Traditional Games Returns

Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Rumah!

Stop Menjadi Korban Doomscrolling

Senin, 27 Juni 2022 ~ Oleh Traditional Games Returns ~ Dilihat 127 Kali

Halo Ayah dan Bunda!

Doomscrolling, satu kebiasaan yang kita semua pasti pernah lakukan, terpaku dihadapan layar ponsel, scroll ke bawah, scroll ke atas, refresh terus menerus tanpa akhir. Berpikir akan berhenti setelah yang satu ini, namun justru terseret untuk terus menggulir konten media sosial yang tidak ada habisnya. 

Doomscrolling adalah perilaku mengonsumsi berita online negatif tanpa akhir yang merugikan kesehatan mental pelaku. Pelaku doomscrolling akan terus menerus menggulir konten di media sosial meskipun berita tersebut bermuatan negatif, menyedihkan, mengecewakan dan meresahkan. secara sederhana doomscrolling bisa diartikan sebagai perilaku kecanduan menggulir konten media sosial secara terus menerus tanpa akhir.

(Dokumentasi Bidikutama, diakses pada 25 Juni 2022)

 

Doomscrolling bukanlah fenomena baru, istilah tersebut pertama kali muncul sekitar tahun 2018, kemudian menjadi semakin tenar pada tahun 2020, yang mana didukung oleh keadaan pandemi dan maraknya pemberitaan tentang COVID-19.

Bagaimana doomscrolling terjadi?

Dalam sebuah penelitian tercatat bahwa manusia cenderung lebih memperhatikan berita negatif, hal ini dikarenakan otak kita menganggap bahwa berita negatif tersebut merupakan sebuah ancaman bagi kelangsungan hidup kita dan otak ingin membuat kita tetap aman. Informasi yang kita dapatkan dari membaca berita negatif akan memberikan kita rasa kenyamanan, memberi rasa kontrol atas hidup kita dan melibatkan kembali kecerdasan kita. Sensasi ini mirip dengan sensasi yang kita rasakan ketika menonton film horor. 

Berbagai platform media sosial yang kita kenal juga memanfaatkan kecenderungan psikologis manusia ini sebagai desain platform mereka untuk menarik lebih banyak pengguna dan supaya mereka betah menggunakan sosial media milik mereka. Apapun jenis konten yang kita sukai, platform media sosial kita mengetahuinya dengan baik dan akan terus menyuguhi konten yang disediakan khusus untuk kita. Algoritma mereka dirancang untuk menampilkan konten-konten yang relate dengan konten yang sering kita kunjungi. Jika kita sering mencari konten negatif, setelah beberapa hari kita akan terus disuguhi konten-konten negatif yang lainnya.

Jadi, perilaku doomscrolling terjadi akibat konsekuensi dari tindakan diri kita sendiri serta didukung oleh desain platform sosial media yang direkayasa untuk membuat kita terpaku dengan konten yang tidak pernah berakhir, yang dibuat khusus untuk diri kita sendiri.

Bagaimana dampak dari doomscrolling?

Dampak yang dirasakan dari doomscrolling berbeda-beda pada tiap orang. Tetapi secara umum hal tersebut membuat kita kurang istirahat dan kehilangan produktifitas. Kita sering tanpa disadari menghabiskan waktu untuk melakukan scrolling tanpa berpikir dan tanpa henti, akhirnya kurang tidur, lelah, tidak bertenaga dan lesu. Tidak ada waktu untuk kegiatan lain yang lebih bermanfaat, tugas terabaikan dan tubuh menjadi lemah karena kurang bergerak.

(Dokumentasi caping, diakses pada 25 Juni 2022)

 

Bagaimana kita dapat menghindari doomscrolling?

Sama seperti perilaku kecanduan lainnya, doomscrolling ditandai dengan kegagalan untuk berhenti dan perilaku kambuh kembali. Untuk menjinakkan doomscrolling ada dua strategi yang bisa kita terapkan yaitu :

  1. penghindaran berbasis waktu, yaitu ketika kita berusaha menghindari doomscrolling dengan cara membatasi waktu yang kita habiskan untuk terpapar media sosial, memberikan jeda khusus untuk melakukan aktivitas lain.
  2. penghindaran berbasis konten, yaitu ketika kita berusaha menghindari doomscrolling dengan cara membatasi konten yang kita lihat, kita bisa memilih konten-konten yang positif dan menghindari konten negatif, kita bisa berusaha untuk tetap mendapat informasi sambil menghindar dari hal yang negatif.

Oleh karena itu, taman-teman, kita sebenarnya memiliki strategi spesial untuk menjinakkan doomscrolling yang tak kalah ampuh dari dua strategi di atas dan otentik milik Indonesia yaitu, permainan tradisional. Permainan tradisional bisa dijadikan salah satu opsi bagi kita untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat dan pastinya terhindar dari bahaya doomscrolling maupun digital addiction yang lainnya.

Strategi di atas dapat kita terapkan secara mandiri, kita bisa memilih salah satu maupun mengkombinasikan keduanya. Namun, jika teman-teman masih merasa sulit untuk terlepas dari doomscrolling dan merasa kewalahan karenanya, maka jangan ragu untuk meminta bantuan kepada orang yang dipercaya atau konselor yang berpengalaman. Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar! (INK/ed.AAA)

 

Referensi :

Brita Ytre-Arne & Hallvard Moe. (2021). Doomscrolling, Monitoring and Avoiding: News Use in COVID-19 Pandemic Lockdown, Journalism Studies, 22:13, 1739-1755, DOI: 10.1080/1461670X.2021.1952475

Perdana Karim. (2021). Doomscrolling: Pengorbanan untuk Menjaga Konektivitas dan Kesehatan Mental Selama Pandemi. Dikutip dari https://cfds.fisipol.ugm.ac.id/id/2021/08/30/doomscrolling-pengorbanan-untuk-menjaga-konektivitas-dan-kesehatan-mental-selama-pandemi/ diakses pada 19 Juni 2022, 10.31.

Sumber Gambar :

Pinterest, https://pin.it/6D4mD5o, diakses pada 20 juni 2022, 09.55

Tgr Parenting #doomscrolling
Komentari Tulisan