Halo, Sobat TGR! Pernah nggak sih kalian ingin mencoba memahami anak-anak terutama Gen Alpha, tetapi ternyata susah banget. Kadang kita berpikir seperti “duh, kok susah banget sih ngajak mereka ngobrol?!” Pada akhirnya, tak jarang kita lebih memilih untuk bersikap abai, atau bahkan memberikan justifikasi yang negatif.
Anak-anak merupakan generasi penerus untuk masa depan, tingkah laku mereka yang susah dimengerti itu hal yang wajar ya, Sobat TGR. Karena mereka sedang dalam proses perkembangan. Justru kita sebagai orang yang lebih dewasa harus sering-sering berinteraksi dengan mereka.
Nah, untuk berinteraksi dengan anak tidak boleh asal, ya! Ada hal-hal tertentu agar anak bertumbuh menjadi pribadi yang baik dan kreatif. Maka dari itu, penting untuk mengetahui bagaimana cara berinteraksi dan menjadi sahabat anak, terutama untuk para orang tua.
Sobat TGR bingung caranya bagaimana? Tenang, artikel kali ini akan membahas tips bagaimana cara berinteraksi dan menjadi sahabat anak. Oleh karena itu, jangan ke mana-mana dan yuk simak penjelasan berikut!
Sebelum kita memulai bahasan tentang delapan tips berkomunikasi dan menjadi sahabat anak, alangkah baiknya kita mengetahui hak apa saja yang dimiliki oleh anak. Berdasarkan dari Konvensi PBB tahun 1989, orang tua harus memenuhi sepuluh hak anak sebagai berikut:
Sepuluh Hak Anak
(Dokumentasi TGR Community, 2020)
Sobat TGR, anak-anak tentu punya dunia mereka sendiri. Terkadang mereka sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang terkesan random, ataupun bercerita tentang keseharian mereka. Hal-hal seperti kartun apa yang mereka tonton, permainan apa yang mereka mainkan, dan lain sebagainya.
Tingkah laku dan apa yang mereka ucapkan ini, terkadang membuat kita bertanya-tanya. Hal ini wajar kok Sobat TGR, karena anak-anak punya rasa keingintahuan yang tinggi sehingga tak ada salahnya untuk mendengarkan mereka dengan tulus.
Nah, ada salah satu cara nih untuk mendengarkan mereka dengan tulus, yaitu dengan cara active listening. Tustonja dkk (2024) berpendapat bahwa active listening adalah mendengarkan lawan bicara secara aktif, sehingga kepercayaan dan komunikasi terjalin dengan kuat. Oleh karena itu, cara ini efektif untuk berkomunikasi dengan anak-anak.
Sobat TGR jangan asal menjawab mereka ya, seperti “Hmm…iya-iya” sembari bermain gadget. Kita harus fokus dan memberi perhatian penuh, karena anak-anak akan senang jika benar-benar peduli.
Waktu berkualitas bersama anak adalah kunci membangun hubungan yang erat. Kita bisa bersantai, mengobrol setelah sepulang kerja, membacakan buku dongeng favorit mereka, tentunya hal itu akan membangun bonding antara kita dan mereka.
Momen sederhana seperti ini akan menciptakan kenangan indah yang tak terlupakan. Sebuah studi yang melibatkan 101 orang tua menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua yang lebih besar secara signifikan meningkatkan harga diri dan kesejahteraan emosional anak (Nadia dkk, 2023). Selain itu, anak merasa dihargai dan dicintai karena perhatian penuh yang Sobat TGR berikan.
Ilustrasi Quality Time dengan Anak
Pernah gak sih, Sobat TGR melihat anak-anak lesu atau bahkan tantrum setelah dimarahin? Nah, Sobat TGR, daripada fokus sama kesalahan kecil mereka, cobalah puji usaha yang sudah mereka lakukan. Misalnya, “Keren lho, kamu berani presentasi tadi! Meskipun deg-degan, kamu sudah mencoba yang terbaik.”
Menurut Holly dkk (2024), memuji usaha anak dapat mengurangi ketakutan mereka terhadap kegagalan. Jika hanya fokus pada hasil, anak mungkin menjadi ragu untuk mencoba hal baru.
Sebaliknya, penguatan positif pada usaha mengajarkan mereka bahwa membuat kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Hal ini juga meningkatkan motivasi sehingga dapat membantu anak untuk tetap semangat bahkan saat menghadapi tugas yang sulit​.