Traditional Games Returns

Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar!

Siswa Kelas 6 SD Semangat Sosialisasikan Permainan Tradisional di SDS IT Nurul Yaqin

Minggu, 23 Februari 2025 ~ Oleh Traditional Games Returns ~ Dilihat 891 Kali

  Halo, Sobat TGR! Tahu gak sih? Permainan tradisional adalah salah satu warisan budaya kebanggaan Indonesia yang diwariskan dari generasi ke generasi lho, Sobat! Permainan ini yang menemani masa kecil hampir setiap anak Indonesia, termasuk Sobat TGR juga nih! 

  Biasanya, permainan tradisional dikenalkan oleh orang tua atau keluarga di rumah. Selain itu, bisa juga diperkenalkan dari lingkup sekolah, komunitas, atau teman sepermainan. 

  Yaa, seperti yang biasa Tim TGR lakukan untuk sosialisasi permainan tradisional kepada masyarakat. Tetapi, siapa sangka Tim TGR dipertemukan dengan delapan siswa-siswi kelas 6 SD, yang dengan penuh antusias ingin mengenalkan permainan ini kepada adik-adik kelasnya. 

  Mereka adalah siswa-siswi SD Swasta Islam Terpadu Nurul Yaqin, Jakarta Timur yang mendapatkan tugas Project Based Learning (PBL) untuk memecahkan sebuah masalah di tengah masyarakat. Ketika itu, Tim TGR dihubungi langsung oleh perwakilan siswa bernama Fatimah yang ingin mencari tahu lebih banyak tentang permainan tradisional.

Awalnya tuh kan ada dipilihin beberapa opsi, tadinya tuh kami pilih keanekaragaman budaya Indonesia tentang perbedaan dan toleransi. Tapi kalau praktiknya bingung wawancara orangnya gimana. Akhirnya Ms. Tari usulin kearifan lokal tentang permainan tradisional. Aku nyari-nyari di instagram terus nemu TGR,” ujar Fatimah, sebagai perwakilan siswa SD Swasta Islam Terpadu Nurul Yaqin.

  Tim TGR menyambut hangat niat baik siswa-siswi ini. Tugas bukan sekadar tugas, rupanya mereka juga harus melakukan riset awal untuk mengetahui latar belakang masalah, sampai dengan komunitas apa yang kemudian bisa diajak berkolaborasi. Dari situlah tercetus menghubungi Tim TGR untuk lebih lanjut menjadi narasumber. 

Kami dari perwakilan kelas 6 kolaborasi dengan TGR dalam rangka projek pembelajaran berbasis masalah, jadi anak-anak diminta mencari masalah dan apa solusi yang bisa dipecahkan. Seperti anak-anak kuliah, saya di sini sebagai pembimbingnya, mendampingi mereka yang memilih tema gadget. Jadi mereka cari tahu dampak gadget dan pengalihannya tentang gadget,” ujar Ms. Tari, Wali Kelas 6 SDS IT Nurul Yaqin.

  Akhirnya, Tim TGR diundang ke sekolah mereka pada hari Rabu, 5 Februari 2025 untuk bertemu langsung dengan wali kelas dan anggota kelompok Fatimah. Mereka adalah Fakhri, Ebu, Rhazka, Syakira, Muhsin, Adzmi, dan juga Dzaki. 

  Saat itu Tim TGR memberikan sosialisasi berjudul “Cegah Adiksi Gawai & Bijak Ber-internet” serta “Upaya Anak Muda dalam Melestarikan Budaya Melalui Permainan Tradisional”. Sesi ini disampaikan oleh Kak Nina dalam waktu 45 menit. 

Pada intinya main gadget itu boleh, tapi ada porsi dan batasannya. Seimbang dengan waktu untuk belajar, ibadah, istirahat, dan juga berinteraksi dengan orang tua atau teman-teman,” ujar Kak Nina sembari memaparkan materinya.

Kegiatan Pemaparan Materi oleh Kak Nina

(Dokumentasi TGR Community, 2025)

  Pernyataan tersebut disambut dengan cerita pengalaman sepupu Fatimah yang ternyata sudah berlebihan menggunakan gawai. Sepupunya tersebut sampai lupa waktu karena terlalu asyik bermain gadget.

Sepupu aku umur lima tahun udah dikasih HP, keseringan nonton bahasa Inggris jadi bingung kalau diajak ngomong bahasa Indonesia. Kalau gadget-nya diambil marah, jadi kalau aku ada di rumahnya aku bilangin taruh dulu HPnya. Sejak kejadian itu mama jadi minta aku buat ga terlalu sering main HP,” cerita Fatimah.

Wah.. Jadi, gadget addiction is real ya Sobat TGR! Ternyata gadget bisa berdampak besar pada emosional kita, jadi jangan sampai sobat TGR kecanduan nih

Aku jadi ngerti semua, aku bisa jelasin tentang gadget ke adik kelas aku. Aku juga bakal jelasin TGR yang bantuin kita kenal sama permainan tradisional. Setelah ini kami akan bagi waktu untuk ke kelas 3 jelasin tentang gadget, permainan tradisional dan TGR,” jelas Fatimah dengan gembira setelah mendengarkan materi.

Selain itu, Dzaki juga menambahkan pendapatnya nih, Sobat TGR! “Jangan suka nonton video-video yang ada omongan kasar-kasar! Soalnya di video-video aku suka banget denger!” ujar Dzaki.

  Setelah asyik berbincang tentang gawai, saatnya beralih ke pembahasan selanjutnya yaitu tentang permainan tradisional. Kak Nina menceritakan definisi, sejarah, jenis-jenis, cara bermain sampai permainan tradisional dari mancanegara. Karena faktanya, permainan tradisional yang dimainkan di Indonesia juga tak luput dari pengaruh bangsa luar lho Sobat TGR!

  Di tengah sesi, Fakhri juga ikut menceritakan permainan tradisional favoritnya, yaitu kena jaga. “Jadi misalnya ada yang jaga dua orang, nanti dia kenain orang lain jadi gantian jaga,” ujar Fakhri dengan antusias.

  Dalam sesi ini, Kak Nina juga memberikan contoh persamaan permainan bekel (yang ditemukan di Belanda dengan nama Bikkelen). Ternyata, serupa dengan Batu Seremban (Malaysia) dan juga Gong-Gi (Korea Selatan) sambil menunjukkan bentuk mainannya. Sontak Dzaki kaget saat melihat Gong-Gi yang sama persis dengan yang ia lihat di serial "Squid Game" dan langsung menyanyikan lagu “Round & Round” sambil mengambil mainan tersebut. 

  Sesi sosialisasi permainan tradisional ditutup dengan mencoba permainan mancanegara. Ibu guru wali kelas pun mengapresiasi sesi pemaparan materi oleh kak Nina.

Kalau untuk materi alhamdulillah teman-teman bisa memahami apa yang kakak jelaskan, termasuk saya juga. Mudah-mudahan ke depannya mereka bisa sedikit-sedikit untuk menerapkan hal itu ke diri sendiri dan adik-adik kelas,” ujar Ms. Tari, Wali Kelas 6 SDS IT Nurul Yaqin.

  Setelah itu, Tim TGR dan para siswa mencoba praktik di lapangan sekolah. Praktik pertama adalah ragam ice breaking yang biasa dilakukan sebelum memulai permainan utama. 

  Masih dipandu dengan Kak Nina, sesi ice breaking pun dimulai! Mulai dari permainan cingciripit, tepuk ampar-ampar pisang, si raja suit hingga permainan tradisional tanpa alat lainnya seperti ular naga serta cublak-cublak suweng pun dimainkan. Seru sekali! Siswa-siswi belajar mengenal “main gak harus mahal”.

Kegiatan Ice Breaking

(Dokumentasi TGR Community, 2025)

  Sesi ice breaking kali ini berjalan dengan seru dan menyenangkan. Hal ini disampaikan oleh salah satu peserta kegiatan, yaitu Kak Naufal selaku Activity Instructor yang bertugas kala itu.

Alhamdulillah pengalamannya seru banget bisa ngajarin anak kelas 6, yang mungkin harusnya mereka sudah fokus ke ujian SMP tapi mereka masih mau belajar permainan tradisional. Seru banget ngajarinnya!”

“Paling seru waktu ngajarin ular naga karena tim aku menang dan kompak, jadi kebanyakan pada memilih di tim aku. Aku juga semangatin mereka, pegangan yang kencang dan jangan sampai meleng. Harus tetap bersama supaya bisa menang.” Ujar Kak Naufal, selaku Activity Instructor.

Setelah sibuk mencoba berbagai ice breaking seru, Tim TGR mulai mendemonstrasikan permainan-permainan yang sudah disiapkan oleh para siswa. Mereka sudah siap loh dengan alat peraga bermainnya!

Mereka buat mainannya sendiri kak, mereka sudah rencana kalau kakak datang, alat-alatnya sudah harus siap!” Ujar Ms. Tari dengan penuh semangat.

  Siswa-siswi ini sudah memilih empat jenis permainan tradisional dengan alat yang ingin mereka ulik lebih dalam. Antara lain: congklak, lompat karet, kelereng, dan juga engklek.

Aku paling suka engklek sama kelereng, itu tadi kelerengnya punya aku semua, tapi sebelumnya belum terlalu tau cara mainnya,” ujar Fatimah.

  Tim TGR yaitu Kak Jessy, Kak Naufal, dan Kak Akbar dengan sigap memberikan contoh di setiap permainan. Uniknya, siswa-siswi ini tidak mau dibantu saat menggaris pola engklek di lapangan. Mereka dengan percaya diri sudah bisa menggambarnya.

  Di permainan karet, setiap siswa mencoba tanpa rasa takut untuk melompat di setiap level-nya. Di permainan congklak, mayoritas sudah mengerti alur bermainnya hanya saja lupa cara menentukan menang kalahnya. Sedangkan di permainan kelereng belum semuanya memahami aturan main. 

Kegiatan Bermain Congklak

(Dokumentasi TGR Community, 2025)

  Semoga kehadiran tim TGR ke SDS IT Nurul Yaqin dapat memperkaya pengetahuan tentang permainan tradisional, adiksi gawai dan menambah semangat untuk mensosialisasikannya di lingkungan sekolah. Karena PBL belum berakhir begitu saja.

PBL ini tujuan akhirnya kita presentasi di depan umum, bikin poster gede isinya kegiatan selama PBL ini. Dimulai dari mencari artikel permainan tradisional dan wawancara orangnya.” Ungkap Fakhri.

Nanti aku dan teman kelompok aku akan bikin komunitas permainan tradisional di sekolah dan bikin bazar jual permainan tradisional kayak karet, kelereng, sama kita mau jual ular tangga custom. Jadi ular tangga karpet kecil tapi bisa di custom pakai foto keluarga, kartun atau teman-teman, bebas,” tambah Fatimah.

 

 Kegiatan Bersama SDS IT Nurul Yaqin

(Dokumentasi TGR Community, 2025)

 

  Nah, jadi gimana nih? Seru banget kan kegiatan TGR Goes to School kali ini! Kalian juga bisa loh mengundang TGR untuk datang ke sekolah dengan menghubungi Salsha di nomor +62 569 479 2992. Sampai jumpa, Sobat! Lupakan Gadget-mu, Ayo Main di Luar! (AW/ed. RN)

Writer: Aghnina Wahdini 

Editor: Irna 

Designer: Indiana

QC/Publisher: R. Harvie R. B. R

Traditional Games Returns Tgr Goes To School Bermain Permainan Traddisional Sosialisasi Permainan Tradisional Project Based Learning Sds It Nurul Yaqin
Komentari Tulisan