Hi, Sobat TGR! Huft, menjadi orang tua ternyata tidaklah mudah ya? Apalagi ketika anak mulai menginjak golden age, karena pada usia tersebut merupakan masa yang paling penting dalam rentang kehidupan seorang anak.
Ya, bisa pada periode ini, dapat dibilang sebagai masa penentu bagi perkembangan anak selanjutnya. “Lho kok gitu, emang kenapa sih?”
Hal ini karena semua aspek dalam hidup anak pada periode golden age seperti nutrisi, stimulasi, pendidikan, serta kasih sayang akan mempengaruhi seluruh perkembangan si buah hati hingga dewasa nantinya. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk memperhatikan setiap proses perkembangan anak.
Ada beberapa hal yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak di usia dini di antaranya ada genetika, lingkungan, jenis kelamin, nutrisi, serta pola asuh. Mengapa? Karena hal-hal tersebut disebabkan oleh dampak yang dapat diserap secara sadar atau sistem bawah sadar manusia (Asri, 2011).
Nah Sobat TGR, seperti yang telah dijelaskan bahwa pola asuh merupakan salah satu faktor penyebab pertumbuhan dan perkembangan anak di usia dini. Pola asuh sendiri berperan sebagai pendidikan pertama yang didapatkan anak dari orang tua mereka.
Ya…walaupun memang, setiap orang tua memiliki pandangan masing-masing terkait pemilihan pola asuh yang akan diterapkan ke anak mereka. Kebanyakan dari orang tua, menerapkan pola asuh yang mereka terima dahulu ketika masih menjadi anak-anak, atau bahkan memilih kebalikannya karena merasa kurang baik.
Ada kalanya ketika orang tua dahulu mengalami pola asuh yang terlalu keras dan mereka tidak memiliki kebebasan (pola asuh “VOC”), tak jarang dari mereka tidak ingin anaknya kelak mengalami hal yang sama. Oleh karena itu mereka menerapkan pola asuh yang cenderung lebih bebas, bahkan terlalu bebas dan tanpa pengawasan.
Nah, jenis pola asuh seperti ini bisa disebut pola asuh permisif. Pola asuh yang memberikan kebebasan penuh kepada anak tanpa pengawasan ketat.
Jika anaknya salah, maka respon dari orang tua yang menerapkan pola asuh ini adalah “Wajar salah, namanya juga anak-anak!” Kira-kira seperti apa sih pola asuh permisif ini dan bagaimana dampaknya? Jangan ke mana-mana, yuk simak penjelasannya!
Menurut Nilam (2003) pola asuh permisif, adalah pola asuh yang mana orang tua berusaha berperilaku menerima dan bersikap positif terhadap impulsif, keinginan-keinginan, dan perilaku anaknya. Berusaha mencapai sasaran tertentu dengan memberikan alasan, tetapi tanpa menunjukkan kekuasaan. Pola asuh permisif merupakan istilah lain dari permissive parenting.
Orang tua yang menerapkan pola asuh permisif, sering kali ragu-ragu untuk mendisiplinkan anak-anaknya dan mereka percaya bahwa hal itu dapat merusak harga diri sebagai “orang tua” atau hubungan dengan anak. Mereka juga sering mengalah pada tuntutan anak-anak, dengan harapan menghindari konflik atau mempertahankan lingkungan yang damai di rumah.
Alasan yang paling sering dikemukakan oleh para orang tua yang menerapkan pola asuh permisif, adalah kurangnya waktu untuk mengawasi anak-anak mereka karena kesibukan sehari-hari. Mereka menilai bahwa alasan tersebut sangatlah wajar dan masuk akal, biasanya sih seperti ini: “Kita sebagai orang tua itu sibuk bekerja untuk menafkahi anak, capek dong kalau juga ikutan mengawasi mereka?”
Ilustrasi Orang Tua Sibuk dengan Kesehariannya
John W. Santrock, seorang cendekiawan terkemuka di bidang psikologi perkembangan mengklasifikasikan pola asuh permisif menjadi dua jenis. Pengelompokan ini bertujuan untuk membantu memahami perbedaan dalam pendekatan permisif, serta dampaknya pada perkembangan anak.
Pola asuh indifferent adalah gaya pengasuhan di mana orang tua cenderung tidak terlibat atau kurang responsif terhadap kebutuhan anak mereka. Tipe ini diasosiasikan dengan inkompetensi anak secara sosial, khususnya kurang kendali diri.
Faktor yang mempengaruhi orang tua menerapkan pola asuh permisif indifferent ialah karena adanya pengalaman masa lalu, pengalaman pribadi orang tua, dan pendidikan orang tua. Bagi orang tua yang menerapkan pola asuh permisif indifferent, kebutuhan anak seringkali tidak menjadi prioritas utama dalam hidup mereka.
Pada pola asuh ini, orang tua lebih membebaskan anak-anaknya bermain di mana saja termasuk di luar. Mereka yang menerapkan pola asuh permisif indifferent sering tidak ingin ikut campur dengan permasalahan anak, bahkan ketika anak mendapatkan masalah sekalipun.
Berbeda dari sebelumnya yang mana orang tua melepas anaknya dengan bebas tanpa menunjukan kepedulian, pola asuh permisif kali ini orang tua sangat terlibat dalam kehidupan anak mereka, yaitu pola asuh permisif indulgent. Maccoby & Martin, 1983 dalam Santrock (2002) menjelaskan bahwa permisif indulgent sebagai suatu gaya pengasuhan di mana orang tua sangat terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka, tetapi memberikan terlalu banyak kebebasan dan sedikit kendali.
Orang tua dengan pola asuh permisif indulgent akan menuruti semua permintaan anak dan memanjakan mereka. Berbeda dengan pola asuh sebelumnya, pada pola asuh ini orang tua seringkali kesulitan mengatakan "tidak".
Dalam pola asuh ini, anak diberi kebebasan penuh untuk menentukan pilihan dan mengungkapkan keinginan mereka. Orang tua membiarkan anak-anak melakukan apa saja yang mereka inginkan. Beberapa orang tua dengan sengaja mengasuh anak-anak mereka dengan cara ini, karena mereka yakin dengan kombinasi keterlibatan yang hangat serta sedikit tekanan, maka akan menciptakan suasana keluarga yang damai dan tentram.
Padahal, di kemudian hari anak bisa saja lho mengalami kesulitan mengendalikan perilaku mereka dan selalu mengharapkan kemauan mereka dituruti. Berbalik dengan pola asuh permisif pada umumnya, anak yang diterapkan menggunakan pola asuh ini cenderung menunjukkan bahwa ketergantungannya pada orang lain, sulit dengan menghadapi kekecewaan, dan kurangnya empati kepada orang lain.
Sehingga, orang tua perlu menyadari potensi risiko dan berusaha untuk menyeimbangkan kasih sayang dengan batasan yang tepat ketika menerapkan pola asuh permisif indulgent. Nah, setelah mengetahui pola asuh permisif secara menyeluruh dan jenisnya, kurang lengkap rasanya jika tidak mengetahui dampaknya.
Orang tua yang menerapkan pola asuh permisif pastinya memiliki alasan tersendiri dan pastinya tidak menginginkan hal yang buruk. Namun, penerapan pola asuh permisif tentunya memiliki berbagai risiko yang serius bagi anak, lho Sobat TGR! Berikut dampak pola asuh permisif bagi anak:
Pola asuh memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan anak, termasuk dalam hal prestasi akademik. Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang mendukung cenderung memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi. Sebaliknya, pola asuh permisif yang mana kurangnya batasan dan harapan dari orang tua, dapat berdampak negatif pada prestasi akademik anak.
Driscoll (2013) menjelaskan bahwa prestasi akademik yang rendah umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain orang tua kurang memberikan pengarahan, tidak membimbing anak dalam mencapai tujuan, dan kurang menanamkan rasa tanggung jawab terhadap kewajiban. Faktor-faktor ini berujung pada rendahnya motivasi berprestasi anak, karena orang tua yang menerapkan pola asuh permisif tidak mempunyai ekspektasi atau goals yang dapat membantu anak untuk mencapai mimpi mereka.
Akibatnya, anak menjadi kurang termotivasi dan kehilangan arah dalam meraih masa depan. Padahal, peran orang tua adalah membimbing anak agar memiliki tujuan yang jelas, bukan membiarkan mereka tanpa arahan.
Orang tua yang menerapkan pola asuh permisif pada anak, akan memberikan kebebasan untuk melakukan apapun yang anak mau. Sehingga anak-anak seringkali sulit mengelola waktu sendiri dan lebih banyak bermain tanpa adanya disiplin dari orang tua.
Hal ini membuat mereka lupa akan tugas dan kewajiban sebagai anak, karena sulit untuk mengelola waktunya sendiri. Katakanlah nih Sobat TGR, di saat mereka harus sekolah…Eh mereka gak mau berangkat dan lebih memilih untuk bermain.
Ilustrasi Anak Sulit Mengelola Waktu
Pola asuh permisif menjunjung tinggi kebebasan, sehingga mereka terkadang hal ini menyebabkan kebingungan untuk mengambil keputusan pada anak. Padahal anak-anak butuh bimbingan, arahan, dan peran orang tua ketika mereka dalam masalah atau ketika hendak mengambil keputusan. Jika terus menerus terjadi, mereka akan mengalami kondisi sosial yang buruk.
Ilustrasi Anak Sulit Mengambil Keputusan
“Dampak-dampak tersebut kan hanya kemungkinan aja, belum tentu terjadi. Lagian kami gak peduli sih, bagi kami pola asuh permisif merupakan yang terbaik karena anak memiliki kebebasan!”
Iya Sobat TGR boleh kok, tapi perlu diingat bahwa pola asuh itu tidak ada yang paling benar. Mungkin daripada memberi anak kebebasan penuh tanpa arahan, lebih baik mengombinasikannya dengan pola asuh yang lain seperti:
Jadi, pola asuh permisif tidak sepenuhnya memberikan dampak yang kurang baik bagi anak, akan tetapi faktor lingkungan juga perlu diperhatikan. Diharapkan orang tua dapat memberikan perhatian dan kasih sayang sepenuhnya kepada anak.
Dengan adanya kombinasi dari pola asuh permisif dengan pola asuh lainnya, maka orang tua tetap dapat memberikan kebebasan serta juga tetap dapat membimbing anak mereka menjadi pribadi yang lebih baik nantinya. Karena, orang tua perlu memberikan kesempatan pada anak untuk belajar mengembangkan diri dengan terus memotivasinya, memantau kegiatannya, dan tetap berusaha memahami perasaan mereka.
Nah, itu dia pembahasan mengenai pola asuh permisif! Ternyata ada juga ya pola asuh yang seperti ini. Sobat TGR perlu ingat nih bahwasanya tidak ada pola asuh yang perfect, maka dari itu pilihlah dengan bijak. Lupakan Gadget-mu, Ayo Main di Luar! (LYA/ed.KA)
Bagi Sobat TGR yang tertarik bekerja sama dan ingin berkolaborasi dengan kami, mulai dari menjadi pengisi acara, tenant hingga narasumber, hubungi kami dengan klik tautan ini ya, Sobat!
Writer: Putri Lya Karunia
Editor: Kirana Aulia Mecca S
Graphic Designer: R. Harvie R. B. R
QC/Publisher: R. B. R
Ayun, Q. (2017). Pola Asuh Orang Tua dan Metode Pengasuhan dalam Membentuk Kepribadian Anak. ThufuLA: Jurnal Inovasi Pendidikan Guru Raudhatul Athfal, 5(1), 102. https://doi.org/10.21043/thufula.v5i1.2421
Batra, S. (2013). The Psychosocial Development of Children: Implications for Education and Society — Erik Erikson in Context. Contemporary Education Dialogue, 10(2), 249–278. https://doi.org/10.1177/0973184913485014
Dra. M.M. Nilam Widyarini ; M. (2013). Relasi OrangTua Dan Anak. Elex Media Komputindo.
Hintia Wahyuni Puspita Sari (2020). Pengaruh Pola Asuh Otoriter Orang Tua Bagi Kehidupan Sosial Anak. JPDK: Vol. 2(1). https://doi.org/10.31004/jpdk.v2i1.597
Makagingge, M., Karmila, M., & Chandra, A. (2019). PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PERILAKU SOSIAL ANAK (Studi Kasus Pada Anak Usia 3-4 Tahun di KBI Al Madina Sampangan Tahun Ajaran 2017-2018). YaaBunayya Jurnal Anak Pendidikan Usia Dini,3, 115–122. https://doi.org/10.24853/yby.3.2.16-122
Pahlevi, R., Utomo, P., & Septian, M. R. (2022). Orang Tua, Anak Dan Pola Asuh: Studi Kasus tentang Pola layanan Dan Bimbingan Keluarga terhadap Pembentukan Karakter Anak. Jurnal Hawa : Studi Pengarus Utamaan Gender dan Anak, 4(1), 91. https://doi.org/10.29300/hawapsga.v4i1.4741Sri Asri, A. (2018). Hubungan Pola Asuh Terhadap Perkembangan Anak Usia Dini. Jurnal Ilmiah Sekolah Dasar, 2(1), 1. https://doi.org/10.23887/jisd.v2i1.13793
Santrok, J. (2012). Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup, Edisi Ketiga Belas Jilid I, Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama
Sri Asri, A. (2018). Hubungan Pola Asuh Terhadap Perkembangan Anak Usia Dini. Jurnal Ilmiah Sekolah Dasar, 2(1), 1. https://doi.org/10.23887/jisd.v2i1.13793
Wong, M. S., Mangelsdorf, S. C., & Charney, S. L. (2020). Independence/Dependence. In Encyclopedia of Infant and Early Childhood Development. https://doi.org/10.1016/B978-0-12-809324-5.21209-1
Traditional Games Returns Tgr Parenting Parenting Pola Asuh Anak Jenis Pola Asuh Pola Asuh Permisif Dampak Pola Asuh PermisifMitra Kolaborasi:
Copyright © 2017 - 2026 Traditional Games Returns All rights reserved.