Traditional Games Returns

Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar!

Festival Literasi Babakan Madang Gandeng TGR Gelar Permainan Tradisional untuk Semua

Minggu, 28 Desember 2025 ~ Oleh Traditional Games Returns ~ Dilihat 106 Kali

Halo Sobat TGR! Sentul, 5 Desember 2025 Komunitas Kayuh Literasi menggandeng Tim Traditional Games Returns (TGR) berkunjung ke Sekolah Taruna Bangsa Sentul. Kolaborasi ini dalam rangka Festival Literasi Babakan Madang 2025 yang bertajuk “Sehati Membangun Literasi Negeri” dengan rangkaian kegiatan nonton dan main bareng. Kegiatan dilaksanakan sepulang sekolah mulai pukul 13.00 WIB hingga 17.00 WIB, dengan melibatkan guru dan siswa SD se-Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. 

Potret Keseruan Acara

(Dokumentasi TGR Community, 2025)

Tentang Komunitas Kayuh Literasi 

Kayuh Literasi merupakan sebuah komunitas bagi pegiat, pemerhati dan penggerak literasi yang berada di bawah naungan Yayasan Kayuh Literasi Bangsa. Komunitas ini berkegiatan di Sentul, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kayuh Literasi dibentuk atas kekhawatiran terhadap kemampuan membaca dan menulis anak-anak usia SD yang kurang maksimal. Kemudian, keresahan atas tidak meratanya akses dan fasilitas pendidikan di wilayah Kabupaten Bogor, khususnya Kecamatan Babakan Madang. 

Kayuh Literasi saat ini membina sembilan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan dua PKBM di Kecamatan Babakan Madang dan Tanjung Sari. Saat ini juga Kayuh Literasi memfasilitasi Pojok Baca Kelas (PBK) di 20 sekolah guna menciptakan Sekolah Ramah Buku. Komunitas Kayuh Literasi percaya bahwa jika akses pendidikan merata, maka akan meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa. 

“Nonton Bareng” Film Terima Kasih Karya Soalihin Asdin 

Pada Festival Literasi Babakan Madang 2025, para guru yang turut hadir diajak untuk menyaksikan film karya anak bangsa yang berjudul “Terima Kasih”. Film ini mengisahkan seorang guru muda yang sedang berusaha mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Untuk melanjutkan mimpinya tersebut, Ia harus mendapatkan surat rekomendasi dari Dinas yang menaunginya, di waktu bersamaan ternyata pihak Dinas memberikan sebuah tugas baru untuk mengajar di daerah terpencil selama satu semester. Mulanya guru tersebut menolak, namun demi mendapatkan surat rekomendasi S2 Ia bertekad untuk menyelesaikan tugas tersebut.

Lika-liku perjuangan sang guru muda ini menjadi menarik ketika harus menyelamatkan enam siswa di sekolah untuk menyelesaikan pembelajaran sebelum ujian kelulusan SD. Tekad perjuangan dan cerita selengkapnya dapat disimak di sini. Lebih dari 60 peserta menyimak dan menyaksikan penayangan film ini di Aula Sekolah Taruna Bangsa. Terdapat rasa haru bercampur semangat untuk memerjuangkan pendidikan sampai ke seluruh pelosok negeri. 

“Saya sangat terharu atas inisiatif pembuatan film ini, juga merefleksikan diri saya sebagai pendidik yang harus tetap bersemangat mengajar dan memberikan ilmu kepada murid-murid saya walau dengan segala keterbatasan. Saya juga merasa relate dengan kisah yang disampaikan dalam film, karena akan selalu ada hambatan dan tantangan, tetapi yang membedakan diri kita sebagai pendidik adalah tidak boleh mudah menyerah dan patah semangat. Murid akan selalu meniru gurunya, maka dari itu penting bagi kita untuk menjadi teladan yang baik”, ujar Ibu Milla, guru SD di Kecamatan Babakan Madang.

“Real pendidikan di Indonesia Timur membutuhkan keikhlasan seorang guru untuk mengabdi. Anak-anak yang merindukan pendidikan secara utuh sesuai kodrat zaman terhalang dengan keterbatasan. Kami mengajar di tempat yang segala sesuatunya lengkap tetapi minat belajar anak tidak ada lagi. Era digital yang didukung kesiapan mental menjadi sangat buruk. Terima kasih pak guru, kisah ini sangat menginspirasi dan akan saya putarkan besok untuk anak didik saya agar mereka bisa lebih bersyukur. Teruslah berkarya untuk dunia pendidikan kita agar lebih maju”, ujar Ibu Esti Kurniati Pujiantari, penonton kisah “Terima Kasih”. 

Sesi Bermain Permainan Tradisional Penuh Sukacita

Lebih dari 60 siswa SD dari beragam sekolah di Kecamatan Babakan Madang turut memeriahkan Festival Literasi Babakan Madang 2025. Kegiatan berlangsung di lapangan Sekolah Taruna Bangsa. Tim TGR memfasilitasi para siswa untuk bermain bersama. Sebelum mulai bermain, semua peserta diajak berdoa dan saling berkenalan. 

Kegiatan diawali dengan ice breaking yang dipandu oleh Kak Nina. Ice breaking yang dipilih adalah permainan tradisional sederhana tanpa menggunakan alat. Ragam permainannya meliputi cingciripit, ampar-ampar pisang, tangkap ikan, berhitung dan bernyanyi lagu daerah Indonesia. Semua peserta antusias dan menunjukkan semangatnya dengan teriakan, nyanyian dan gerakan yang padu. 

Potret Sesi Ice Breaking

(Dokumentasi TGR Community, 2025)

Usai pemanasan dengan permainan sederhana, seluruh peserta dibagi menjadi enam kelompok. Setiap kelompok didampingi oleh pembimbing literasi dan guru untuk mengitari enam pos permainan tradisional yang dipandu oleh Tim TGR. Setiap kelompok berisi 10 anak dengan sekolah berbeda, dengan tujuan agar mereka saling mengenal satu sama lain. 

Enam permainan tradisional yang dimainkan siang hingga sore hari itu antara lain: 

  • Pos 1: Keprayan 

  • Pos 2: Dampu Bulan

  • Pos 3: Ular Tangga Raksasa 

  • Pos 4: Lompat Karet 

  • Pos 5: Damdas 3 dan 16 Batu 

  • Pos 6: Estafet Sarung dan Lempar Cone Ring 

Potret Bermain Damdas dan Lompat Karet

(Dokumentasi TGR Community, 2025)

Setiap pos dieksplorasi selama masing-masing 10 menit. Setiap peserta juga mendapatkan penjelasan edukatif terkait permainan tradisional yang dikunjungi. Seperti penjelasan tentang sejarah, cara bermain dan penyebutan nama lain di berbagai provinsi lainnya. 

Potret Bermain Estafet Sarung dan Lempar Cone Ring

(Dokumentasi TGR Community, 2025)

Semua peserta sangat menikmati momen kebersamaan bersama teman sebayanya. Festival kali ini juga mengajarkan anak untuk membangun kerjasama, komunikasi dan kekompakan. Setiap kelompok diminta untuk tetap bersama satu sama lain dan mengasah jiwa kepemimpinan dengan menerima kemenangan atau kekalahan di setiap pos permainan. 

Potret Bermain Keprayan dan Congklak

(Dokumentasi TGR Community, 2025)

Menjelang sore hari, Bogor terasa lebih dingin daripada biasanya. Rupanya, langit semakin gelap dan akhirnya turun hujan. Meski demikian, tidak menyurutkan semangat anak-anak untuk tetap lanjut bermain. Lokasi bermain kemudian dipindahkan ke lorong kelas untuk menghindari hujan. Ternyata, permainan tetap berjalan lancar dan menyenangkan. 

Potret Bermain Dampu Bulan dan Ular Tangga

(Dokumentasi TGR Community, 2025)

Beberapa peserta membagikan cerita pengalamannya bermain permainan tradisional bersama tim TGR. 

“Aku seneng banget diajak main sama kakak-kakak, aku paling suka main yang kayak catur itu (damdas) karena belum pernah coba sebelumnya. Terus awalnya pusing, tapi seneng banget pas akhirnya ngerti cara mainnya. Kapan-kapan main bareng lagi ya kak!”, ujar Marissa (3 SD) dengan penuh semangat.

“Awalnya aku malu-malu buat gabung sama teman dari sekolah lain, tapi ternyata teman-teman pada baik banget dan ajak aku main bareng. Aku senengnya main keprayan sama estafet sarung. Seru banget dan bikin jiwa kompetitif aku nyala!”, ujar Dimas (4 SD) dengan ceria. 

Potret Foto Bersama

(Dokumentasi TGR Community, 2025)

Nah, bagaimana Sobat TGR seru banget kan keseruan Tim TGR bermain di Festival Literasi Babakan Madang 2025! Sobat TGR juga dapat mengundang Tim TGR untuk menggelar permainan tradisional di berbagai kegiatan dengan menghubungi Salsha di nomor WhatsApp 0856 9479 2992. Kami tunggu ya! Lupakan Gadget-mu, Ayo Main di Luar!

Writer: Aghnina

Editor dan Publisher: Putri Aulia Zulfa

Graphic Designer: Putri Aulia Zulfa

Komentari Tulisan