Traditional Games Returns

Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar!

8 Cara Efektif Membangun Kedekatan dengan Anak yang Bisa Langsung Dicoba!

Jum'at, 20 Desember 2024 ~ Oleh Traditional Games Returns ~ Dilihat 664 Kali

  Halo, Sobat TGR! Pernah nggak sih kalian ingin mencoba memahami anak-anak terutama Gen Alpha, tetapi ternyata susah banget. Kadang kita berpikir seperti “duh, kok susah banget sih ngajak mereka ngobrol?!” Pada akhirnya, tak jarang kita lebih memilih untuk bersikap abai, atau bahkan memberikan justifikasi yang negatif.

  Anak-anak merupakan generasi penerus untuk masa depan, tingkah laku mereka yang susah dimengerti itu hal yang wajar ya, Sobat TGR. Karena mereka sedang dalam proses perkembangan. Justru kita sebagai orang yang lebih dewasa harus sering-sering berinteraksi dengan mereka.

  Nah, untuk berinteraksi dengan anak tidak boleh asal, ya! Ada hal-hal tertentu agar anak bertumbuh menjadi pribadi yang baik dan kreatif. Maka dari itu, penting untuk mengetahui bagaimana cara berinteraksi dan menjadi sahabat anak, terutama untuk para orang tua.

  Sobat TGR bingung caranya bagaimana? Tenang, artikel kali ini akan membahas tips bagaimana cara berinteraksi dan menjadi sahabat anak. Oleh karena itu,  jangan ke mana-mana dan yuk simak penjelasan berikut!

Kenalan dengan Sepuluh Hak Anak

  Sebelum kita memulai bahasan tentang delapan tips berkomunikasi dan menjadi sahabat anak, alangkah baiknya kita mengetahui hak apa saja yang dimiliki oleh anak. Berdasarkan dari Konvensi PBB tahun 1989, orang tua harus memenuhi sepuluh hak anak sebagai berikut:

Sepuluh Hak Anak

(Dokumentasi TGR Community, 2020)

1. Anak-Anak perlu Didengar, Mari Kita Mendengarkan Mereka dengan Tulus

  Sobat TGR, anak-anak tentu punya dunia mereka sendiri. Terkadang mereka sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang terkesan random, ataupun bercerita tentang keseharian mereka. Hal-hal seperti kartun apa yang mereka tonton, permainan apa yang mereka mainkan, dan lain sebagainya.

  Tingkah laku dan apa yang mereka ucapkan ini, terkadang membuat kita bertanya-tanya. Hal ini wajar kok Sobat TGR, karena anak-anak punya rasa keingintahuan yang tinggi sehingga tak ada salahnya untuk mendengarkan mereka dengan tulus.

  Nah, ada salah satu cara nih untuk mendengarkan mereka dengan tulus, yaitu dengan cara active listening. Tustonja dkk (2024) berpendapat bahwa active listening adalah mendengarkan lawan bicara secara aktif, sehingga kepercayaan dan komunikasi terjalin dengan kuat. Oleh karena itu, cara ini efektif untuk berkomunikasi dengan anak-anak.

  Sobat TGR jangan asal menjawab mereka ya, seperti “Hmm…iya-iya” sembari bermain gadget. Kita harus fokus dan memberi perhatian penuh, karena anak-anak akan senang jika benar-benar peduli.

2. Luangkan Waktu untuk Quality Time

  Waktu berkualitas bersama anak adalah kunci membangun hubungan yang erat. Kita bisa bersantai, mengobrol setelah sepulang kerja, membacakan buku dongeng favorit mereka, tentunya hal itu akan membangun bonding antara kita dan mereka.

  Momen sederhana seperti ini akan menciptakan kenangan indah yang tak terlupakan. Sebuah studi yang melibatkan 101 orang tua menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua yang lebih besar secara signifikan meningkatkan harga diri dan kesejahteraan emosional anak (Nadia dkk, 2023). Selain itu, anak merasa dihargai dan dicintai karena perhatian penuh yang Sobat TGR berikan.

Ilustrasi Quality Time dengan Anak

3. Berikan Apresiasi, Bukan hanya Kritik!

  Pernah gak sih, Sobat TGR melihat anak-anak lesu atau bahkan tantrum setelah dimarahin? Nah, Sobat TGR, daripada fokus sama kesalahan kecil mereka, cobalah puji usaha yang sudah mereka lakukan. Misalnya, “Keren lho, kamu berani presentasi tadi! Meskipun deg-degan, kamu sudah mencoba yang terbaik.” 

  Menurut Holly dkk (2024), memuji usaha anak dapat mengurangi ketakutan mereka terhadap kegagalan. Jika hanya fokus pada hasil, anak mungkin menjadi ragu untuk mencoba hal baru. 

  Sebaliknya, penguatan positif pada usaha mengajarkan mereka bahwa membuat kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Hal ini juga meningkatkan motivasi sehingga dapat membantu anak untuk tetap semangat bahkan saat menghadapi tugas yang sulit​.

Apresiasi kepada Anak Ketika Menang Lomba

(Dokumentasi TGR Community, 2024)

4. Jangan Hanya Menyuruh, Tetapi Berilah Contoh

  Kalau ingin dihormati anak-anak, jangan selalu memerintah mereka. Daripada langsung menyuruh anak secara langsung, “Kamu harus lakukan ini!” cobalah ajak diskusi. Misalnya, “Yuk kita pergi ke taman, tapi bantu mama bersih-bersih rumah dulu ya?

  Anak-anak lebih suka diajak bekerja sama daripada sekadar disuruh-suruh. Menurut Mourman dkk (2024), memberikan pilihan sederhana kepada anak seperti memilih aktivitas atau makanan, dapat meningkatkan rasa percaya diri, pemahaman sebab-akibat, dan kemampuan menyelesaikan masalah. 

  Hal ini juga membantu mengurangi rasa amarah atau tantrum pada anak karena mereka merasa pendapat mereka dihargai. Proses ini tidak hanya membangun kepercayaan diri tetapi juga kemampuan membuat keputusan yang lebih baik di masa depan​. Pendekatan seperti ini bisa dimulai dari hal kecil seperti memilih pakaian atau camilan, sebelum secara bertahap memberikan tanggung jawab yang lebih besar​.

Tim TGR Mengajarkan Anak Bermain Enggrang Batok

(Dokumentasi TGR Community, 2024) 

5. Jadilah Contoh yang Baik untuk Anak

  Munawwarah dan Maimunah (2021) berpendapat bahwa anak-anak adalah peniru ulung terhadap lingkungan dan orang dewasa. Kalau Sobat TGR ingin mereka sopan, tanggung jawab, atau peduli sama orang lain, mulailah dari diri kita sendiri. Misalnya, saat mereka melihat lingkungan mereka konsisten berkata jujur, mereka pun akan belajar nilai kejujuran itu. 

  Penelitian dari Husin (2023), menunjukkan bahwa memberikan contoh positif seperti konsistensi dalam berkata jujur atau membantu orang lain, dapat membantu anak memahami pentingnya nilai-nilai tersebut. Selain itu, memperkuat perilaku baik mereka melalui apresiasi juga meningkatkan kemungkinan anak mengulangi tindakan positif itu.

  Dengan memberikan teladan positif dan apresiasi yang konsisten, anak akan tumbuh dengan pemahaman yang lebih kuat tentang nilai-nilai moral. Sehingga mereka akan termotivasi untuk terus menerapkan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari.

Anak-Anak Mencontoh Memilah Sampah yang Baik

(Dokumentasi TGR Community, 2024) 

6. Sabar dalam Menghadapi Mereka

  Tentunya Sobat TGR pasti pernah merasakan sikap anak-anak yang membuat  kita naik darah, entah karena bandel atau susah diatur. Nah, kita tidak boleh langsung marah-marah ya, karena anak-anak terkadang hanya menginginkan sebuah perhatian saja. Maka dari itu, bersikap sabar adalah kunci untuk memahami mereka!

  Pendekatan yang sabar dan penuh pengertian dalam mendidik anak dapat mengurangi perilaku defensif dan meningkatkan kemampuan mereka untuk mematuhi arahan. Menggunakan bahasa yang positif dan memberikan alternatif perilaku membantu anak merasa dihormati dan didengar. Hal ini juga menanamkan nilai-nilai kerja sama dan pengendalian diri yang lebih baik seiring waktu.

7. Hormati Privasi dan Pilihan Mereka

  Meskipun mereka masih anak-anak, bukan berarti mereka nggak punya privasi. Jangan memaksa mereka bercerita kalau mereka belum nyaman. Beri mereka ruang untuk privasi mereka dan tunjukan bahwa Sobat TGR dapat dipercaya sebagai orang tua dan teman yang dapat dipercayai.

  Ketika anak-anak diberikan privasi yang sesuai, mereka cenderung mengembangkan rasa tanggung jawab, kemandirian, dan kepercayaan terhadap orang tua. Sebaliknya, tindakan yang melanggar batas privasi dapat membuat anak merasa kurang dihargai, sehingga berdampak pada hubungan emosional dengan orang tua atau pendamping. Membina komunikasi yang terbuka dengan memberikan pilihan kepada anak.

8. Ajak Anak-Anak Bermain

  Gadget dan anak-anak pada zaman sekarang sudah seperti hal yang “lumrah” dan tak terpisahkan, terutama Gen Alpha. Namun, kita tidak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya ya, karena hal tersebut juga ada pengaruh dari orang dewasa lebih memilih jalan mudah dengan memberikan gadget.  

  Nah, memang pada kenyataannya zaman susah ya untuk 100% lepas dari gadget. Namun, kita harus membatasi penggunaan gadget pada anak-anak karena mereka belum punya kontrol diri atas konten apa saja yang mereka tonton dan batas waktu.

  Selain itu, penggunaan gadget pada anak di bawah umur dapat menghambat perkembangan mereka. Sobat TGR tentunya tidak mau kan, anak-anak ini hanya bermain gadget terus menerus? Oleh karena itu, mari luangkan waktu untuk mengajak mereka bermain tanpa gadget, salah satunya dengan bermain permainan tradisional!

  Bermain permainan tradisional dengan anak dapat meningkatkan perkembangan mereka baik secara kognitif maupun motorik. Selain itu, dengan bermain permainan tradisional, kita bisa saling bonding dan berbagi kebahagiaan bersama-sama sekaligus memberikan hak bermain pada anak.

Tim TGR Bermain Permainan Tradisional dengan Anak

(Dokumentasi TGR Community, 2024)

  Itulah delapan cara untuk berkomunikasi dan menjadi sahabat anak. Tentunya sulit menghadapi mereka, namun dengan pendekatan yang pelan-pelan dan menyenangkan kita bisa memahami mereka.

  Yuk, mulai langkah kecil hari ini dan buat mereka merasa lebih dihargai. Karena ketika mereka nyaman dengan kita, kepercayaan dan hubungan baik akan tumbuh dengan sendirinya! Lupakan Gadget-mu, Ayo main di luar! (TU/ed. MIQ)

  Untuk Sobat TGR di luar sana yang ingin berkolaborasi dengan kami, boleh banget nih mulai dari menjadi pengisi acara, tenant, hingga narasumber. Cukup klik tautan di sini  ya Sobat!

Writer: Tazkiya Umamah

Editor: Muhammad Miqdar Dzulfikar

Graphic Designer: Indiana

QC/Publisher: R. Harvie R. B. R

Referensi:

Holly, M., Menzies, Y.-C., Chang, L., & Smith-Menzies, L. (2023). Using behavior-specific praise to support intrinsic motivation. Beyond Behavior. https://doi.org/10.1177/10742956231200899

Husin, G. M. I. (2023). Analisis cerita-cerita rakyat Kalimantan Selatan dalam konteks konstruksi perilaku religius pada anak usia dini. SERUMPUN: Journal of Education, Politic, and Social Humaniora, 1(2), 161–172.

Mourmans, R., Fleischeuer, B., Dibbets, P., Houben, K., & Nederkoorn, C. (2023). Choice-induced tasting: Evaluating the effect of choice on children's acceptance of an unfamiliar vegetable. Appetite, 191, 107049.

Mukarromah, K. (2022). Analisis perhatian orang tua peserta didik sekolah dasar dalam pelaksanaan blended learning di masa pandemi Covid-19. Jurnal Basicedu, 6(2), 1584–1597.

Munawwarah, H., & Maemonah, M. (2021). Pendidikan karakter anak perspektif aliran filsafat behaviorisme. Jurnal Golden Age, 5(1), 71–82.

Nadia, S., Amiruddin, U., Nabila, N., Ahmad, T., Wahid, N. F. A., & Basir, J. M. (2023). The influence of quality time on children’s self-esteem. International Journal of Academic Research in Business & Social Sciences.https://doi.org/10.6007/ijarbss/v13-i9/18893

Tustonja, M., Stipić, D. T., Skoko, I., ÄŒuljak, A., & Vegar, A. (2024). Active listening: A model of empathetic communication in the helping professions. Medicina Academica Integrativa, 1(1), 42–47.

Traditional Games Returns Tgr Parenting Cara Berkomunikasi Dengan Anak Cara Menjadi Sahabat Anak
Komentari Tulisan