Traditional Games Returns

Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar!

Dongkrek: Kesenian Asli Madiun yang Membentuk Karakter Anak

Kamis, 27 Juli 2023 ~ Oleh Traditional Games Returns ~ Dilihat 928 Kali

Halo sobat TGR!

Jika ditanya mengenai kesenian dari daerah Jawa Timur pasti banyak dari teman-teman yang menyebutkan Reog Ponorogo. Nah, kita bahas yuk kesenian lain yang ada di daerah Jawa Timur! Geser sedikit ke daerah di sebelahnya, ada Madiun. Dongkrek sendiri pertama muncul di daerah Mejayan dan diciptakan oleh Raden Bei Lo Prawirodipuro yang awalnya hanya bertujuan sebagai ritual untuk mengusir pagebluk atau wabah penyakit.

Uniknya nama Dongkrek ini berasal dari 2 bunyi instrumennya lho, yaitu bedug dan korek yang mana bila kita bunyikan akan terdengar suara ‘dhung’ dan ‘krek’, jadi ketika 2 instrumen itu dibunyikan terus menerus akan menghasilkan suara dhung-krek-dhung-krek. Selain berasal dari bunyi alat musiknya, nama dongkrek ternyata punya kepanjangan, yaitu “Donganipun Kawula Rakyar Enggalo Karaharjan” yang berarti “Doanya rakyat kecil agar diberi keselamatan”. Sebenarnya Dongkrek ini awalnya berbentuk pertunjukan yang diarak keliling desa sebagai ritual. Namun, saat ini dongkrek juga dilestarikan oleh masyarakat umum, sebagai kreasi kesenian rakyat dan seni pertunjukan.

Tiap kesenian pasti selalu punya amanat atau pesan luhur di baliknya kan? Nah, Dongkrek sendiri memiliki nilai budaya “Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti” yang berarti “Semua perbuatan jahat akan kalah oleh perbuatan baik dan bijaksana”. Nilai budaya dan pesan kesenian Dongkrek tidak hanya tergambar pada jalan cerita dramanya, tetapi juga pada dari peraga dan topengnya yang menggambarkan watak atau perilaku. 

 

 

(Sumber: 60dtk.com)

 

Kesenian ini mempunyai peraga yang terdiri dari:

  1. Genderuwo sebanyak 5 orang, yaitu;
  • Genderuwo Merah yang melambangkan watak mudah marah, kasar dan suka membuat masalah,
  • Genderuwo Hitam yang melambangkan watak pemalas,
  • Genderuwo Putih yang melambangkan watak baik, penuh tata krama dan manusiawi,
  • Genderuwo Hijau yang melambangkan watak kesatria, berani, bertanggung jawab dan santun. Namun, hanya sebagai penutup atas kemegahan dan kemewahan atas kekayaan,
  • Genderuwo Kuning yang melambangkan watak kesatria, berani menanggung dosa, manusiawi dan bertata krama. Namun, bersifat duniawi dan memuja kemewahan harta.
  1. Roro Perot/Wewe Putih sebanyak 1 orang yang melambangkan wajah dari abdi kinasih/pengikut setia Raden Prawirodipoero yang berwatak ajeg/berpendirian teguh, pantang menyerah, dapat diandalkan dan sangat setia.
  2. Roro Ayu sebanyak 1 orang yang melambangkan putri pejabat yang anggun, sopan, bertata krama dan selalu berbuat kebaikan.
  3. Kyai/Raden Prawirodipuro sebanyak 1 orang yang melambangkan watak kesatria, bijak dan kuat lahir-batin.

Nilai kesenian Dongkrek yang terkandung dalam jalan ceritanya menggambarkan upaya membangun jiwa kebersamaan, gotong royong, kerukunan, rela berkorban, kehidupan tentram serta kebaikan yang selalu menang di atas kejahatan. Nilai-nilai tersebut dapat dikaitkan dengan pembentukan dan pembangunan karakter bangsa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena nilai-nilai luhur yang ada dalam kesenian Dongkrek, kita sebagai generasi muda harus mencintai dan terus melestarikan kesenian ini dan senantiasa mengamalkan pesan dari kesenian ini untuk bersikap dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari. (MCH/ed.NAU)

 

Sumber:

Alfiati. (2019). Pembentukan Karakter Peserta Didik melalui Cerita Rakyat Dongkrek di Kabupaten Madiun. Konferensi Nasional Bahasa Dan Sastra (Konnas Basastra) V, 31.

Hanif, M. (2016). Kesenian Dongkrek (Studi Nilai Budaya Dan Potensinya Sebagai Sumber Pendidikan Karakter). Gulawentah:Jurnal Studi Sosial, 1(2), 132. https://doi.org/10.25273/gulawentah.v1i2.1036.

https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&detailCatat=3408https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id

Tgrcampaign #tgrparenting Tgr Parenting Kesenian Tradisional
Komentari Tulisan