Halo, Sobat TGR! Kualitas tumbuh kembang anak tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan, tetapi juga oleh pola asuh orang tua sebagai sekolah pertama bagi buah hati. Karena itu, ayah dan ibu perlu cermat dalam memilih pola asuh yang tepat. Menariknya, setiap negara memiliki pendekatan yang berbeda dalam mendidik anak, seperti Denmark dan Rusia. Lalu, apa saja perbedaan pola asuh di kedua negara tersebut? Yuk, kita bahas bersama!
Orang tua di Denmark meyakini bahwa anak lebih mudah belajar melalui aktivitas yang menyenangkan, salah satunya bermain. Aktivitas ini dinilai mampu merangsang kerja otak anak secara optimal. Berbeda dengan pola asuh yang menekankan prestasi akademik sejak dini, orang tua Denmark cenderung membebaskan anak untuk bereksplorasi melalui permainan, baik di alam bebas maupun di lingkungan rumah.

Anak yang sedang Bermain
(Alodokter, 2021)
Mirip dengan pola asuh di Denmark, pola asuh Rusia juga menyelipkan waktu bermain bagi anak prasekolah sebanyak dua kali dalam sehari. Hal ini dilakukan agar anak tidak mengalami stres selama masa belajar.

Beberapa Anak sedang Bermain Bersama
(Disdikpora, 2020)
Denmark: Anak Dilatih Jujur dan Mengenali Emosi
Dalam pola asuh Denmark, orang tua diajarkan untuk bersikap jujur dan terbuka kepada anak. Kejujuran ini ditunjukkan dengan tidak menutupi emosi maupun kesalahan yang dilakukan. Melalui sikap tersebut, anak belajar bahwa kegagalan dan kesalahan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan, serta memahami bahwa tidak ada manusia yang sempurna.
Misalnya, ketika orang tua merasa sedih atau frustrasi, mereka akan menjelaskannya dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak. Dengan begitu, anak dapat mengenali berbagai jenis emosi sejak dini dan belajar mengelola perasaannya dengan lebih baik.
Anak-anak di Rusia telah melakukan berbagai kegiatan secara mandiri sedari mereka kecil. Mereka wajib membantu pekerjaan orang tua, belajar melakukan tugas rumah tangga yang sederhana, seperti menyapu, mencuci piring, bahkan memasak.

Seorang Anak sedang Mencuci Piring
(Halodoc, 2020)
Funfact! Di Rusia terdapat pelajaran terpisah di sekolah yang bernama “bekerja”. Anak perempuan dan anak laki-laki diajarkan hal yang berbeda. Anak perempuan diajarkan untuk belajar menjahit dan memasak, sementara anak laki-laki ditunjukkan cara memaku, menggergaji kayu, dan menyolder kayu. Wah, kira-kira pola asuh seperti ini wajib ada di Indonesia juga nggak?
Dalam pola asuh Denmark, empati itu penting. Orang tua terbiasa menumbuhkan empati pada anak sejak dini, tidak hanya terhadap diri sendiri, tetapi juga kepada orang lain. Anak diajarkan untuk memahami ekspresi serta emosi orang di sekitarnya. Salah satu cara menerapkannya adalah dengan menunjukkan gambar ekspresi manusia saat senang, sedih, marah, gugup dan malu, lalu orang tua akan bertanya kepada anak, “Menurutmu, apa yang sedang dirasakan oleh orang di dalam gambar?”

Memberikan Empati pada Teman
(Pollack Peacebuilding, 2025)
Tanggung Jawab adalah hal terbaik yang dapat membantu menangani perundungan di sekolah. Dengan memiliki sikap bertanggung jawab anak dapat menjadi lebih disiplin dan siap menanggung konsekuensi. Dalam penelitian yang membandingkan pola asuh dan praktik orang tua di Rusia, ditemukan bahwa responsibility atau tanggung jawab merupakan bagian dari cara orang tua membimbing anak untuk menjadi mandiri dan berperilaku sesuai norma sosial.
Orang tua di Denmark percaya bahwa daripada memberikan ultimatum, akan lebih efektif jika anak diberi penjelasan mengenai alasan suatu hal tidak boleh dilakukan serta konsekuensi yang mungkin terjadi. Penjelasan ini disampaikan dengan lembut, tanpa kata-kata kasar maupun paksaan.
Sebagai contoh, anak ingin memegang bunga mawar, orang tua menghindari ucapan seperti “Jangan pegang bunga itu!” Sebaliknya, mereka akan menjelaskan dengan “Kalau kamu memegang bunga itu sembarangan, nanti tanganmu bisa tertusuk duri. Kalau tanganmu sakit, kamu jadi susah menulis”.
Rusia: Didikan Otoriter
Pola Asuh di Rusia cenderung lebih otoriter dan tegas. Istilah otoriter dalam konteks ini merujuk pada tuntutan agar anak patuh terhadap aturan keluarga dan menghormati orang tua. Meski begitu, orang tua tetap mendidik anak dengan sikap tegas tanpa kekerasan. Pola asuh ini disebabkan oleh pengaruh dari budaya Soviet. Tetapi, seiring perkembangan zaman, pola asuh seperti itu sudah mulai berkurang.

Orang Tua sedang Memarahi Anak
(Thinkstock, 2020)
Perbedaan Gaya Pengasuhan Denmark dan Rusia
Anak-anak diajarkan untuk mandiri sejak usia dini. Karena itu, tidak mengherankan jika anak-anak di Rusia sudah terbiasa pergi ke sekolah sendiri. Kemandirian ini tidak hanya dimaknai sebagai kebebasan, tetapi juga kemampuan anak dalam mengurus dirinya sendiri. Meski mandiri, anak tetap dibesarkan dengan aturan rumah yang jelas, sehingga orang tua tidak sepenuhnya lepas tangan.
Jika dibandingkan, pola asuh di Rusia cenderung memiliki aturan yang lebih ketat serta menekankan disiplin dan tanggung jawab. Sementara itu, pola asuh Denmark lebih menonjolkan kebebasan dan dialog. Perbedaan ini juga terlihat dari cara orang tua menegur anak. Di Rusia, teguran disampaikan secara to the point dengan kalimat yang tegas. Sebaliknya, orang tua di Denmark menegur anak dengan cara yang lebih halus dan disertai penjelasan yang lembut.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pola asuh orang tua Denmark maupun pola asuh orang tua Rusia mengajarkan anak untuk bersikap baik dan disiplin, meski dengan pendekatan yang berbeda. Orang tua di Indonesia dapat mengambil nilai positif dari kedua pola asuh ini dan menerapkannya sesuai dengan budaya dan kebutuhan keluarga masing-masing. Lupakan Gadget-mu, Ayo Main di Luar!
Writer: Febyan Putri S. dan Andini Haniyatur Riza
Editor: Andini Haniyatur Riza
Graphic Designer: Dinda Priska Nurfitriani
Referensi:
Guseva, A. (2018). Sepuluh prinsip membesarkan anak ala Soviet. RBTH Indonesia. https://id.rbth.com/discover-russia/82124-prinsip-membesarkan-anak-ala-soviet-gyx
Nisskaya, A. K., & Tsyganova, E. M. (2024). Parental Practices of Controlling and Supporting the Autonomy of Elementary School Children and Early Adolescents in Russia: A Qualitative Study. Psychology in Russia : state of the art, 17(2), 3–22. https://doi.org/10.11621/pir.2024.0201
Rizky. (2025). Parenting ala Rusia: keras di luar, hangat di dalam? TGR Campaign. https://tgrcampaign.com/read/888/parenting-ala-rusia-keras-di-luar-hangat-di-dalam
Titin, H. (n.d.). Mau anak tumbuh mandiri dan bahagia? terapkan 6 tips parenting ala Denmark. TheAsianParent. https://id.theasianparent.com/cara-parenting-denmark
Zetter, M. (2017). I tried parenting like a Russian: i’m never going back. Romper.com. https://www.romper.com/life/i-tried-parenting-like-a-russian-im-never-going-back-66606
Mitra Kolaborasi:
Copyright © 2017 - 2026 Traditional Games Returns All rights reserved.