Hai Sobat TGR! Pada tanggal 27 Desember 2025, RPTRA Cibesut dipenuhi tawa dan keceriaan. Sebanyak 30 anak-anak mengikuti kegiatan bermain permainan tradisional bersama Voluntrip KitaBisa yang mendampingi jalannya kegiatan, dan Tim TGR hadir sebagai fasilitator permainan. Anak-anak tampak antusias dan siap menikmati hari penuh permainan seru dan kebersamaan. Yuk, ikuti keseruan mereka!
Kegiatan diawali dengan sambutan hangat dari Bapak Lurah yang membangun suasana dengan cara yang mengena. Ia membuka obrolan dengan pertanyaan yang langsung memancing reaksi spontan dari anak-anak. “Siapa di sini yang sudah punya handphone?” tanyanya. Seketika, hampir seluruh anak mengangkat tangan sambil berseru, “Saya, Pak! Saya, Pak!” dengan wajah penuh semangat.
Bapak Lurah melanjutkan dengan pertanyaan lanjutan. “Yang sudah punya handphone ini, kelas berapa?” Satu per satu anak menjawab dengan lantang, menyebutkan kelas mereka masing-masing. Suasana pun semakin cair. Lewat obrolan singkat tersebut, Bapak Lurah menekankan pentingnya menyeimbangkan waktu bermain gawai dengan aktivitas bermain bersama teman-teman. Ia mengajak anak-anak untuk menikmati permainan tradisional yang ada hari itu sebagai alternatif seru untuk bermain, bergerak, dan saling berinteraksi.
Selanjutnya, anak-anak, para pendamping dari Voluntrip KitaBisa, dan Tim TGR berkenalan dalam lingkaran besar agar semua bisa saling melihat dan menyapa. Beberapa anak diminta maju ke tengah lingkaran untuk menyebutkan kembali tujuh nama yang sebelumnya sudah berkenalan. Momen ini bikin suasana makin cair dan penuh tawa, sekaligus melatih ingatan dan keberanian anak-anak sebelum masuk ke permainan selanjutnya. Asyikk!
Setelah sesi ice breaking, anak-anak terlihat semakin lepas dan bersemangat. Selanjutnya, sebanyak 30 anak dibagi ke dalam enam kelompok. Setiap kelompok berisi lima anak yang didampingi oleh tiga hingga empat kakak pendamping Voluntrip KitaBisa. Permainan dibagi ke dalam dua sesi yang masing-masing terdiri dari tiga pos, dengan jeda istirahat di tengah kegiatan. Di setiap pos, dua kelompok akan saling berhadapan dalam satu permainan.
Sebelum masuk ke permainan utama, sesi di pos ini diawali dengan pemanasan singkat berupa tebak permainan tradisional. Anak-anak diajak mengingat kembali nama-nama permainan yang pernah mereka dengar atau mainkan. Suasana langsung cair, tawa muncul dari berbagai arah, dan anak-anak pun makin siap masuk ke tantangan berikutnya.

Keseruan Bermain Eat Bulaga
(Dokumentasi TGR Community, 2025)
Setelah pemanasan singkat, anak-anak langsung masuk ke permainan inti, yaitu eat bulaga. Satu orang mengenakan bando di kepala dengan kata tersembunyi, mulai dari nama buah, hewan, hingga alat transportasi.
Tantangannya ada pada cara memberi petunjuk. Teman satu tim hanya boleh menjawab dengan kata “iya”, “tidak”, atau “bisa jadi”. Tidak boleh menyebutkan kata secara langsung. Dari sini, strategi mulai bermunculan. Ada yang bertanya dengan runtut dan sabar, ada juga yang terlalu bersemangat sampai pertanyaannya melompat-lompat. Setiap jawaban yang meleset justru memancing tawa, membuat suasana semakin hidup.
Pada pertandingan pertama, kelompok dua berhasil unggul atas kelompok satu dengan kerja sama yang rapi dan pertanyaan yang tepat sasaran. Ronde berikutnya mempertemukan kelompok lima dan enam di mana kelompok lima tampil lebih tenang dan mampu menebak dengan cepat.
Sementara itu, duel antara kelompok tiga dan empat berlangsung cukup sengit hingga akhirnya dimenangkan oleh kelompok empat. Pos ini benar-benar mengasah logika, kesabaran, kekompakan, dan sekaligus jadi salah satu pos paling ramai sorakan. Asyikk!
Di pos kedua, suasana jadi lebih menantang sekaligus mengundang tawa. Permainan dibuka dengan kuis singkat tebak nama ibu kota provinsi. Anak-anak saling berlomba menjawab dengan cepat. Ada yang langsung yakin, ada juga yang ragu-ragu sebelum akhirnya menjawab. Kuis ini jadi pemanasan yang pas sebelum masuk ke permainan utama.

Keseruan Bermain Kuda Bisik
(Dokumentasi TGR Community, 2025)
Permainan inti di pos ini adalah kuda bisik. Satu kalimat dibisikkan dari pemain pertama hingga pemain terakhir. Tantangannya sederhana, tetapi praktiknya tidak semudah itu. Suara yang terlalu pelan, tawa yang tidak tertahan, hingga salah tangkap kata sering membuat pesan berubah jauh dari kalimat awal.
Pertandingan antara kelompok tiga dan empat berlangsung cukup seru. Kelompok empat berhasil menyampaikan pesan dengan lebih mendekati kalimat awal dan keluar sebagai pemenang. Ronde berikutnya mempertemukan kelompok dua dan satu, di mana kelompok dua tampil lebih unggul.
Pertandingan selanjutnya antara kelompok lima dan enam juga dipenuhi gelak tawa karena pesan yang disampaikan di akhir justru berubah drastis. Meski begitu, semua anak tetap menikmati setiap prosesnya. Pos ini bukti bahwa kerja sama dan konsentrasi bisa dilatih lewat permainan yang sederhana dan menyenangkan. Asyikk!
Di pos ketiga, anak-anak diajak bermain ular tangga dengan format duel antarkelompok. Permainan ini langsung menarik perhatian karena menghubungkan strategi dengan faktor keberuntungan dari lemparan dadu. Setiap langkah menegangkan, apalagi saat bidak hampir mencapai garis akhir.

Keseruan Bermain Ular Tangga
(Dokumentasi TGR Community, 2025)
Pertandingan pertama mempertemukan kelompok lima dan kelompok enam. Sejak awal, kelompok lima terlihat lebih beruntung dengan beberapa kali mendapatkan angka besar. Meski sempat turun karena menginjak kepala ular, mereka tetap bisa mengejar ketertinggalan dan akhirnya keluar sebagai pemenang. Sorak sorai pun langsung terdengar saat bidak terakhir mencapai garis akhir.
Ronde kedua mempertemukan kelompok tiga dan empat. Permainan berlangsung cukup ketat karena kedua kelompok saling mengejar posisi. Namun, kelompok tiga berhasil memanfaatkan tangga dengan baik dan unggul di akhir permainan. Sementara itu, pada ronde terakhir, kelompok satu dan dua saling beradu strategi sambil berharap pada keberuntungan.
Setiap lemparan dadu selalu disambut teriakan antusias dari teman-teman sekelompok. Pos ini benar-benar membuat anak-anak belajar sabar, sportif, dan menikmati proses bermain tanpa harus selalu menang. Asyikk!
Di pos ini, permainan diawali dengan kuis sederhana berbahasa Inggris. Anak-anak diminta menjawab pertanyaan seputar kosakata sehari-hari. Ada yang menjawab dengan percaya diri, ada pula yang saling berbisik sebelum akhirnya berani angkat suara.

Keseruan Bermain Estafet Jenga
(Dokumentasi TGR Community, 2025)
Setelah kuis pembuka, permainan dilanjutkan dengan estafet jenga pass. Anak-anak harus memindahkan balok jenga secara bergantian tanpa menjatuhkannya. Tantangannya bukan hanya soal ketelitian, tetapi juga kekompakan. Satu balok yang goyah bisa membuat seluruh tim tegang.
Pada ronde pertama, kelompok lima berhadapan dengan kelompok empat. Kedua kelompok bermain cukup hati-hati, namun kelompok empat berhasil menjaga susunan balok tetap stabil hingga akhir dan keluar sebagai pemenang.
Ronde kedua mempertemukan kelompok enam dan kelompok tiga. Permainan berlangsung menegangkan karena beberapa balok sempat goyah, tetapi kelompok tiga mampu fokus dan memenangkan pertandingan. Ronde terakhir mempertemukan kelompok satu dan dua. Sorak sorai terdengar setiap kali balok berpindah tangan, hingga akhirnya kelompok dua berhasil menyelesaikan estafet tanpa menjatuhkan susunan jenga.
Pos ini benar-benar menguji ketelitian, kesabaran, dan kerja sama tim. Meski penuh ketegangan, tawa tetap pecah di setiap ronde, membuat permainan terasa seru dari awal sampai akhir. Asyikk!
Di pos kelima, permainan diawali dengan kuis tebak makanan tradisional. Anak-anak menebak asal daerah dari berbagai makanan khas Indonesia. Ada yang langsung yakin menjawab, ada juga yang saling menatap sambil menebak-nebak. Kuis ini sukses memancing rasa penasaran sekaligus menambah wawasan anak-anak tentang ragam kuliner Nusantara.

Keseruan Bermain Balogo
(Dokumentasi TGR Community, 2025)
Setelah kuis, permainan utama balogo pun dimulai. Anak-anak bergantian meluncurkan logo dengan tujuan menjatuhkan sasaran yang ada di depan. Permainan ini membutuhkan ketepatan dan fokus, sehingga setiap lemparan selalu disambut sorakan dari teman satu tim.
Pada ronde pertama, kelompok satu berhadapan dengan kelompok dua, dan kelompok dua berhasil unggul dengan lemparan yang lebih terarah. Ronde kedua mempertemukan kelompok empat dan lima, di mana kelompok empat tampil lebih konsisten dan keluar sebagai pemenang. Ronde terakhir antara kelompok tiga dan kelompok enam berlangsung cukup seru, dengan saling kejar poin hingga akhirnya satu kelompok berhasil mengamankan kemenangan.
Balogo menjadi salah satu pos yang paling ramai karena memadukan konsentrasi dan keseruan. Anak-anak terlihat menikmati setiap giliran bermain sambil terus memberi semangat kepada teman-temannya. Asyikk!
Di pos terakhir, tantangan semakin seru karena mengandalkan kekompakan dan kecepatan berpikir. Permainan dibuka dengan kuis matematika sederhana sebagai pemanasan. Anak-anak berlomba menjawab dengan cepat, saling menyemangati, dan sesekali tertawa saat ada jawaban yang meleset tipis.

Keseruan bermain Estafet Sarung dan Cone Ring
(Dokumentasi TGR Community, 2025)
Permainan berlanjut ke estafet sarung dan cone ring. Anak-anak berdiri berurutan sambil saling memegang sarung, lalu mengoper cone dari satu anak ke anak lainnya tanpa melepaskan pegangan. Kelihatannya mudah, tetapi saat praktik justru bikin deg-degan.
Gerakan yang tidak kompak membuat cone tersangkut atau jatuh, memancing sorakan dan tawa dari kelompok lain. Beberapa duel berlangsung ketat hingga berakhir seri, sementara kelompok yang paling kompak berhasil mengamankan poin lebih banyak. Pos ini menjadi penutup yang pas karena memadukan fokus, kerja sama, dan keseruan tanpa henti. Asyikk!

Pemberian Hadiah Juara
(Dokumentasi TGR Community, 2025)
Setelah seluruh permainan selesai dan poin dari setiap pos dihitung, tibalah saat yang ditunggu-tunggu, yaitu pengumuman juara. Anak-anak berkumpul dengan wajah penuh rasa penasaran, saling menggenggam tangan teman sekelompok sambil menunggu hasil akhir.
Berdasarkan total poin yang dikumpulkan sepanjang kegiatan, juara keenam diraih oleh kelompok satu dengan skor 215 poin. juara kelima ditempati oleh kelompok enam dengan perolehan 235 poin. Selanjutnya, juara keempat berhasil diraih oleh kelompok empat dengan total 260 poin.
Memasuki posisi teratas, juara ketiga diraih oleh kelompok lima dengan skor 290 poin. juara kedua berhasil diamankan oleh kelompok dua dengan total 300 poin. Sementara itu, juara pertama jatuh kepada kelompok tiga yang berhasil mengumpulkan skor tertinggi, yaitu 340 poin.
Sorak sorai dan tepuk tangan langsung memenuhi area kegiatan. Meski tidak semua kelompok berada di posisi teratas, seluruh anak tetap terlihat bangga dengan usaha tim masing-masing. Kemenangan hari itu bukan hanya soal angka, tetapi juga tentang kebersamaan, kekompakan, dan keberanian untuk mencoba. Asyikk!
Nggak cuma membawa keseruan, kegiatan hari itu juga jadi ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak. Mereka bisa bergerak aktif, saling bekerja sama, belajar menerima menang dan kalah, sekaligus mengenal kembali permainan tradisional yang penuh nilai kebersamaan.
Ternyata keseruan kegiatan ini bukan cuma dirasakan oleh anak-anak, tapi juga mendapat respons positif dari pihak pengelola RPTRA. Bapak Budi Santoso, selaku Lurah sekaligus penanggung jawab RPTRA Cibesut.
“Kegiatan edukasi seperti ini sebenarnya pernah diadakan di RPTRA Cibesut, namun belum terfokus pada permainan tradisional. Padahal, permainan tradisional sangat penting untuk dikenalkan kembali kepada anak-anak karena saat ini sudah mulai jarang dimainkan. Selain melatih motorik, kegiatan seperti ini juga membantu mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai,” ujar Bapak Budi Santoso, selaku Lurah sekaligus penanggung jawab RPTRA Cibesut.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut secara lebih intensif, serta anak-anak yang sudah mengenal permainan tradisional bisa membagikannya kembali kepada keluarga dan teman-teman di lingkungan sekitar. Keseruan kegiatan ini juga dirasakan langsung oleh anak-anak peserta yang merasakan langsung serunya bermain permainan tradisional bersama teman-teman, yuk simak apa kata mereka!
“Aku paling suka main ular tangga karena seru. Walaupun kelompok aku kalah, tapi tetap senang karena bisa main bareng teman-teman. Dulu aku juga pernah main permainan tradisional seperti bentengan dan petak umpet,” ungkap Fatir dengan wajah yang ceria dan antusias.
Sementara itu, Tiara juga membagikan kesannya selama bermain permainan tradisional, Tiara mengaku senang, apalagi saat kelompoknya menang dan menjadi juara.
“Aku suka banget main ular tangga, apalagi pas kelompok aku menang jadi makin seru. Kegiatannya asyik banget dan kalau ada lagi aku mau ikut,” tuturnya sambil tersenyum.
Demikian kegiatan Tim TGR kali ini, semoga keceriaan dan pembelajaran yang didapat dapat menjadi pengalaman berkesan bagi seluruh peserta. Bagi Sobat TGR yang ingin berkolaborasi bersama Tim TGR, baik sebagai pendamping kegiatan, mitra komunitas, maupun narasumber, jangan ragu untuk menghubungi kami. Lupakan Gadget-mu, Ayo Main di Luar! (AVT/ed. RN).
Bagi Sobat TGR yang ingin berkolaborasi dengan kami, baik menjadi pengisi acara, tenant, maupun narasumber, cukup klik tautan di sini, ya!
Writer: Alvito
Editor: Irna
Graphic Designer: Putri Aulia Zulfa
Tgrcampaign Permainan Traditional Rptra Cibesut Voluntrip KitabisaMitra Kolaborasi:
Copyright © 2017 - 2026 Traditional Games Returns All rights reserved.