Traditional Games Returns

Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar!

Dari Permainan Tradisional sampai Balloon Twist: Serunya Voluntrip di RPTRA Rawa Indah

Jum'at, 06 Maret 2026 ~ Oleh Traditional Games Returns ~ Dilihat 63 Kali

Halo, Sobat TGR! Pernah enggak sih ngerasain akhir pekan yang isinya tawa anak-anak, balon warna-warni, dan permainan seru yang membuat nostalgia? Itulah suasana yang terasa sekali dirasakan oleh teman-teman Voluntrip bersama tim TGR di RPTRA Rawa Indah, Johar Baru, Jakarta Pusat. Dari permainan tradisional yang membuat kita balik ke masa kecil, sampai balloon twist yang sukses bikin anak-anak antusias, kegiatan ini menjadi momen untuk berbagi keceriaan yang hangat dan penuh cerita. Bukan hanya soal main dan seru-seruan, tetapi juga tentang hadir, menemani, dan menciptakan kenangan kecil yang berarti.

Pada hari Sabtu, 31 Januari 2026 kemarin, kegiatan bermain sambil belajar ini dilaksanakan oleh 30 adik-adik dari RPTRA Rawa Indah, Johar Baru, Jakarta Pusat yang ditemani oleh kakak-kakak dari Voluntrip KitaBisa yang kurang lebih berjumlah 20 orang, dan dipandu oleh teman-teman TGR. Kegiatan dimulai dengan perkenalan adik-adik bersama kakak relawan dengan membentuk lingkaran besar dan saling berkenalan satu sama lain.

Sesi Perkenalan Kakak Voluntrip Bersama Adik-adik

(Dokumentasi Tim TGR, 2026)

Setelah sesi perkenalan selesai, kegiatan dilanjut dengan ice breaking bermain permainan nelayan mengepung ikan, yang melibatkan kakak relawan dan adik-adik secara langsung. Dalam permainan ini, kakak relawan dan adik-adik bermain berpasangan dengan penuh keceriaan, di mana adik-adik bergerak lincah sebagai ikan sementara kakak relawan berusaha mengepungnya, dan dilakukan secara bergantian. Permainan ini berhasil menciptakan suasana akrab dan membuat anak-anak lebih berani bergerak serta berinteraksi.

Potret Sesi Ice Breaking

(Dokumentasi Tim TGR, 2026)


Setelah itu, untuk membantu mencairkan suasana dan sekaligus menumbuhkan rasa kebersamaan, anak-anak diajak membentuk lingkaran besar dan berjalan memutar sambil menyanyikan berbagai lagu daerah. Ketika nyanyian berhenti, Kak Nina selaku pemandu acara menyebutkan sebuah kata, lalu anak-anak diminta untuk menghitung jumlah huruf dalam kata tersebut. Berdasarkan jumlah tersebut, anak-anak bersama kakak relawan membentuk lingkaran-lingkaran kecil yang kemudian digunakan untuk melanjutkan permainan.

Dari lingkaran-lingkaran kecil, sebagai penutup sesi ice breaking, suasana kembali dibuat meriah lewat permainan Icir-icir Oper Biji. Anak-anak bersama kakak-kakak Voluntrip duduk melingkar, lalu satu orang dipilih untuk menjadi meja dengan posisi duduk di tengah lingkaran. Sebuah biji kecil kemudian digilir secara diam-diam dari satu tangan ke tangan lainnya sambil seluruh peserta menyanyikan lagu daerah bersama-sama. Ketika lagu selesai dinyanyikan, operan biji pun dihentikan. Anak yang berperan sebagai meja lalu mendapat tantangan untuk menebak di tangan siapa biji tersebut berhenti. Tawa spontan dan ekspresi penasaran anak-anak menutup sesi permainan dengan penuh keceriaan, sekaligus memperkuat rasa kebersamaan anak-anak.

Keseruan Bermain Icir-icir Oper Biji

(Dokumentasi Tim TGR, 2026)

Sebelum kegiatan dilanjutkan ke rangkaian acara berikutnya, anak-anak kemudian dikumpulkan dan dibagi berdasarkan jenjang kelas sekolah mereka saat ini. Dari pembagian tersebut, terbentuk enam kelompok kecil yang masing-masing terdiri dari empat hingga lima anak. Setiap kelompok didampingi oleh tiga kakak Voluntrip yang siap membantu, mengarahkan, sekaligus menemani anak-anak selama bermain permainan tradisional. Pembagian kelompok ini dilakukan agar interaksi terasa lebih dekat, kegiatan berjalan lebih tertib, dan setiap anak mendapatkan perhatian serta pengalaman bermain yang lebih maksimal.

Permainan tradisional yang disediakan dalam kegiatan ini berjumlah enam, yaitu estafet sarung dengan cone ring, kuda bisik, gasing, balogo, dampu bulan, dan damdas. Kegiatan permainan tradisional dilaksanakan dengan sistem pos ke pos. Pada awalnya, setiap kelompok menempati satu pos permainan yang berbeda. Kelompok satu memulai permainan di pos estafet sarung dengan cone ring, kelompok dua di pos kuda bisik, kelompok tiga di pos gasing, kelompok empat di pos balogo, kelompok lima di pos dampu bulan, dan kelompok enam di pos damdas.

Permainan estafet sarung dimainkan secara berkelompok oleh kelompok satu dengan seluruh anggota saling bergandengan tangan dan tidak diperbolehkan melepaskan pegangan selama permainan berlangsung. Sebuah sarung digunakan sebagai alat estafet yang harus dipindahkan dari satu anggota ke anggota lainnya dengan cara dilewati melalui tubuh tanpa melepaskan pegangan tangan. Setelah sarung berhasil mencapai anggota terakhir, anggota urutan terakhir tersebut kemudian melempar sebuah ring ke dalam cone yang diletakkan dengan jarak kurang lebih satu meter. Permainan ini dilakukan secara bergantian hingga seluruh anggota kelompok mendapatkan giliran untuk melempar ring ke dalam cone.

Potret Keseruan Bermain Estafet Sarung

(Dokumentasi Tim TGR, 2026)

Pada pos nomor dua, permainan yang dimainkan adalah kuda bisik. Seluruh anggota kelompok berbaris lurus dengan posisi saling membelakangi. Tim TGR terlebih dahulu menyampaikan sebuah kalimat kepada anggota yang berada di posisi paling depan. Kalimat tersebut kemudian diteruskan secara berbisik dari satu anggota ke anggota berikutnya hingga sampai kepada anggota paling akhir. Anggota terakhir bertugas menebak dan menyampaikan kembali kalimat yang diterimanya. Agar seluruh peserta mendapatkan pengalaman yang sama, setiap anggota kelompok bergantian menempati seluruh posisi selama permainan berlangsung.

Potret Keseruan Bermain Kuda Bisik

(Dokumentasi Tim TGR, 2026)

Selanjutnya, pos nomor tiga diisi dengan permainan gasing tradisional yang terbuat dari kayu, dilengkapi dengan benang dan alas berupa tampah. Permainan tradisional gasing umumnya berasal dari masyarakat pesisir Melayu (seperti Kepulauan Riau) dan telah berkembang luas di Nusantara. Cara bermainnya dimulai dengan melilitkan benang pada bagian ujung gasing, kemudian menyisakan sedikit bagian benang untuk ditarik. Setelah itu, benang ditarik dengan kuat agar gasing dapat berputar di atas tampah. Anak-anak bermain secara bergantian, baik untuk mencoba memutar gasing maupun melakukan adu putaran sederhana. Selama permainan berlangsung, kakak-kakak relawan Kitabisa turut mendampingi dan membantu anak-anak agar dapat memainkan gasing dengan benar dan aman.

Potret Keseruan Bermain Gasing

(Dokumentasi Tim TGR, 2026)

Pada pos berikutnya, yaitu pos empat anak-anak diajak mengenal dan memainkan balogo, salah satu permainan tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan, khususnya budaya Banjar. Permainan ini sudah dikenal sejak lama dan biasa dimainkan sebagai hiburan rakyat dengan memanfaatkan alat-alat sederhana dari lingkungan sekitar, seperti cangkang kelapa yang dibuat menjadi kepingan yang pipih. Pada saat acara kemarin Voluntrip di RPTRA Rawa Indah, balogo diperkenalkan sebagai bagian dari upaya mengenalkan kekayaan permainan tradisional nusantara kepada anak-anak.

Potret Keseruan Bermain Balogo

(Dokumentasi Tim TGR, 2026)

Balogo dimainkan dengan menyusun kepingan kayu pipih sebagai sasaran, kemudian meluncurkan kepingan lainnya menggunakan alat pemukul sederhana untuk menjatuhkan sasaran tersebut. Anak-anak memainkan permainan ini secara bergantian dengan pendampingan kakak-kakak relawan, sehingga mereka tidak hanya belajar cara bermain, tetapi juga memahami nilai ketelitian, kesabaran, dan sportivitas. Melalui permainan balogo, suasana kegiatan terasa semakin berwarna karena anak-anak tidak hanya bermain, tetapi juga mengenal budaya dari daerah lain secara langsung dan menyenangkan.

Selanjutnya, pos nomor lima diisi dengan permainan dampu bulan atau yang lebih dikenal dengan engklek. Permainan ini menggunakan alas berbentuk pola kotak-kotak yang biasanya oleh anak-anak digambar di lantai atau tanah. Polanya biasanya tersusun memanjang ke depan dengan beberapa kotak tunggal dan sepasang kotak berdampingan di bagian tertentu, lalu diakhiri dengan setengah lingkaran atau bentuk menyerupai “bulan” di bagian paling atas sebagai titik akhir. Setiap kotak diberi nomor urut yang harus dilalui pemain secara berurutan.

Keseruan Bermain Dampu Bulan

(Dokumentasi Tim TGR, 2026)

Cara bermainnya dimulai dengan melempar balok kecil atau penanda ke salah satu kotak sesuai urutan nomor. Pemain kemudian melompat menggunakan satu kaki melewati kotak-kotak yang ada, tanpa menginjak kotak yang berisi balok tersebut. Pada bagian kotak yang berdampingan, pemain diperbolehkan menapak dengan dua kaki. Setelah mencapai ujung pola, pemain berbalik arah dan mengambil kembali balok kecil tersebut sambil tetap menjaga keseimbangan.

Anak-anak dan kakak voluntrip bermain secara bergantian mengikuti nomor urut yang telah ditentukan. Setiap kali balok kecil dilempar, suasana langsung hening sejenak, semua menunggu apakah lemparannya tepat masuk ke kotak yang dituju. Ada yang hampir kehilangan keseimbangan, ada yang harus mengulang karena balok keluar garis, dan ada juga yang sukses melompat sampai ke ujung tanpa kesalahan. Momen-momen sederhana itu justru menghadirkan tawa dan sorakan kecil dari teman-teman satu kelompok, membuat pos dampu bulan terasa hangat dan penuh semangat kebersamaan.

Pada pos terakhir, anak-anak mencoba permainan tradisional damdas, yang dikenal pula sebagai damdaman atau catur jamhwa dalam beberapa daerah. Damdas merupakan permainan strategi sederhana yang dimainkan oleh dua orang yang biasanya dengan menggunakan tiga batu atau enam belas batu dengan warna senada dan berbeda dengan lawan main, atau biji-bijian sebagai bidak di atas papan permainan yang digambar dengan pola garis tertentu. Permainan ini berasal dari tradisi Betawi dan sudah dimainkan sejak lama sebagai salah satu permainan tradisional yang mengasah kemampuan berpikir.

Permainan dimulai dengan kedua pemain melakukan suit untuk menentukan siapa yang akan berjalan lebih dahulu. Selanjutnya, pemain bergantian menggerakkan batu miliknya selangkah demi selangkah mengikuti garis pada papan, baik ke depan, ke belakang, maupun serong, tanpa melompati dua titik sekaligus. Tujuan dari permainan adalah lebih dahulu menggerakkan ketiga batu milik sendiri ke area goal lawan yang terletak di sisi lain papan permainan.

Potret Keseruan Bermain Damdas

(Dokumentasi Tim TGR, 2026)

Meski sederhana, damdas membutuhkan konsentrasi dan strategi dalam setiap langkahnya, sehingga anak-anak tak hanya bersenang-senang, tetapi juga belajar berpikir cermat dan merencanakan langkah mereka dengan teliti. 

Setiap kelompok diberikan waktu selama sepuluh menit untuk memainkan permainan di masing-masing pos. Setelah waktu yang ditentukan berakhir, seluruh kelompok berpindah ke pos permainan berikutnya secara berurutan. Dengan sistem ini, seluruh kelompok dapat mencoba keenam permainan tradisional yang tersedia secara bergantian hingga seluruh rangkaian permainan selesai dilaksanakan.

Setelah seluruh kelompok menyelesaikan rangkaian permainan di setiap pos, anak-anak kembali ke kelompok masing-masing dan duduk membentuk lingkaran bersama kakak voluntrip. Suasana yang sebelumnya penuh gerak dan sorakan perlahan berubah menjadi lebih santai. Momen ini dimanfaatkan sebagai snack time, di mana anak-anak dapat beristirahat sejenak setelah seru bermain berbagai permainan tradisional.

Sambil menikmati camilan, mereka berbincang ringan, berbagi cerita tentang permainan yang paling mereka sukai, dan melepas lelah sebelum memasuki rangkaian kegiatan berikutnya. Snack time menjadi jeda yang hangat, bukan hanya untuk mengisi energi, tetapi juga untuk mempererat kebersamaan dalam kelompok sebelum keseruan selanjutnya dimulai.

Snack Time Anak-anak dan Kakak Voluntrip

(Dokumentasi Tim TGR, 2026)

Setelah energi kembali terisi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi ice breaking untuk mengembalikan fokus dan semangat anak-anak. Kali ini, sesi dipandu oleh Kak Miftah yang memimpin dengan penuh antusias. Anak-anak diajak bernyanyi lagu “Di Sini Senang, Di Sana Senang” sambil mengikuti gerakan-gerakan yang seru dan penuh semangat. Tawa dan tepuk tangan kembali memenuhi area kegiatan, membuat suasana menjadi hidup dan terarah kembali.

Setelah anak-anak kembali fokus, mereka diajak duduk membentuk lingkaran sesuai kelompok masing-masing untuk memasuki sesi balloon twist. Setiap anak menerima satu plastik yang berisi beberapa balon panjang, sementara setiap kelompok dibekali tiga alat peniup balon untuk digunakan secara bergantian. Dengan pendampingan kakak voluntrip, anak-anak mulai mencoba meniup dan membentuk balon menjadi berbagai kreasi sederhana, menjadikan sesi ini sebagai penutup kegiatan yang kreatif dan menyenangkan.

Pada sesi balloon twist, rangkaian pertama dimulai dari bentuk yang paling sederhana, yaitu pedang-pedangan. Anak-anak terlebih dahulu meniup balon hingga memanjang, kemudian dengan arahan kakak voluntrip, balon tersebut dilipat dan diputar hingga membentuk pedang. Setelah seluruh peserta berhasil membuat pedang, tingkat kesulitannya perlahan ditingkatkan. Anak-anak diajak membentuk balon menjadi anak anjing, kemudian bunga, dan terakhir bentuk panahan lengkap dengan busur dan anak panah yang seluruhnya terbuat dari balon.

Keseruan Bermain Balloon Twist

(Dokumentasi Tim TGR, 2026)

Rangkaian ini dilakukan dengan tempo yang kompak dan tidak terburu-buru agar setiap anak dapat mengikuti setiap langkah dengan baik. Sesekali terdengar suara balon yang pecah, yang sontak membuat satu ruangan terkejut sebelum akhirnya kembali dipenuhi tawa dan sorakan. Momen-momen kecil seperti itu justru menambah keseruan suasana.

Menjelang akhir sesi, sambil menunggu seluruh anak menyelesaikan kreasi balon mereka, Kak Nina memberikan kuis interaktif kepada setiap kelompok. Terdapat enam pertanyaan yang dibagikan secara bergiliran, dengan topik seputar kebudayaan Jakarta, permainan tradisional, hingga lagu-lagu daerah. Anak-anak yang berhasil menjawab dengan benar mendapatkan hadiah berupa permainan tradisional congklak, yang semakin menambah semangat dan antusiasme mereka hingga kegiatan benar-benar ditutup dengan penuh keceriaan.

Pemberian Hadiah Kuis Pada Anak-anak

(Dokumentasi Tim TGR, 2026)

Setelah puas bermain dan berkreasi dengan balon, kegiatan pun memasuki momen penutup. Anak-anak bersama kakak voluntrip, Kak Miftah, dan tim TGR berkumpul untuk melakukan foto bersama sebagai simbol kebersamaan dan kenangan yang telah tercipta sepanjang kegiatan. Dengan balon-balon hasil karya masing-masing di tangan, mereka berdiri berdampingan, mengabadikan satu siang penuh cerita di RPTRA Rawa Indah.

Foto Bersama Seluruh Peserta

(Dokumentasi Tim TGR, 2026)

Acara kemudian benar-benar ditutup dengan pembagian hadiah kepada seluruh anak-anak yang telah berpartisipasi. Hadiah yang dibagikan berupa makanan, snack, serta perlengkapan mandi sebagai bentuk apresiasi atas semangat dan antusiasme mereka. Senyum lebar tampak menghiasi wajah-wajah kecil yang bahagia, pulang membawa hadiah sekaligus balon twist hasil karya mereka sendiri yang menjadi sebuah kenangan sederhana namun bermakna dari hari yang penuh keceriaan.

Anak-anak mengungkapkan rasa senangnya setelah mengikuti seluruh rangkaian acara kegiatan.

“Kegiatan hari ini seru, aku paling suka pas main permainan tradisional yang banyak itu” tuturnya.

Siwa merasa kegiatan hari itu sangat seru dan menyenangkan. Dari semua rangkaian acara, bagian yang paling ia sukai adalah saat bermain berbagai permainan tradisional bersama teman-temannya. Banyaknya jenis permainan yang dimainkan membuat suasana terasa semakin ramai, penuh tawa, dan tidak membosankan.

Ada juga salah satu anak  yang menyampaikan perasaan hatinya mengenai acara tersebut dengan sumringah membawa hadiah banyak di tangannya.

“Kegiatan nya seru, asik, aku seneng banget bisa dapet hadiah sama main balon bikin banyak bentuk. mainan gasing nya juga seru banget” ujar Bilqis.

Bilqis merasa kegiatan hari itu benar-benar seru dan asyik. Ia sangat senang karena bisa mendapatkan hadiah sekaligus ikut bermain balon dengan berbagai bentuk yang lucu dan menarik. Selain itu, permainan gasing juga menjadi salah satu momen favoritnya karena terasa sangat menyenangkan dan membuat suasana semakin ramai.

Selain dari anak-anak, beberapa kakak voluntrip yang turut mendampingi dan membimbing selama kegiatan berlangsung. Mereka mengaku bahwa pengalaman terlibat langsung dalam setiap pos permainan memberikan kesan yang berbeda dan bermakna.

Salah satu kakak voluntrip, yaitu Kak Siti, menyampaikan bahwa mendampingi anak-anak saat bermain permainan tradisional menjadi momen yang menyenangkan sekaligus menantang.

“Seru banget karena jadi ingat masa kecil aku main-mainan tradisional dulu kayak main dampu bulan terus main gasing juga tadi seru banget walaupun aku gagal tapi seru banget sih semoga nanti juga tempatnya bisa lebih ramai lagi dan lebih luas lagi biar kita bisa sama-sama main bareng dan lebih nyaman lagi dalam bermain permainan tradisional”. Ujar kak Siti

Ia mengaku kegiatan hari itu benar-benar seru banget karena bisa kembali merasakan sensasi main seperti zaman kecil dulu. Permainan seperti dampu bulan bikin nostalgia langsung menyerang dan suasananya terasa hangat banget. Momen paling pecah menurutnya adalah saat main gasing. Walaupun sempat gagal, justru di situ letak serunya ada tawa, ada usaha, dan tetap happy. Ia juga berharap ke depannya acaranya bisa diadakan di tempat yang lebih luas supaya makin ramai, makin heboh, dan makin banyak yang bisa ikut merasakan keseruannya.

Selain dari Kak Siti, ada juga salah satu kakak Voluntrip, yaitu Kak Shaqu yang menyampaikan kesannya saat bermain bersama TGR.

“Kalo sama TGR jujur aku selalu ngerasa gacor dan anak-anaknya juga lebih engage karena kita mainnya bareng-bareng. terus happy banget sih bisa main sama anak-anak semuanya di TGR menurut aku top markotop banget semoga lebih sering-sering ketemu ya”. Tutur kak Shaqu dengan senang

Ia mengungkapkan bahwa setiap mengikuti kegiatan TGR, ia selalu merasa penuh semangat dan energinya terasa luar biasa. Menurutnya, konsep bermain bersama membuat anak-anak menjadi jauh lebih aktif dan terlibat karena semuanya ikut berpartisipasi dalam suasana yang seru dan kompak. Ia merasa sangat bahagia bisa bermain langsung bersama anak-anak dalam kegiatan tersebut. Baginya, TGR sudah benar-benar top markotop dan ia berharap kegiatan seperti ini bisa lebih sering diadakan agar kebersamaan itu terus terjalin.

“Yang paling seru tuh Tadi pas main lempar ring. Awalnya kita disuruh estafet sarung, ternyata itu menentukan kita main duluan atau enggak. Anak-anaknya juga ambis banget pas main itu”. tambahnya.

Kak Shaqu juga menambahkan momen yang paling berkesan baginya adalah saat permainan lempar ring. Sebelum permainan dimulai, peserta diminta melakukan estafet sarung yang ternyata menentukan siapa yang mendapat giliran bermain lebih dulu. Kejutan kecil tersebut justru membuat suasana semakin heboh dan penuh antusiasme. Anak-anak terlihat sangat bersemangat dan kompetitif dengan cara yang menyenangkan, sehingga menciptakan momen yang ramai, lucu, dan sulit dilupakan.

Nah, Sobat TGR, itulah rangkaian kegiatan Tim TGR di RPTRA Rawa Indah pada Sabtu, 31 Januari kemarin. Sebuah siang yang dipenuhi tawa, gerak, kreativitas, dan kebersamaan. Dari permainan tradisional yang sarat nilai budaya hingga balloon twist yang penuh warna, setiap momen dirancang bukan hanya untuk menghibur, tetapi juga untuk membangun kedekatan, kerja sama, serta keberanian anak-anak dalam mencoba hal baru.

Semoga keseruan hari itu menjadi kenangan manis bagi seluruh anak-anak yang terlibat, sekaligus pengingat bahwa bermain bersama di ruang terbuka selalu punya cerita yang tak tergantikan. Ikuti terus keseruan kegiatan TGR lainnya, ya! Lupakan Gadget-mu, Ayo Main di Luar! (SYL/ed.PAZ)

Writer: Sylvi Laila Anwar

Editor dan Publisher: Putri Aulia Zulfa

Graphic Designer: Indiana

Komentari Tulisan