Traditional Games Returns

Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar!

Indonesia Mendongeng #12: Menumbuhkan Empati Anak Melalui Dongeng dan Permainan Tradisional

Minggu, 28 Desember 2025 ~ Oleh Traditional Games Returns ~ Dilihat 116 Kali


Halo, Sobat TGR! Pada Minggu, 21 Desember 2025, terlihat senyum yang cerah dari wajah adik-adik panti dan TPQ dalam sebuah kegiatan yang bermakna, yaitu Indonesia Mendongeng #12 yang diadakan oleh relawan Rumah Zakat Jakarta bersama dengan Tim Traditional Games Returns (TGR) di Aula Gedung Dewan Dakwah Jakarta. Mengangkat tema “Jejak Cinta Santri TPQ Bersama Anak Indonesia untuk Dunia, untuk Palestina”, kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan empati dan kepedulian adik-adik terhadap sesama, khususnya untuk saudara/i di Palestina dan korban bencana di Sumatra. 

Ternyata cara untuk menumbuhkan empati pada adik-adik bisa dimulai dari hal-hal kecil, lho, Sobat TGR! Contohnya, melalui dongeng yang dibawakan pada kegiatan hari ini. Cerita dongeng yang lucu dan seru, tapi tetap punya pesan yang bermakna dan menginspirasi berhasil menumbuhkan rasa empati dari adik-adik panti untuk saling membantu sesama. Sampai pada akhirnya, hati mereka tersentuh dan ingin ikut membantu dengan menyisihkan sebagian uang jajannya untuk berdonasi.

Sesi Bermain Permainan Tradisional

Kegiatan berlanjut ke sesi berikutnya, yaitu ice breaking. Kak Nina maju ke atas panggung dan bertanya, Siapa yang mau main games?”. Dengan semangat yang menggebu-gebu, adik-adik mengangkat tangannya, menandakan bahwa mereka sangat antusias dan semangat untuk bermain permainan tradisional yang akan dipandu oleh tim TGR. 

Potret Sesi Ice Breaking

(Dokumentasi TGR Community, 2025)

Kak Nina mengawali ice breaking dengan bermain permainan tradisional asal Jawa Barat, yaitu Cingciripit. Anak-anak berkumpul membentuk lingkaran. Setiap orang diminta untuk membuka salah satu telapak tangan dan meletakkan telunjuk di atas telapak tangan teman di sebelah mereka. Setelah itu, anak-anak akan ngawih (bernyanyi) bersama dengan syair Cing Ciripit. Di awal permainan ini, anak-anak sudah mulai heboh tertawa.



Potret Bermain Cing Ciripit

(Dokumentasi TGR Community, 2025)

Suasana semakin meriah ketika kak Nina melanjutkan permainan kedua, yaitu Ampar-Ampar Pisang. Anak-anak mulai heboh mencari teman untuk dijadikan pasangan mereka. Permainan pun dimulai ketika seluruh adik dan kakak telah mendapat pasangan untuk bermain. Suara nyanyian Ampar-Ampar Pisang dari Kak Nina terdengar lantang. Kehebohan gerakan tangan mulai terjadi ketika irama nyanyian semakin cepat membuat anak-anak hanya bisa tertawa dengan temannya. Pokoknya suasana semakin heboh, deh!

Potret Bermain Ampar-Ampar Pisang

(Dokumentasi TGR Community, 2025)

Tidak hanya sampai di situ, keseruan kembali berlangsung ketika Kak Nina mengakhiri permainan Ampar-Ampar Pisang dan memulai permainan selanjutnya, yaitu Cublak-Cublak Suweng asal Jawa Tengah. Dalam sesi permainan ini adik-adik harus membuat lingkaran kembali dengan salah seorang temannya membungkuk dan melihat ke bawah dengan mata tertutup. Kemudian adik-adik yang lainnya meletakkan telapak tangan mereka di atas punggung temannya yang berjaga. 

Potret Bermain Cublak-Cublak Suweng

(Dokumentasi TGR Community, 2025)

Setelah semua regu siap dan membentuk lingkaran, permainan cublak-cublak suweng pun dimulai saat Kak Nina mulai bernyanyi. Genggaman kerikil berpindah-pindah dengan cepat, dari satu tangan ke tangan lainnya, mengikuti irama nyanyian. Hingga tiba pada lirik penutup, “Sir sir pong dhele kopong”. Seketika kerikil itu berhenti dan tergenggam rapat di salah satu telapak tangan. Adik yang berjaga bangkit dan mulai kebingungan menebak mana temannya yang menggenggam kerikil. Situasi mulai heboh karena ada yang berhasil menebak dan ada pula yang gagal.


Potret Bermain Cublak-Cublak Suweng

(Dokumentasi TGR Community, 2025)

Beralih pada permainan terakhir yang tak kalah seru, yaitu Estafet Sarung, Adik-adik tampak bersemangat saat berkumpul dan kembali membentuk lingkaran. Dengan sarung di tangan salah satu orang, mereka saling menatap penuh antusias, siap memulai permainan estafet sarung. Suasana semakin hidup ketika aba-aba diberikan oleh Kak Nina, “Satu, dua, tiga… mulai!”. Secara serentak adik-adik memulai gerakan dengan kompak dan heboh. Sarung dipindahkan dari satu anak ke anak lain secara bergantian. Ada yang bergerak cepat, ada pula yang masih kebingungan, tetapi semuanya larut dalam keceriaan. Teman-teman di sekeliling lingkaran terus memberi semangat, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat dan penuh kegembiraan.

Potret Bermain Estafet Sarung

(Dokumentasi TGR Community, 2025)

Setelah sesi bermain berakhir, keseruan pada hari itu masih belum usai. Fasilitator memilih adik yang paling aktif dari setiap kelompok untuk diberikan apresiasi berupa hadiah di atas panggung. Namun, tidak hanya yang paling aktif saja yang berhak mendapat hadiah, seluruh peserta juga memiliki kesempatan yang sama dengan mengikuti sesi pengundian hadiah dengan harapan para peserta mendapat ilmu dan kenang-kenangan dari rangkaian acara Indonesia Mendongeng #12 melalui hadiah yang mereka dapatkan.

Potret Foto Bersama Setelah Pembagian Hadiah

(Dokumentasi TGR Community, 2025)

Bagaimana Kesan dan Pesan Mereka Terkait Acara Ini?

Potret Pemberian Kesan Pesan dari Adik dan Panitia Penyelenggara

(Dokumentasi TGR Community, 2025)

Berakhirnya acara ini ditutup dengan kesan dan pesan lengkap dari adik-adik peserta, fasilitator, dan juga penyelenggara acara Indonesia Mendongeng #12. Kesan pertama hadir dari Rara, yang menyampaikan rasa senangnya dapat menjalani permainan tradisional kembali setelah kian lama tidak bermain bersama teman-teman. 

“Senang banget bisa ikut bermain permainan tradisional bersama-sama. Aku biasanya sering ikut acara dari TPQ tapi baru acara ini yang ajak aku main bareng bersama teman-teman. Permainan yang paling aku suka itu ketika bermain ABC lima dasar!”

Wah, tidak disangka sesi bermain permainan tradisional bersama tim TGR menjadi sesi yang paling disukai oleh peserta! Eits, selain Rara, ada juga kesan dari Yaris yang merasa permainan tradisional Indonesia lebih menyenangkan dibandingkan permainan yang ada di gadget.

“Seru rasanya bermain secara langsung bersama teman. Kalau dibandingkan dengan bermain di gadget yang suka nge-lag, aku lebih suka bermain permainan tradisional seperti di acara ini.”

Menarik sekali, ya! Ternyata, walau jarang dilakukan di zaman sekarang ini, adik-adik tetap merasa bermain permainan tradisional adalah yang terseru! Oh, ya, selain kesan dari para peserta, ada juga, lho, kesan dari salah satu fasilitator yang menemani adik-adik ketika permainan berlangsung. Kak Ghozi, selaku fasilitator kelompok bermain, mengaku bahwa pengalamannya merupakan langkah berharga di hidupnya. 

“Untuk pengalaman menjadi relawan seperti ini merupakan pengalaman pertama saya. Jadi, bagi saya pengalaman ini sangatlah berharga karena dapat mendukung sekaligus menemani banyak anak-anak untuk menjadi lebih bahagia.”

Selain ungkapan kesan baik dari kakak fasilitator, Bapak Indra sebagai ketua pelaksana acara Indonesia Mendongeng #12 turut menceritakan pengalamannya. Pak Indra mengaku bahwa sempat beberapa kali mengundang tim TGR untuk menemani peserta bermain permainan tradisional Indonesia. 

“Di acara Indonesia Mendongeng sebelum-sebelumnya, kami telah mengundang Traditional Games Returns (TGR) dalam rangka untuk melestarikan permainan tradisional Indonesia. Saya senang sekali melihat antusiasme anak-anak yang tinggi ketika bermain dengan tim TGR. Semoga TGR dapat terus menyebarkan manfaat yaitu selalu mengingatkan anak-anak dengan permainan tradisional!”

Nah, kesan oleh pak Indra barusan menunjukkan bahwa kegiatan bermain TGR di acara Indonesia Mendongeng #12 merupakan memori berharga bagi banyak orang. Oleh karena itu, jangan lupa untuk terus ikuti keseruan lain tim TGR, ya! Yuk, terus lestarikan permainan tradisional dengan Lupakan Gadget-mu, Ayo Main di Luar! 

Journalis dan Writer: Glen Christhover Aprilano, Ghania Nayla Hanifah, dan Hafizah

Editor dan Publisher: Putri Aulia Zulfa

Graphic Designer: Putri Aulia Zulfa

Komentari Tulisan