinggi ini dapat meyebabkan seseorang mengalami FOMO.

Kondisi ini dapat muncul apabila seseorang terus menerus menggunakan media sosial dan terpapar oleh berbagai unggahan yang dibagikan seseorang, misalnya teman atau kerabat. Ini memicu timbulnya rasa kecanduan atau ketagihan untuk selalu memantau aktivitas media sosial. Fenomena ini sangat didukung oleh karakteristik pengguna media sosial di Indonesia yang selalu ingin mengikuti tren. Adrianjara dalam Parapuan.co menambahkan jika seseorang pengguna tidak mengikuti tren ini, ia akan merasa kurang pergaulan, kurang up to date, dan takut tertinggal. 

FOMO dapat dialami oleh siapapun. Dikutip dari RSPH (Akbar dkk, 2018), terdapat kurang lebih 40% pengguna media sosial mengalami sindrom ini. Meskipun terlihat sepele, dampak dari fenomena ini dapat mempengaruhi  aktivitas kita dalam kehidupan sehari-hari, lho! Adapun dampak dari seseorang yang mengalami FOMO antara lain, munculnya perasaan rendah diri, merasa terhina, hingga depresi. Seseorang juga dapat menjadi individu yang obsesif terhadap media sosial dan selalu merasa harus memantau media ini.

(Ilustrasi via Gadis.co.id, diakses 27 Mei 2022)

 

Pada kehidupan nyata, penderita FOMO dapat memiliki kepuasan yang rendah terhadap kebutuhan dan suasana hati. Perasaan dan emosi negatif seperti iri hati dapat muncul saat penderita FOMO melihat postingan orang lain yang jauh lebih “sempurna” dari dirinya. Nah, Ayah Bunda sangat berbahaya bukan jika anak-anak sampai terkena FOMO. Apalagi, anak-anak perlu memperoleh hal-hal positif untuk mendukung tumbuh kembang dan pembentukan karakternya. Jika sedari kecil, anak dibiarkan menderita sindrom ini, bukan tidak mungkin pertumbuhan dan perkembangan anak akan terhambat.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah anak terkena sindrom FOMO? Yang pertama, Ayah Bunda harus mulai dari mengurangi penyebab sindrom ini, yaitu gawai. Anak-anak sebaiknya tidak diizinkan bermain gawai atau membatasi intensitas penggunaan gawai dan aplikasi apa saja yang dapat diakses anak. Ayah dan Bunda juga bisa mengajak anak untuk lebih mengeksplorasi lingkungan sekitar dan menanamkan anak rasa syukur. Kiding dan Matulessy (2019) menambahkan Ayah dan Bunda sebaiknya memutuskan koneksi media sosial dan melepas gawai ketika sedang berkumpul bersama anak. Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar! (NAI/ed.SF)

 

Referensi:

___. 2021. Fear of Missing Out, Dilema Keresahan Masa Kini. Dikutip dari SketsaUnmul.co: https://www.sketsaunmul.co/lifestyle/fear-of-missing-out-dilema-keresahan-masa-kini/baca. Diakses pada 26 Mei 2022.

Aisafitri, L., & Yusriyag, K. 2020. Sindrom Fear of Missing Out sebagai Gaya Hidup Generasi Milenial di Kota Depok. Jurnal Riset Mahasiwa Dakwah dan Komunikasi (JRMDK), 2(4), 166-177.

Akbar, R. S., Aulya, A., Apsari, A., Sofia, L. 2018. Ketakutan akan Kehilangan Momen (FOMO) pada Remaja Kota Samarinda. Psikostudia:  Jurnal Psikologi, 7(2), 38-47.

Andiranjara, D. 2021. Banyak Terjadi di Kalangan Milenial, Apa Itu Fenomena FOMO?. Dikutip dari Parapuan.co: https://www.parapuan.co/read/532681081/banyak-terjadi-di-kalangan-milenial-apa-itu-fenomena-fomo. Diakses pada 26 Mei 2022.

Çilingir, ─░rem. 2021. Fear of Missing Out (FOMO) in eCommerce: How Businesses are Making the Most of FOMO Marketing. Dikutip dari https://www.segmentify.com/blog/fear-of-missing-out-in-ecommerce. Diakses 27 Mei 2022.

Kiding, S., & Matulessy, A. 2019. Dari Fomo ke Jomo : Mengatasi Rasa Takut akan Kehilangan (Fomo) dan Menumbuhkan Resiliensi terhadap Ketergantungan dari Dunia Digital. PSISULA: Prosiding Berkala Psikologi, 1, 173-182.

Nathania, Vidya. 2021. 4 Ciri yang Menunjukkan Kamu Terjebak Fenomena FOMO. Dikutip dari Gadis.co.id: https://www.gadis.co.id/Life/105259/4-ciri-yang-menunjukkan-kamu-terjebak-fenomena-fomo. Diakses 27 Mei 2022

Fomo Adiksi Gawai
Komentari Tulisan