Traditional Games Returns

Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar!

Gentle Parenting: Kita Obrolin Sama-sama Yuk Nak!

Senin, 15 April 2024 ~ Oleh Traditional Games Returns ~ Dilihat 505 Kali

  Halo sobat TGR! Orang tua memiliki peran penting dalam mendidik serta pembentukan karakter anak lho. Namun, terkadang orang tua hanya memberikan kalimat larangan tanpa ada alasan yang jelas seperti “kamu ga boleh ya banyak main gawai”, “ga boleh jadi anak nakal ya”, dan masih banyak lagi kalimat yang biasa terlontar dari orang tua untuk anaknya. 

 

  Penggunaan kalimat-kalimat larangan sebenarnya memang memiliki tujuan yang baik, karena anak dapat mengetahui mana yang baik dan buruk. Namun, hal ini dapat membingungkan sang buah hati karena tanpa disertakan alasan yang jelas. Daripada sang buah hati terus bertanya-tanya, yuk gunakan metode alternatif untuk mendidik anak yaitu gentle parenting!

(sumber: www.apa.org, 2015)

 

  Apa sih gentle parenting itu? Menurut Zapata (2013), gentle parenting merupakan salah satu pola asuh yang melibatkan koneksi, komunikasi, dan metode demokrasi untuk membuat keputusan bersama. Gentle parenting sendiri dikenal sebagai pola asuh yang kolaboratif karena orang tua tidak memaksakan anak untuk bagaimana berperilaku sesuai kontrol orang tua. Anak dengan bebas memiliki kontrol terhadap pilihannya sendiri, namun dengan catatan tetap harus di bawah pengawasan orang tua ya sobat TGR.

 

  Terdapat  tiga aspek dalam gentle parenting yaitu empati (ikut merasakan apa yang anak rasakan), memahami (memahami perilaku anak, membiarkan anak untuk mengeksplor emosi dan reaksi mereka), dan sikap hormat. Salah satu contoh sikap orang tua yang menerapkan pola asuh ini yaitu orang tua yang tidak secara impulsif menghentikan anaknya yang sedang menangis. Mereka akan mencoba untuk terlihat tenang dan menunggu sampai anaknya selesai menangis sehingga anak bisa dengan leluasa meluapkan emosinya (Oliver, 2023).

 

(Sumber: voi.id, 2023)

 

 Menurut Parenting Indonesia (2015) penerapan pola asuh ini memberikan berbagai manfaat yaitu, anak berkepribadian lembut, memiliki kecerdasan sosial-emosional yang baik, meminimalkan anak-anak mengalami kecemasan, tetap punya batasan dan aturan, serta mendisiplinkan bukan dengan menghukum. Namun, pola asuh ini bisa juga memusingkan bagi orang tua, terutama ketika anak sedang mengalami tantrum yang berlebihan. Perlu usaha kontrol diri yang lebih bagi orang tua untuk menerapkan pola asuh ini (Banks, 2023., Zapata, 2023). 

(sumber: www.verywellfamily.com, 2022)

Orang tua yang ingin memulai menerapkan pola asuh gentle parenting tidak perlu khawatir, berikut beberapa tips yang dapat diterapkan, yaitu : 

  • Lebih mengomentari aksi yang dilakukan, bukan ke pribadi anak. Karena dengan mencoba lebih mengkritisi perbuatannya akan membuat anak tidak merasa terlabeli oleh sifat-sifat jelek di dirinya. Misal, hindari untuk berkata “kamu jahat ke saudaramu”. Lebih baik menggantinya dengan berkata “ibu rasa adik/kakakmu tidak suka ketika kamu melakukan hal itu”.
  • Memberikan contoh yang baik bagi anak. Kurangi untuk menunjukkan perbuatan yang kurang baik di depan anak karena anak merupakan perekam terbaik dari apa yang dia lihat.
  • Ubah kalimat perintah menjadi kalimat ajakan untuk bekerja sama. Misal, katakan dengan “apakah kita perlu ikat tali sepatu ini agar kita tidak tersandung?” lebih baik dibanding hanya dengan “ikat tali sepatumu”.
  • Kurangi penggunaan kata “tidak”. Ada banyak alternatif lain untuk berkata “tidak” ke anak. Misal, untuk melarang anak untuk bermain gawai dapat gunakan kata “lebih baik kita baca buku yuk” atau “kita main bola di lapangan saja yuk, lebih asik dan seru loh”.

Jadi, kalau mau dibilang sulit, ya memang sulit. Tapi kalau dibilang bisa dilakuin, ya pasti bisa dilakuin. Karena seperti yang Olga Korbut katakan “Jangan takut kalau awalnya terasa sulit. Itu baru kesan awal. Yang penting jangan mundur; kamu harus menguasai diri sendiri”. Lupakan Gadget-mu, Ayo Main di Luar! (ACN/ed.HRV)

Referensi:

American Psychological Association. 2015. How to Talk to Children About Difficult News. Diakses pada 14 April 2024 dari https://www.apa.org/topics/journalism-facts/talking-children. 

Banks, L. 2023. Gentle Parenting: Is there a “right” way to raise your child? Diakses pada 12 April 2024 dari https://www.theparentingdaily.co.uk/article/2023/01/11/gentle-parenting-there-%E2%80%9Cright%E2%80%9D-way-raise-your-child.

Oliver, N. 2023. A Beginner’s Guide to Gentle Parenting. Diakses pada 12 April 2024 dari  https://www.guidepostmontessori.com/blog/beginners-guide-gentle-parenting.

Parenting Indonesia. 2015. Mengenal Gentle Parenting untuk Membesarkan Anak Bahagia. Diakses pada 12 April 2024 dari https://www.parenting.co.id/keluarga/mengenal-gentle-parenting-untuk-membesarkan-anak-bahagia.

Verywellfamily. 2022. Benefits and Challenges of Gentle Parenting. Diakses pada 14 April 2024 dari https://www.verywellfamily.com/what-is-gentle-parenting-5189566. 

Voi.id. 2023. Kapan Masa Tantrum pada Anak Berakhir? Orang Tua Muda Harus Tau. Diakses pada 14 April 2024 dari https://voi.id/lifestyle/299086/kapan-masa-tantrum-pada-anak-berakhir. 

Zapata, K. 2023. What is Gentle Parenting? Diakses pada 12 April 2024 dari https://www.parents.com/parenting/better-parenting/style/what-is-gentle-parenting/.

Gentle Parenting Tgr Parenting Pola Asuh Anak Traditional Games Returns
Komentari Tulisan