Traditional Games Returns

Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar!

Semua Anak Berhak Bahagia: Terapi Bermain Untuk Mengembalikan Senyum Anak Korban Bencana

Senin, 23 Februari 2026 ~ Oleh Traditional Games Returns ~ Dilihat 80 Kali

Sudah lebih dari dua bulan setelah terjadinya bencana banjir dan longsor (bansor) di pulau Sumatera. Lebih dari 1.200 orang meninggal, ratusan lainnya masih dalam pencarian, dan akses transportasi masih banyak yang rusak total, menyulitkan tim bantuan, relawan, dan pemerintah kesulitan menjangkau kampung/desa yang membutuhkan pertolongan. Saat ini, BNPB juga mencatat bahwa terdapat 75 ribu pengungsi yang saat ini sedang berusaha sekuat tenaga untuk bertahan hidup dan cemas dalam menghadapi masa depan. 

“Apakah besok, bantuan akan tetap datang?”

“Bagaimana kelanjutan nasibku dan keluargaku setelah ini?”

“Rumahku sudah hancur. Apa yang harus kulakukan?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya secuil dari sejuta tanya yang ada dalam benak para pengungsi akan hari-hari ke depan. Dan di antara ratusan ribu jiwa yang resah, ada ribuan anak-anak yang juga sedang menghadapi rasa gelisah, takut, dan cemas akan nasibnya.



Dokumentasi Banjir di Aceh

(South China Morning Post, 2025)

Sayangnya, anak-anak tidak memiliki kapasitas emosional dan kognitif sebaik orang dewasa, sehingga cara mereka memproses peristiwa bencana ini akan sangat rumit dan membekas dalam benak mereka. Sudah banyak anak-anak yang bertahan hidup melewati bencana, namun kesulitan menghadapi kesehariannya karena bayang-bayang kenaasan dan peristiwa buruk tersebut masih terbayang jelas dalam pikiran mereka bahkan hingga memasuki usia dewasa. 


Dokumentasi Anak dan Orang Tua Korban Bencana
(ABC News, 2025)

Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk membantu mereka dalam situasi tersebut? Selain mereka membutuhkan makanan, tempat tinggal, dan akses air minum yang bersih perlu dipenuhi, mereka juga perlu teman-teman dan bermain. Hidup anak-anak adalah hidup untuk permainan dan memainkannya. Bukan sekadar untuk menyalurkan energi dan aktivitas penuh riang gembira bersama kawan seumuran, namun bermain adalah wadah berekspresi yang jujur, tempat pemulihan diri, dan mendewasakan kejiwaan mereka.

Sayangnya, tak banyak organisasi kemanusiaan atau institusi yang mengetahui pentingnya aspek bermain untuk anak-anak terdampak bencana dan tanpa sengaja mengabaikan kepentingan anak-anak ini.  Hasil studi jurnal Humanitis tahun 2024 juga menunjukkan bahwa aktivitas bermain merupakan aspek kunci daam proses pemulihan anak-anak dalam membantu mereka menjalani kehidupan selanjutnya pasca bencana. 

United Nation Childrens Fund (UNICEF) melalui Konvensi Hak Anak juga menyatakan bahwa hak anak untuk bermain adalah kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi dalam pasal 31 b. Namun sayangnya, dalam masa pasca bencana, anak-anak kerap kali tidak mendapatkan sorotan.

Bukan saja mereka harus melalui peristiwa yang traumatik dan penuh tekanan, mereka juga kehilangan ruang aman dan ramah anak, dan prioritas masyarakat dan lembaga humanitarian masih berfokus pada kebutuhan pokok akan sandang, pangan, dan papan. Padahal, mereka pun juga seharusnya mendapatkan perlakuan dan bantuan yang memadai selayaknya orang dewasa agar bisa pulih dalam periode yang menantang ini. 

Namun, yah, namanya juga anak-anak, pasti ada saja ide kreatifnya. Beberapa foto di media nasional maupun lembaga sosial menunjukkan kegembiraan anak ketika mereka berkunjung ke lokasi. Entah sedang bermain permainan seperti bermain bola, kejar-kejaran, petak umpet, atau lainnya, tapi intinya, mereka tetap menemukan kegembiraan yang luar biasa di tengah kesulitan yang sedang dihadapi.

Data penelitian berbagai jurnal ilmiah menunjukkan bahwa salah satu kegiatan mental healing yang dapat membantu anak-anak terdampak bencana untuk mengatasi kecemasan dan ketakutan adalah bermain, termasuk memainkan permainan tradisional.


Potret Komeng Kunjungi Anak di Pengungsian Sumatera Barat

(CNA.id, 2025)

Kehadiran para tokoh bangsa seperti Komeng dan Kak Seto juga tentunya membangkitkan semangat dan menyemarakkan suasana desa agar tetap penuh harapan dan ceria. Selain memberikan bantuan pangan, hadirnya mereka juga mampu membangun senyum dan tawa anak-anak yang terbukti ketika mereka sedang bermain bersama mereka dengan penuh semangat, keusilan, dan canda. Siapa sangka, dari permainan sederhana, bisa sukses hadirkan harapan?

Jadi, untuk membangun desa/kampung menjadi kembali berdaya, penting untuk menyentuh ribuan anak-anak lebih dari sekadar makanan siap saji, dan sembako, namun juga dengan membangun ruang ramah anak, sekolah darurat, hingga pendampingan psikologis. Anak-anak bukanlah sekadar target/objek penerima manfaat. Mereka adalah aktor pembangun dan harapan desa di masa depan. Anak adalah generasi penerus bangsa yang dapat menentukan kebangkitan dan kemajuan bangsa. Sudah selayaknya mereka bisa mendapatkan hak-hak dasar mereka dan ruang bermain/berekspresi yang sebebas-bebasnya. Lupakan Gadget-mu, Ayo Main di Luar!

Writer: Samuel Wangsa

Editor dan Publisher: Putri Aulia Zulfa

Graphic Designer: Dinda

Referensi:

United Nations. (1989). Convention on the Rights of the Child. UNICEF. https://www.unicef.org/media/52626/file

Akmal, N., Widyastuti, W., Ma’arif, M. R., Syam, A. A., & Gangka, N. A. T. (2021). Terapi bermain sebagai solusi trauma healing pada anak di kawasan bencana pasca gempa. Seminar Nasional Hasil Pengabdian 2021: Penguatan Riset, Inovasi, dan Kreativitas Peneliti di Era Pandemi Covid-19, 742–746. Universitas Negeri Makassar.

Devi, A. C. A., Fairuz, P., Janah, N., Sanga, V. A. P., Sari, Z. P., & Supriyadi, T. (2024). Peran intervensi sosial dalam memulihkan trauma anak pasca bencana alam. Humanitis: Jurnal Humaniora, Sosial dan Bisnis, 2(12), 1305–1314. Universitas Bhayangkara Jakarta Raya.

Pramardika, D. D., Hinonaung, J. S. H., Mahihody, A. J., & Wuaten, G. A. (2020). Pengaruh terapi bermain terhadap trauma healing pada anak korban bencana alam. Faletehan Health Journal, 7(2), 85–91. Politeknik Negeri Nusa Utara

Gayatri, S., Reniwati, R., Bahren, B., Ramadani, M., & Solfiyeni, S. (2025). Integratif permainan tradisional sebagai strategi trauma healing berbasis komunitas untuk anak korban bencana: Studi kontekstual di Sumatera Barat. PaKMas: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 5(1), 342–350. 

Komentari Tulisan