Traditional Games Returns

Lupakan Gadgetmu, Ayo Main di Luar!

Sapoe Ngahiji Jeung Budaya Sunda: Menghidupkan Permainan Tradisional di SMA IF Al-Fikri Depok!

Kamis, 23 April 2026 ~ Oleh Traditional Games Returns ~ Dilihat 23 Kali

Halo Sobat TGR! Pada tanggal 12 Februari 2026, SMA IF Al-Fikri Depok mengadakan acara bertema “Sapoe Ngahiji Jeung Budaya Sunda” yang berarti “Sehari Menyatu dengan Budaya Sunda.” Dalam kegiatan ini, SMA IF Al-Fikri berkolaborasi dengan TGR untuk memperkenalkan berbagai permainan tradisional Sunda kepada para murid. Wah, kira-kira permainan apa saja yang diperkenalkan, ya? Yuk, simak cerita lengkapnya!

Saatnya belajar budaya lewat permainan yang interaktif

Acara dimulai pukul 09.00 WIB dengan seluruh murid telah duduk rapi dengan kelompoknya masing-masing di aula. Kegiatan dibuka oleh Kak Nina, founder komunitas TGR, yang mempresentasikan berbagai permainan tradisional Sunda dengan cara yang seru dan interaktif mulai dari sejarah, filosofi, hingga cara bermain.



     Memperkenalkan Permainan Tradisional

(Dokumentasi TGR Community, 2026)

 

Para murid terlihat fokus saat mendengarkan, apalagi ketika Kak Nina langsung mempraktikkan cara bermainnya. Hal ini membantu mereka lebih mudah memahami dan mendapatkan gambaran cara bermain dari setiap permainan.

Salah satu momen paling seru terjadi saat Kak Nina mengajarkan lagu permainan Oray-orayan dan Cingciripit. Para murid langsung ikut menghafalkan lagu-lagu tersebut dengan penuh semangat. Beberapa dari mereka bahkan asyik bernyanyi bersama teman-temannya sambil tertawa. Suasana pun menjadi semakin meriah dan penuh keceriaan.

Selain itu, Kak Nina juga memberi kesempatan kepada para murid untuk langsung mencoba permainan bersama teman-temannya. Suasana aula pun langsung berubah menjadi lebih hidup dan penuh dengan tawa. Semua terlihat antusias mengikuti setiap instruksi yang diberikan.


Salah satu permainan yang bikin heboh adalah Paciwit Ciwit Lutung. Para murid bermain dalam kelompok kecil sambil saling mencubit tangan teman secara bergantian hingga posisi tangan semakin tinggi. Meski sederhana, permainan ini sukses mengundang gelak tawa karena ekspresi lucu para pemain. Kebersamaan mereka pun terasa semakin hangat.

Mempraktikkan Cara Bermain    

(Dokumentasi TGR Community, 2026)

 

Keseruan berlanjut saat bermain Perepet Jengkol ketika para murid harus mengaitkan kaki kanan dengan kaki teman di belakang hingga saling mengunci dengan kuat. Setelah itu, mereka melompat-lompat sambil berputar dan bernyanyi bersama. Nah Sobat TGR, selain seru, permainan ini juga melatih kekompakan dan keseimbangan tim lho!

Keseruan menjelajahi 10 pos permainan tradisional

Ini dia momen yang paling ditunggu, yaitu bermain langsung di lapangan! Terdapat 10 pos dengan berbagai macam permainan seru yang siap dicoba oleh para murid. Karena jumlah kelompok juga ada 10 maka setiap kelompok bermain secara bergiliran dari satu pos ke pos lainnya. Dengan sistem ini, semua murid bisa merasakan setiap permainan yang ada.

Nah, di tiap posnya telah disiapkan bermacam-macam permainan yang pastinya seru dan nggak akan ngebosenin. Para murid begitu antusias berpindah dari satu pos ke pos berikutnya sambil mencoba tantangan baru dari tiap permainan. Kira-kira, ada permainan apa saja ya di 10 pos tersebut? Yuk, kita lihat daftar lengkapnya!

-          Pos 1 : Congklak

-          Pos 2 : Oray-orayan (Ular Naga)

-          Pos 3 : Sondah (Engklek)

-          Pos 4 : Jajangkungan (Egrang)

-          Pos 5 : Perepet jengkol, Cingciripit, Paciwit2 lutung

-          Pos 6 : Kaleci (Kelereng)

-          Pos 7 : Sarodot Gaplok

-          Pos 8 : Sapintrong (Karet)

-          Pos 9 : Damdas

-          Pos 10: Papanggalan (Gasing)

Beberapa murid ternyata masih ada yang belum pernah mencoba beberapa permainan tersebut. Tapi tidak perlu khawatir, karena tim TGR di setiap pos selalu menjelaskan dan memperagakan cara bermainnya terlebih dahulu. Hal ini membantu para murid lebih mudah memahami aturan dan alur permainan. Dengan begitu, semua bisa ikut bermain dengan nyaman dan menikmati keseruannya.

Menariknya, ada juga murid yang sudah pernah memainkan permainan-permainan tersebut sebelumnya. Bahkan, mereka terlihat cukup mahir saat bermain. Mereka juga ikut menyemangati teman-temannya agar berani mencoba. Suasana pun terasa semakin hidup karena semua saling mendukung dan menikmati setiap permainan bersama.

“dari dulu aku sering main itu (congklak) dan sampe sekarang ga pernah bosen” ucap salah satu siswi kelas 11, Zia, saat diwawancarai oleh tim TGR.

Momen makin terasa seru saat para guru ikut turun langsung bermain bersama murid-murid, terutama di pos Sapintrong (Karet). Suasana langsung jadi lebih hidup karena tawa dan semangat mereka yang ikut mencoba. Beberapa guru bahkan bercerita kalau dulu waktu masih muda, mereka jago banget main permainan ini.


“Ini mah dulu saya jago banget main ginian,” ujar salah satu guru sambil tertawa, seolah ikut terbawa nostalgia.



Bermain di Lapangan 

(Dokumentasi TGR Community, 2026)

 

 

Capek, tapi happy!

Sesi bermain berlangsung sekitar satu setengah jam dan benar-benar penuh keseruan. Setelah itu, para murid diberi waktu untuk istirahat sejenak sebelum masuk ke sesi penutup. Meski terlihat lelah, wajah mereka tetap dipenuhi senyum. Ada yang langsung minum, ada juga yang santai sambil jajan di kantin.

Tim TGR juga ikut istirahat dan jajan snack di kantin. Suasana tetap santai dan hangat, semua menikmati waktu istirahat dengan caranya masing-masing. Kebersamaan yang terbangun di momen ini terasa begitu menyenangkan.


Sebagai penutup, kegiatan diakhiri dengan sesi foto bersama tim TGR, para guru, dan seluruh murid. Semua langsung bersiap dengan senyum terbaik di depan kamera. Momen ini jadi penutup yang manis dari rangkaian kegiatan hari itu. Foto-fotonya pun pasti bakal jadi kenangan yang nggak dilupakan.


Foto Bersama   

(Dokumentasi TGR Community, 2026)

 

Bu Rani, selaku ketua pelaksana dari acara ini memberikan kesannya selama acara serta pesan untuk TGR kedepannya. Beliau mengatakan bahwa beliau sangat terkesan dengan antusias para murid selama acara berlangsung walaupun panas matahari cukup menyengat.

“anak-anak keliatan antusias banget walaupun panas-panasan bermain di lapangan. Mungkin bagi mereka (anak-anak) ini merupakan hal yang baru karena kan permainan tradisional ini sudah jarang dipermainkan lagi.” Kesan Bu Rani saat diwawancarai tim TGR

Bu Rani juga berharap untuk TGR agar selalu mempertahankan kegiatan ini kedepannya,

“pesannya mungkin permainannya di upgrade lagi dibanyakin lagi. Kalau untuk alat-alatnya sudah lengkap banget sih. Pokoknya TGR harus tetap ada jangan bubar ” Pesan Bu Rani

Zia yang merupakan salah satu siswi kelas 11 juga mengungkapkan kesannya terhadap kegiatan ini. Zia mengatakan bahwa ia dapat banyak pelajaran dari bermain permainan tradisional.

“hari ini tu bener-bener fun banget. Aku jadi belajar kalau permainan tradisional itu bukan cuma buat seru-seruan aja tapi aku dapet banyak banget pelajaran positifnya” Ucap Zia.

Nah sobat TGR, Dengan adanya acara ini, kehadiran TGR tidak hanya berhasil memperkenalkan kembali permainan tradisional khas budaya Sunda kepada para murid, tetapi juga menjadi momen berharga bagi para guru untuk bernostalgia. Kegiatan ini menunjukkan bahwa permainan tradisional tetap relevan dan mampu menghadirkan kebersamaan lintas generasi.

Suasana hangat, tawa, dan semangat yang tercipta sepanjang acara menjadi bukti bahwa budaya lokal bisa tetap hidup dan dinikmati bersama. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus diadakan agar warisan budaya tidak hanya dikenang, tetapi juga terus

Nah, untuk Sobat TGR yang ingin berkolaborasi dengan kami, mulai dari menjadi pengisi acara, tenant hingga narasumber, hubungi kami dengan klik tautan ini ya!

Yuk, ikuti terus keseruan kegiatan TGR lainnya! Lupakan Gadget-mu, Ayo Main di Luar!

Writer : Tsania

Editor : Samuel Wangsa

Graphic Designer : Diana Elysia

Komentari Tulisan